Sunday, 2 July 2017

Yanti Mudik ke Jogja?

Sebelumnya banyak yang bertanya pada saya, 

"Yanti ngapain mudik ke Jogja?"
Jawaban saya hanya "Diajak Zhi", sambil menunjukkan senyum termanis. Semanis ketika saya bertemu dengan si dia. Huehehehe. Ketemu aja belum, siapa sih yang dimaksud? -_-

Lalu ada pertanyaan semacam ini:
"Mbak Yanti bukannya orang Medan ya?"
"Iya" (tersenyum)
"Terus, kok mudiknya malah ke Jogja?"
"Iya, saya kali ini mau ke Jogja, boleh kan?"
Lalu, yang bertanya jadi bingung.

Pertanyaan yang lebih parah:
"Mbak Yanti ke Jogja mau ta'aruf ya?"
"Hah?" (nunjukin wajah kaget)
Lalu saya jawab, "Saya nggak kepikiran harus nemuin ikhwannya sampai ke Jogja. Ikhwannya dong yang nemuin orangtua saya" -_- 

Ada banyak orang yang heran kenapa saya ke Jogja. Baiklah, akan saya luruskan pertanyaan-pertanyaan itu di sini.

Semua ini berawal dari kos. Alhamdulillah ya di kosan saya itu nuansanya udah seperti keluarga banget. Kalau ada apa-apa, kita saling berbagi, saling memberi. Sholat wajib berjama'ah, taklim subuh, sampai jadwal menanak nasi kita jadwalkan bersama.  Jadi ceritanya, ada seorang warga kos yang mengetahui bahwa saya tahun ini nggak mudik, mungkin dia merasa nggak nyaman, dia nggak mau kalau saya sendirian. Mungkin menurutnya sendiri itu menyedihkan. Lalu, dia pun mengajak saya untuk berbicara dari hati ke hati. Kira-kira percakapannya seperti ini:

"Mbak Yanti kenapa nggak mudik?"
"Hmm..."(mikir jawaban yang indah), *lalu jawabannya cuma tersenyum*
"Mbak Yanti mungkin kayak aku, nggak mau pulang kalau belum kelar studinya. Tapi aku nggak bisa Mbak, soalnya kan dekat, nggak kayak Mbak Yanti yang jauh"
"(saya masih tersenyum, saya bahagia, ternyata dia tau apa yang saya rasakan)"
"Yuk, ikut aku aja Mbak ke Jogja. Kasihan Mbak Yanti sendirian di sini. Kita i'tikaf di sana Mbak. Ngapain coba di Dramaga. Sepi."

Awalnya saya berpikir, saya tidak akan apa-apa jika sendirian di kosan, sebab saya sudah terbiasa sendiri. Untuk manusia introvert seperti saya, itu hal yang biasa, saya tidak akan stress jika sendirian. Justru terkadang saya butuh kesendirian untuk melakukan banyak hal. Tapi pikiran saya juga berkecamuk, hati saya bilang "Kamu ikut aja, sekalian i'tikaf di Jogja. Di Bogor nggak ada program i'tikaf akhwat kayak di Jogja". Dua hari saya berpikir ulang, dan akhirnya saya memberanikan diri untuk meminta izin ke orangtua di Padangsidimpuan kalau saya akan ke Jogja.


Seperti biasa, orangtua saya menanyakan banyak hal seperti, 

"Kamu nanti sama siapa di sana? "
"Di sana ngapain?"
"Di Bogor nggak bisa i'tikaf ya?"
"Nanti sahur kamu gimana?"
"Teman kamu baik nggak?"
"Naik apa ke sana?"

Lalu jawaban dari semua pertanyaan itu akhirnya berhasil meluluhkan hati orangtua saya. Kata Papa, "yang penting kamu baik-baik aja di sana nak, jaga diri ya". Saya paham, sebagai anak perempuan paling kecil di keluarga, pastilah Papa sangat mengkhawatirkan saya. Saya yang dulu terbiasa dimanja, terus ketika pergi kemana-mana mereka belum percaya. Saya yang terlihat polos di mata mereka, takut dengan tindak kriminal. Semuanya hanya kekhawatiran pikiran orangtua saya. Padahal saya merasa sudah sangat mandiri di luar rumah. Aah Papa, saya tahu Papa sangat mencintai saya. Tapi saya bukan lagi gadis kecil yang baru beranjak dewasa, Pa. Saya sudah 27 tahun *ups *tutup wajah. Usia yang sudah matang.


Yah, alhamdulillah. Akhirnya saya ikut dengan Zhi ke Jogja. Saya dan Zhi sudah merencanakan seperti apa agenda kami selama di Jogja. Jadi tidak ada waktu yang sia-sia, in sya Allah.


Pejuang tesis,
GFM-FMIPA-IPB 

No comments: