Thursday, 13 July 2017

Merindukan Ibu


Kalau saya pikir-pikir, waktu saya bersama orangtua tidaklah begitu banyak. Apalagi setelah saya memiliki teman bermain. Waktu kecil saya sering dititip di rumah tetangga, sebab Ibu harus bekerja di sekolah. Ibu saya seorang guru. Lalu ayah saya bekerja di Dinas Kehutanan Natal. Yang saya tahu waktu itu ayah pulang di tiap akhir pekan, karena kantornya jauh dari rumah. Saya dititip hingga ibu selesai mengajar. 

Sewaktu SD saya sudah memiliki teman-teman bermain. Kulit saya ketika kecil lebih gelap dibanding sekarang. Bukan karena saya perawatan ekstra ya. Ahahaha. Saat ini pun kulit saya bukan putih, tapi kuning langsat. Saya sering menangkap belalang dan capung di rerumputan dekat sawah tetangga. Saya juga sesekali main kelereng dengan adik-adik tetangga di dekat rumah. Lalu bermain lompat tali, bongkar pasang, dan masak-masak di kebun depan rumah milik keluarga. Saya jarang sekali curhat pada orangtua. Orangtua saya juga sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kelima anaknya. Namun, sesibuk apapun orangtua saya, mereka selalu memantau aktivitas anak-anaknya dan mencatat perkembangannya. Saya juga sering ditanya oleh Ibu apakah ada PR di sekolah atau tidak. Ibu saya seorang guru, tentu beliau sangat konsen dengan akademik anak-anaknya.


Saya cukup berbeda dengan keeempat saudara saya. Saya anak ke-4 dari lima bersaudara. Jarak usia saya dan abang (anak ke-3) selisih 6 tahun, dan jarak usia saya dan adik laki-laki saya 5,5 tahun. Sementara jarak abang pertama saya dan kakak kedua hanya 1 tahun, jarak kakak kedua dan abang ketiga sekitar 3,5 tahun. Jadi, dengan kondisi ini tentulah saya sempat menjadi putri bungsu yang selalu dimanja. Saya akhirnya memang manja dan cengeng. Namun melihat perkembangan saya yang kurang baik di antara semua saudara saya, akhirnya ibu menyekolahkan saya ke Bukit Tinggi (Sumatera Barat) sejak kelas 4 SD. Ibu selalu bilang, "Kamu di sana belajar mengaji ya Nak, agar bisa mengajari Ibu nantinya". Ternyata di balik itu semua Ibu juga mendidik saya agar mandiri dan tidak cengeng. Tanpa saya sadari, selama saya di Bukit Tinggi, saya mulai belajar hidup sederhana, seadanya, dan mandiri. Saya tidak manja lagi. 

Belakangan saya baru tahu bahwa Ibu selalu bertanya pada orangtua teman saya bagaimana perkembangan saya di Bukit Tinggi. Beberapa bulan sekali Ibu menjenguk saya di asrama. Saya tahu Ibu sebenarnya sedih melepaskan saya yang saat itu baru berumur 9 tahun. Terkadang saya melihat Ibu menangis ketika pulang. Ibu sering tidak melihat saya saat berpamitan. Sebelumnya matanya memang berkaca-kaca. Tapi begitulah cinta Ibu pada saya. Ibu lebih baik menangis sementara waktu daripada menangis di kemudian hari karena tidak bisa mendidik saya dengan baik.

Hari ini saya sedang merindukan Ibu. Saya rindu Ibu. Sejak kuliah saya lebih banyak curhat pada Ibu, baik masalah akademik saya maupun masalah pribadi. Ibu sudah seperti sahabat saya. Ibu sudah semakin senja, usianya 60 tahun, sudah memiliki 6 cucu. Ibu, saya mencintai Ibu karena Allah. Semoga tugas studi saya segera berakhir agar bisa pulang ke kampung halaman, lalu bertemu dengan Ibu.

No comments: