Friday, 15 December 2017

Lingkaran Cahaya Sholihah

12/15/2017 12:52:00 am 1 Comments
Terkadang ada kejutan-kejutan bahagia yang membuat kita tersenyum dalam hidup ini. Ada peristiwa yang tak disangka, yang datangnya beberapa tahun yang lalu. Ada sebuah kalimat yang dulunya hanya kita anggap selingan saja, namun ternyata menjadi kenyataan.

Tadi siang saya di sms oleh sebuah nomor yang tidak ada di phonebook handphone saya. Saya pikir sms iseng awalnya, karena hanya ada kata "Asw". Beberapa menit setelahnya saya mendapatkan pesan dari nomor itu lagi yang kalimatnya lebih panjang. Alhamdulillah, ternyata nomor tersebut adalah nomor murobbiyah baru saya. Beliau sempat menanyakan kepada saya kapan ada di Sidimpuan. Lalu bercerita bahwa surat mutasi halaqoh saya ternyata baru sampai tadi pada beliau, dan langsung saja beliau mengajak saya "melingkar" karena memang jadwalnya hari ini. Alhamdulillah, saya tidak lama mendapatkan lingkaran baru di sini, karena sebelum meninggalkan Bogor saya sudah konsultasi dan menginformasikan ke murobbiyah 3 pekan sebelum saya pulang ke rumah.

Sore tadi saya sangat bahagia menuju rumah murobbiyah. Saya berharap bisa berkontribusi untuk dakwah di kota ini. Saya memang betah di rumah dan terbilang anak rumahan, tapi sesekali ingin juga keluar rumah mengetahui apa yang terjadi di sekeliling. Terlebih saya dengar-dengar Rohis sekolah saya sudah tidak sebaik yang dulu lagi. Ketika mendengar berita itu rasanya hati saya sedih, ingin kembali ke sekolah melihat kondisinya langsung.

Pada jam yang telah disampaikan oleh murobbiyah, saya datang dengan mengucapkan salam. Pintu rumahpun dibuka, lalu berkenalan lebih dekat dengan beliau. Saya ternyata masih terbiasa dengan jadwal kampus yang ontime dan khawatir jika terlambat. Sebab, bagi saya waktu itu sangat berharga. Saya sering kasihan pada teman-teman yang telah menunggu saya lama. Karena itu saya selalu mengusahakan untuk datang tepat waktu jika berjanji. Walau terkadang saya masih terlambat juga karena berbagai faktor. Saya maklum dengan suasana tadi yang masih banyak yang terlambat, karena kesibukan tiap orang juga berbeda. Dan satu hal, saya tidak sedang berada di lingkungan kampus lagi dan kondisi ini jelas tidak bisa saya samakan secara sepihak. Jadi, saya sangat memaklumi itu. Terlebih saya sudah berpikir bahwa teman-teman saya pasti sudah ada yang punya anak.

Beberapa menit setelah berbincang dengan murobbi baru yang sepertinya bahagia dengan kedatangan saya (ini mah PD melangit ya :D) satu per satu teman halaqoh saya pun berdatangan. Saya selalu tersenyum melihat ke arah jendela dan menyebutkan nama siapa yang datang. Murobbiyah saya sempat heran mengapa saya mengenali semuanya, dan mereka juga mengenali saya. Di pertemuan perdana ini saya tidak perlu ta'aruf lagi karena semuanya sudah mengenali saya. Beliau sempat mengatakan "Sepertinya semuanya sudah kenal dengan Sri ya, cuma saya yang baru kenal". Saya hanya membalas senyum mendengar ucapan beliau.

Saya sudah mengenali semua teman halaqoh saya, sebab merekalah kakak-kakak yang mengisi mentoring anak Rohis ketika saya SMA. Saya bahagia sekali, amat bahagia. Hati saya histeris ketika mengetahui bahwa saya selingkaran dengan mereka. Mereka itu kakak-kakak yang saya kagumi sejak dulu. Dari mereka saya banyak belajar, baik ketika mentoring Jum'atan maupun sanlat di tiap liburan semester. Dan alhamdulillah, bahagia sekali rasanya melihat mereka yang semuanya sudah punya bayi. Suasana lingkaran ini penuh dengan bayi yang menggemaskan. Tanpa terasa, jadi ingin punya bayi juga. Hehe..

Saya jadi teringat pada momen 2008 yang lalu ketika seorang kakak mengatakan, "Sri, jangan tinggalkan tarbiyah ini ya. Suatu hari kakak pengen kita masih berada dalam barisan ini, dan menunggu Sri ada di lingkaran yang sama dengan kakak". Nyesss banget. Saat itu adalah masa-masa saya harus meninggalkan sekolah karena akan melanjutkan kuliah di Medan. Kata-kata itu terbukti di 2017 ini. Ya Allah, memang benar ya, dinamika halaqoh itu seperti ini ternyata. Murobbi kita yang dulu bisa menjadi teman kita sekarang ini, dan tidak menutup kemungkinan bisa jadi kita yang menjadi murobbi dari murobbi kita yang dulu. Dan bisa berputar kembali. Kita akan belajar dengan murobbi kita kembali seperti dulu. 

Saya merasa sangat tidak ada apa-apanya di lingkaran baru ini. Saya tahu kapasitas, kemampuan, dan jam terbang dakwah teman-teman saya seperti apa. Jadi sempat berpikir dalam hati "apakah saya tidak salah tempat?". Semoga tidak ya, semoga jadi bahan pembelajaran dan motivasi buat saya agar menjadi pribadi yang lebih baik dan menebar kebaikan pula. Dalam jama'ah ini saya rasa ada asas take and give. Jika kita sudah mendapatkan sesuatu, maka apa yang telah kita dapatkan sebaiknya diberikan lagi kepada yang lain, dan seterusnya hingga tak terputus. Saya sering berdo'a agar Allah mengistiqomahkan saya ada dalam lingkaran kebaikan ini, lingkaran yang senantiasa mengingatkan saya tentang betapa pentingnya dakwah, betapa pentingnya meningkatkan dan menjaga ruhiyah, beramal ma'ruf nahi munkar. Sahabat langit, do'akan saya ya :)



@Kota Salak
=kamar hijauku=


Monday, 11 December 2017

Menjejak di Kota Salak

12/11/2017 11:59:00 am 1 Comments
Semangat pagi, Padangsidimpuan. 

Akhirnya saya bisa menginjakkan kaki kembali ke Kota Salak ini setelah beberapa purnama terlewati. Seperti biasa, tidak banyak yang berubah dari rumah ini. Rumah ini tetaplah rumah yang sangat nyaman buat saya bagaimanapun kondisinya. Rumah tua yang sudah dibangun sejak saya berumur 3 tahun. Aah bahagia sekali rasanya bisa berkumpul kembali dengan orangtua. 

Sebenarnya saya sudah ada di Kota Salak ini sejak Ahad dini hari yang lalu, tapi baru bisa membuka notebook kembali hari ini, sebab masih ingin berbicara banyak hal dan melepas rindu pada orangtua saya. Ini adalah pengalaman pertama saya bisa sampai hingga dini hari di rumah. Sebelumnya belum pernah sama sekali. Ini mungkin salah satu ujian kesabaran buat saya, sebab travel yang saya tumpangi beberapa kali berhenti karena ada kerusakan mesin. Yah, akhirnya saya harus mengikuti kondisi yang mengharuskan saya lebih lama di perjalanan. 

Sebelumnya saya ingin naik pesawat agar lebih cepat sampai ke rumah, tapi saya pikir cuaca juga kurang bersahabat, dan harga tiketnya akan menghabiskan honor menulis saya selama 4 kali terbit. Saat itu saya memilih jalur darat karena memang tidak ada yang ingin benar-benar saya kejar seperti jadwal seminar atau hal lain yang membutuhkan waktu yang cepat. Abang saya juga sempat menawarkan,
"Mau dibeliin tiket nggak, Butet?"
"Nggak Bang, Butet ada uang kok"
"Serius? Darimana?"
"Honor menulis, tapi memang nggak seberapa sih"
"Oh ya udah ya, kalau butuh bilang aja"
Hiksss, jadi terharu. Tiba-tiba abang saya semakin perhatian pada adiknya. Hihihih.

Dan sekarang saya sudah mulai beradaptasi dengan kondisi rumah setelah meninggalkan Bogor yang penuh dengan cerita dan perjuangan. Di Bogor tentu saja saya bisa bergerak lebih banyak. Banyak hal yang bisa saya lakukan di sana. Walaupun sudah dikatakan alumni, saya masih bisa menggunakan fasilitas kampus, mengikuti kajian di Alhurr tiap hari, bertemu dengan teman-teman yang masih berjuang dengan akademiknya, dan banyak hal lagi. Di sini saya harus beradaptasi, tinggal di rumah, mengerjakan apa yang bisa saya kerjakan agar tidak sampai bosan. Sebab, jika keluar dari rumahpun saya sudah tidak menemukan teman sepermainan seperti dulu yang bisa diajak keluar atau sekedar diskusi lagi. Kebanyakan di antara teman saya sudah berkeluarga, merantau, atau sudah menemukan pekerjaan yang tetap. Masih ada teman sih di sini, tapi mana mungkin saya mengganggu jam kerja mereka begitusaja. Yah karena kondisi seperti itu, saya harus menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat. Saya ingin memperbaiki diri saya, merenungi dan merencanakan bagaimana dan seperti apa saya di masa mendatang, belajar tentang persiapan-persiapan yang harus saya hadapi. 

