Monday, 16 October 2017

Di Stasiun Jogja

10/16/2017 04:41:00 pm 0 Comments
Percakapan sore itu dengan Grace membicarakan tentang kehidupan yang akan kami jalani selanjutnya. Aku dan Grace duduk  bersebelahan, melihat orang yang lalu lalang, sesekali aku menatap ke langit yang warnanya semakin kelabu. Tampaknya hari itu hujan akan mengguyur kota Jogja dan sekitarnya.

"Yan, setelah wisuda, nanti kamu mau kerja dimana?"
"Yanti mau nyari kerja di Jabodetabek, Grace"
"Yakin? Serius? Bukannya di Jabodetabek itu kehidupannya keras ya Yan?"
"Iya sih, tapi sumber informasi sangat banyak. Dan sepertinya aku jatuh cinta pada Bogor, Depok, dan Jakarta"
"Hmmm"
"Kamu gimana Grace? Mau jadi apa nanti?
"Aku mau jadi enterpreuner selama setahun dulu Yan, mau fokus ke sana"
"Ohh. Yanti juga banyak banget sih keinginannya. Pengen belajar Bahasa Inggris di Pare juga. Duh tapi gimana ya Grace, umur juga semakin bertambah dari hari ke hari, kita harus memikirkan hal yang lebih penting dibanding impian-impian diri kita"
"Apa itu? 
"Berkeluarga"

Lalu aku dan Grace tertawa renyah. Es krim yang kami makan rasanya masih menempel di lidahku. Aku memilih rasa coklat dan green tea, sementara Grace memilih coklat dan mangga. Tadi aku mencicipi es krimnya Grace, rasa mangganya asam sekali. Untung saja aku tidak jadi memilih rasa itu.

Sepuluh menit sebelum jadwal keberangkatan, aku meminta izin pada Grace untuk menuju pintu masuk, sebab aku sedikit khawatir jika ketinggalan kereta. Grace pun mengantarkan aku sampai di ujung pintu. Lalu seperti biasa, aku memeluknya dan menempelkan pipi kanan dan kiriku di pipinya Grace. Aaah, aku masih merindukan Grace, rasanya belum puas bertemu Grace yang hanya sebentar.

Di stasiun Jogja, aku bertemu dengan empat orang mahasiswa Ilmu Pangan 2015 yang sudah kukenal sebelumnya. Dua orang perempuan dan dua orang lelaki. Dua perempuan yang kutemui menyapaku hangat dan membawakan tasku ke tempat duduk yang akan kami tempati. Kebetulan sekali kami berangkat dengan kereta dan duduk di gerbong yang sama. Tapi tetap saja tempat dudukku jauh dari mereka. Sesampai di dalam kereta, aku mengamankan tubuh mungilku untuk rehat sejenak. Di sebelahku sudah ada Ibu muda yang sedari tadi kulihat sudah nyaman dengan posisi duduknya, lalu Bapak yang di depanku juga dari tadi sudah tidur, hanya saja aku terganggu dengan kehadirannya yang sesekali memperhatikan aku ketika terbangun dari tidurnya. Dengan situasi seperti ini aku berusaha menyamankan diriku dan tidak terfokus dengan apa yang berada di depan pandangan.

Hari itu kutinggalkan Jogja dengan meninggalkan rinduku pula pada Grace. Aku berharap, semoga Grace bisa menghadiri wisudaku nantinya. Aamiin.

Perpustakaan LSI IPB Lantai 2


Wednesday, 4 October 2017

Kapan Nikah?

10/04/2017 03:20:00 pm 1 Comments
Pertanyaan yang akan selalu membuatku mengubah wajah, yang tadinya datar menjadi tersenyum atau sebalikya, yang tadinya tersenyum menjadi datar. Entah mengapa pertanyaan "kapan nikah" itu mampu mengubah ekspresi wajah. Pertanyaan yang sebenarnya bisa dijawab, kalau ingin ya sepertinya ingin segera, secepatnya. Tapi kenyataan di lapangan tidaklah semudah memakan keripik kentang yang krenyes, kriuk kriuk ihihihi...


Tentang jodoh, ia melibatkan masalah prinsip. Harus dipikirkan matang-matang, bukan soal cinta, bukan soal hidup menyenangkan, tapi lebih dari itu, ada dakwah yang harus ditanam bersama. Ada seorang teman yang bertanya padaku, "kenapa sih Yan kamu nggak mau sama Mr X ? Mr X itu kan baik, sudah bekerja, mapan, dan ramah lagi." Aah teman, engkau belum tahu apa yang sedang aku pikirkan soal jodoh. Bukan karena aku pemilih dan mematokkan kriteria yang melangit. Namun lebih sederhana dari itu, yang aku ingin adalah orang yang mampu membimbingku menuju surga-Nya. Aku tahu sendiri seperti apa aku ini. Sudah pasti butuh partner yang bisa bekerja sama untuk menjalankan misi dakwah di zaman yang semakin canggih ini. "Lalu ia sudah ketemu Yan?" Belum -_- 


Sudahlah, aku tak ingin pusing memikirkan itu. Aku ingin fokus menjalani apa yang sedang ada di depan mata. Apa itu? Revisi tesis. Ahahaha. 


Selain itu aku juga ingin mencari pekerjaan di tempat yang kupikir nyaman dan akses informasi mudah didapatkan, sebab aku masih ingin melanjutkan sekolah nantinya. "Yan, kamu sekolah terus, nggak mau nikah dulu?" Ah perkara ini sulit untuk kujawab. Ingin sekali. Tapi jodoh memang belum datang, mau bagaimana? Sudah ikhtiar Yan? Sudah, dalam do'a :D Heheh..

Mau menikah di umur berapa, bukanlah masalah bagiku, tidak ada kata terlambat menikah, sebab ini bukanlah ajang perlombaan. Tujuan hidup kan untuk beribadah kepada Allah menuju kampung akhirat nanti. Selagi masih singel, ibadah yang lain juga masih bisa dikerjakan. Allah tidak mematokkan ibadah pada satu poin itu saja. Mari berlomba untuk meraih ridho-Nya. Apapun yang kita jalani saat ini, ya disyukuri, dinikmati, karena setiap orang punya zona waktunya masing-masing seperti apa pencapaian dalam hidupnya. 

Ada orang yang menikah di usia 22 tahun, namun memiliki anak baru di usia 27 tahun. Ada yang menikah di usia 23 tahun, dan di usia 28 tahun sudah memiliki 3 anak. Bisa diambil hikmahnya bahwa setiap orang memang sudah memiliki zona waktunya masing-masing. Bisa saja ya aku menikah di usia 27 tahun plus berapa bulan gitu (eheheh), dan di usia 28 tahun sudah punya dua anak, kembar, ihihihi. Ini bukan khayalan belaka, tapi harapan. Khayalan dan harapan pastinya beda ya :p Harapan memang terkadang membuat kita tersenyum, semakin optimis menjalani hidup :) Terima kasih harahap, eh harapan :D (qiqiqi) Huhuhu. Semangat, Yanti!

"Misi hidup masih panjang, gapai terus impianmu Nak," kata Ibu.




Saturday, 30 September 2017

Tentang yang Bertahan, Singgah, dan Pergi

9/30/2017 12:32:00 pm 0 Comments
Tiap kali kita menjejakkan kata dengan seseorang, selalu ada saja umpan dari peristiwa itu. Kita tak akan pernah menyangka apakah ia akan bertahan, singgah sebentar, atau pergi begitu saja. Teman yang setia selalu menemani kita di saat hati sedang butuh, mungkin ia pantas disebut dengan sahabat. Lalu ada pula orang yang dalam hidup kita hanya berhenti sejenak, singgah, mungkin ia hanya perlu sedikit dengan kita, lalu kembali melanjutkan perjalanannya. Anggap saja ia adalah tamu yang harus kita jamu dengan ramah. Tak boleh berprasangka aneh, apalagi yang buruk terhadapnya. Biarkan waktu yang akan menyelesaikannya. Mungkin suatu saat ada temu yang tak disangka, ada keperluan juga yang membutuhkannya. Kemudian ada orang-orang yang pergi begitu saja, mungkin ia sempat bertahan lalu pergi. Atau orang yang hanya lewat saja, lalu pergi.

Tentang ketiga hal itu, bukanlah suatu yang harus dipikirkan, namun diselami saja pelajaran darinya. Karena akan selalu ada senyum yang terukir jika hati lapang untuk menerima. Yang paling kuat adalah orang-orang yang bersabar dengan apa yang terjadi pada dirinya, baik saat lapang maupun sempit. Yang paling rapuh adalah yang menyebut penyesalan di atas apa yang ia jalani. Sekarang, ingin memilih yang mana? 


Perpus LSI Gedung B
Akhir pekan ceria

Wednesday, 27 September 2017

Tentang Mata Cinta

9/27/2017 10:58:00 am 0 Comments

Terkadang, jika kesulitan sedang melilit diri yang lemah ini, saya selalu teringat pada kedua mata cinta yang berada di pulau seberang sana, kedua orangtua yang selalu mengkhawatirkan putri bungsunya ini. Mengapa tidak, merekalah yang paling mengerti saya sejak kecil, yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan saya hingga saat ini. Dan tak jarang mata ini basah jika sudah merindu. Ada banyak hal yang sebenarnya lebih berat di sana, kerinduan merekalah yang lebih besar dibanding kerinduan diri ini. Seringkali  saya dapati kabar bahwa ibu saya sakit hanya karena merindukan saya. Sungguh romantis sekali bukan? Begitulah hati seorang ibu. Bayangkan, merindu yang terlalu dalam saja ia bisa sakit. Saya tahu itu adalah bukti cinta kasihnya kepada saya. Namun terkadang ada banyak hal yang harus diselesaikan dahulu sebelum menuntaskan rindu ke kampung halaman.

Kalau dipikir-pikir, banyak sekali pengorbanan orangtua untuk anaknya, bentuknya terkadang membuat mata basah nggak bisa ditahan, hati terenyuh, nggak sampai hati kalau awalnya kita tahu perjuangan mereka.

Ini catatan untuk pengingat diri saya, sebab saya sudah lama tidak bertemu kedua orangtua, terlebih usia mereka sudah semakin senja, dan sebagai anak ada kewajiban untuk berbakti kepada mereka. Jadi saya harus mempercepat revisi agar segera bertemu dengan kedua mata cinta saya. Ya Allah, semoga dimudahkan dan dilancarkan ya proses pengerjaan revisi tesis saya ini T_T


Putri bungsu,
Perpus LSI IPB Lt. 2