Barangkali saya bisa mendaftar apa saja yang harus saya masak setiap hari di rumah, ini mah belajar jadi ibu rumah tangga ya. Hehehe. Tapi sebenarnya, ini harusnya sudah dari dulu saya pelajari. Sebab, bidang keilmuan saya saja di Teknologi Pangan, sudah semestinya saya menerapkan ilmu saya untuk pangan dan gizi yang baik di keluarga. Dan tantangan terbesarnya adalah kebiasaan dan pola pikir yang sudah turun temurun. Belum makan nasi = belum makan.  

Seperti tadi pagi, ketika saya hanya memakan bubur misalnya, ibu saya bilang kalau saya harus makan lagi, sebab yang tadi belum makan namanya. Belum makan nasi = belum makan. Menurut yang saya pelajari, nasi itu index glikemiknya cukup tinggi, jadi kita memang harus mengurangi konsumsi nasi. Saya jadi berpikir bagaimana mengurangi konsumsi beras atau nasi di keluarga ya. 

Kalau kata dosen Kimia Pangan, makanlah apa yang kalian senangi selagi itu masih bisa ditoleransi. Mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG, pewarna, pengawet, dan bahan tambahan pangan lainnya tidak masalah jika masih dalam batas yang wajar, yang sudah ditetapkan. Tapi dosen Biokimia Pangan bilang kita harus makan pangan utuh, makan pangan fungsional, dan sangat tidak merekomendasikan BTP (bahan tambahan pangan). Hehehe.

Satu bidang ilmu, Ilmu Pangan, tapi bertentangan. Saya sendiri nggak saklek soal makanan, yang penting sehat. Saya mengikuti pendapat para peneliti di bidang Kimia Pangan, sebab  riset saya masih ada di lingkaran Kimia Pangan >_< 

Beberapa saat yang lalu saya sempat diskusi dengan salah seorang sahabat saya. Percakapan pun dimulai dengan cita-cita.
"Jadi kamu ini ingin menjadi peneliti di bidang Kimia Pangan, Yan?"
"Pengen"
"Tapi mau jadi penulis juga"
"Hu'um. Tapi saya lebih pengen jadi istri sholihah >_<"

Jadi peneliti dan penulis itu pilihan hidup, tapi jadi istri dan ibu yang sholihah itu suatu keharusan. Jadi apapun saya kelak, saya ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk orang di sekitar saya. Cita-cita yang sederhana, bukan? Saya hanya ingin hidup saya berkah, menuju surga dengannya. Dengannya? Dengan siapa? Ya, seorang Ksatria Langit yang sudah Allah tetapkan untuk saya.


Kampung halaman tercinta
*menjelang Zuhur 

Tuesday, 5 December 2017

Teruntuk Salma

12/05/2017 09:50:00 am 0 Comments
Pagi tadi saya sudah berkemas-kemas menuju Terminal Baranangsiang. Ada rasa sedih harus meninggalkan Wisma Ayu, tapi ada rasa senang juga setelah sekian lama saya akhirnya bisa pulang dengan menuntaskan misi akademik. Sedih karena saya akan merindukan suasana Wisma Ayu yang hangat dengan adik-adik sholihah. Saya akan merindukan sholat berjama'ah, taklim subuh bareng, al ma'tsuroh bareng dengan mereka. 

Duuh adik-adik, saya memang termasuk salah satu senior di kosan, jadi kalau pamit keluar kosan pun, saya selalu membahasakan "Mbak keluar dulu ya adik-adik sholihah". Kadang terkesan sok kakak banget ya, tapi sebenarnya enggak. Saya itu memang pengen banget punya adik perempuan. Soalnya adik saya cuma 1, laki-laki. 

Tadi itu ada rasa yang mengharukan dari seorang adik bernama Salma. Dari sehari sebelumnya udah bilang ke seisi kosan kalau dia sedih akan ditinggal Mbak Yanti-nya. Hehehe.. Saya kan jadi malu dikangenin gitu, padahal belum juga pergi. >_<. Kata-katanya kira-kira begini:
"Salma nggak ada teman cerita lagi kalau Mbak Yanti pergi"
"Salma nanti sama siapa dong Mbak diskusinya, curhatnya"
"Mbak Yanti kok cepat banget sih pulangnya"
"Mbak Yanti ngapain di kampung, di sini aja, kita main dulu ke Masjid Salman ITB, Mbak, yuuk"

Ya Allah, rasanya saya mau nangis juga mendengar kata-kata Salma. Mirip ucapan-ucapan saya ketika kecil ditinggal Ayah pergi ke hutan, karena saat itu ayah saya bekerja di Dinas Kehutanan. Saya hanya bisa balas senyuman untuk Salma, lalu berkata, "Salma, Mbak cuma sebentar kok di kampung, nanti in syaa Allah wisuda datang lagi. Salma yang semangat ya belajarnya. Bulan depan udah UAS".

Salma sampai dua kali memeluk saya pagi ini, seperti nggak mau kalau saya harus pergi. Duuuh, ya Rabb, jadi ikutan sedih.

Belakangan ini saya memang dekat dengan Salma. Terlebih saat Acera sakit, saya lebih banyak di kamar, bukan di Perpus LSI lagi seperti saat menjalani roller coaster tesis yang luar biasa -_-. Tapi saya yakin, Salma bisa kok ceria seperti biasanya tanpa adanya saya di kosan. Salma itu udah semester 5, kuliah di Eksyar, Ekonomi Syari'ah IPB. Saya kadang manggil Salma dengan sebutan"ustadzah" karena kuliahnya di Eksyar. Hehe...

Ini sepenggal kisah yang cukup mendrama pagi tadi. Semoga Salma semakin baik ya di kosan:) Semangat belajar ya adik sholihahnya Mbak Yanti. Salma kalau baca ini jangan jadi nangis. In syaa Allah nanti setelah Mbak ke Bogor kita cerita-cerita lagi. Sekarang, kumpulin dulu ceritanya. Kelak ketika bertemu, ada banyak hal yang harus diceritakan ^_^. Cheers... Semangat!


Bandara Soekarno-Hatta
~Menunggu keberangkatan~


Monday, 4 December 2017

Saatnya Pulang

12/04/2017 10:03:00 pm 0 Comments
Alhamdulillah, hari ini urusan saya di kampus sudah selesai. Saatnya besok pulang ke rumah orangtua, ke kampung halaman tercinta untuk melepaskan rindu pada mereka yang sudah semakin senja di sana. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa pulang setelah melewati dua kali lebaran di rantau orang dengan alasan nggak mau pulang sebelum menyandang M.Si. Hmm, alasan perantau sejati katanya. Hehe..

Saya punya alasan untuk semua yang saya lakukan, insyaAllah. Saya sudah memikirkannya matang-matang kenapa sampai nggak pulang. Saya juga meminta ridho pada kedua orangtua agar diizinkan. Lalu, saya lakukan apa yag sudah saya niatkan. Alhamdulillah, walau perjalanannya gak mulus, penuh onak duri dan buliran air mata, saya tetap berusaha untuk melewati lika likunya. 

Sebelum ke rumah, saya singgah dulu di Medan, ingin bertemu sejenak dengan Bang Zulham, abang kedua saya yang selalu saya rindukan nasihat dan omelannya. Hehe.. Juga sekalian bertemu kakak ipar dan dua keponakan yang semakin lincah dan lucu.

Saya juga ada janji di Medan untuk bertemu teman-teman semasa S1. Saya mau bertemu dengan mereka, karena biasanya saya pulang via Padang atau Pekanbaru karena lebih murah dan dekat dengan rumah orangtua. Selain itu juga pengen bertemu dengan dosen-dosen di USU, yang sudah merekomendasikan saya untuk kuliah di IPB. Tanpa mereka, apalah saya ini. Dan terakhir saya mau ngambil honor menulis saya di Analisa. Memang nggak seberapa sih, tapi setidaknya saya ingin menghargai hasil karya saya saja. 

Kepulangan saya kali ini betapa sangat membahagiakan kedua orangtua saya. Akhirnya putri bungsu yang mereka nanti-nantikan kehadirannya akan pulang. Dua kali lebaran menahan rindu mungin bukan suatu hal yang mudah bagi orangtua saya, pun demikian dengan saya. Tapi saya berusaha untuk tegar, tidak menunjukkan kalau saya sedih di rantau orang. Menurut saya, do'a yang dilangitkan mampu memeluk rindu itu sendiri. Percaya kan? :) 

Besok saya sudah harus berangkat dari Dramaga setelah subuh. Saya mengestimasikan sampai Soekarno-Hatta jam 9 pagi. Semoga perjalanan besok diberkahi Allah ya, dan kondisi saya sehat sampai Medan. Belakangan ini saya tidak terlalu berselara makan, mungkin karena terlalu banyak pikiran ya. Semoga semua kondisi baik-baik saja. Ini bagian dari perjalanan hati dan perjalanan rasa. Semangat Yanti, semangat!


@ Wisma Ayu
kamar merah muda