Thursday, 1 June 2017

Ramadhan #6 yang Kurang Tidur


Sumber Gambar: KeywordSuggest.org

Semangat pagi, Juni. 

Juni selalu istimewa buat saya. karena di bulan ini saya dilahirkan dari rahim seorang ibu yang mendidik saya penuh dengan kasih sayang. Di bulan ini saya selalu bermuhasabah agar lebih baik ke depannya, agar menjadi "Zahra yang baik". Dalam bayangan saya, bulan ini selalu diiringi dengan bakcsound musikalisasi puisi Kakek Sapardi Djoko Damono, "Hujan Bulan Juni".



Baiklah, hari ini badan saya rasanya lemas sekali. Sebab, tadi malam saya begadang di kosan teman. Saya menginap di kosannya karena 1 hal, tidak lain karena untuk belajar. Saya ingin menanyakan berbagai hal mengenai pati dan grafik hasil analisis uji lab yang tidak saya mengerti, dan saya tahu dia mengerti mengenai kesulitan saya. Karena itu saya bela-belain begadang hingga pagi di kosannya.

Di sela-sela saya mengerjakan data grafik, untuk mengusir kesenyapan, dia pun mengajak saya sedikit bercerita. Saya tanggapi dengan sesekali melihat ke arahnya ketika berbicara. Saya tanggapi sambil melihat dan menulis data-data grafik saya di Excel.

Ada satu hal yang kami perbincangkan mengenai budaya yang selama ini orang pikir sangat berpengaruh pada karakter seseorang. Saya yakin di antara kita banyak yang beranggapan bahwa si A suku Batak pasti orangnya sangat keras, si B yang suku Jawa orangnya sangat santun dan ramah. Si C suku sunda yang bahasanya sangat halus dengan tutur katanya lembut. Mungkin ini benar, pengaruh suku bisa mencerminkan watak seseorang.

Tapi bagi saya dan Lisa ketika berbincang tadi malam, itu tidak selamanya benar. Ada teman saya yang asli Makassar, sebut saja namanya Mbak Anggrek karena Mbak Mawar sudah terlalu mainstream di kalangan kita. Hehe.. Mbak Anggrek ini tutur katanya sangat lembut, walau ketika dia berbicara kita tahu dari mana daerah asalnya. Terlihat dan terdengar sangat khas dengan bahasa daerahnya. Tapi bagi saya itu bukanlah suatu masalah. Logat atau dialeg tidak menjadi masalah karena sikap dan karakternya masih terlihat sangat lembut. 

Nah, saya kadang berpikir, bagaimana jika dua manusia ditakdirkan untuk bersatu sementara di antara keduanya memiliki suku yang berbeda. Apakah itu menjadi penghalang untuk berbuat kebaikan? Padahal landasan terkuat dalam bangunan rumah tangga itu hanya keimanan. Jika keimanan sudah kuat, suku dan budaya tidaklah menjadi penghalang. Suku itu bukan pembentuk kepribadian manusia. Karena bisa kita lihat sendiri, tidak jarang suku yang sudah kita cap keras atau lembut namun malah sebaliknya. Watak atau karakter itu terbentuk ketika seseorang ingin memuliakan orang di sekelilingnya dengan takwa yang ia miliki, maka karakter Islam nya yang muncul. Ketika seseorang takut pada Allah, maka ia juga akan memuliakan makhluk-Nya dengan sebaik-baik sikap. 

Begitulah sebagian celoteh saya tadi malam dengan Lisa. Pembahasan di sela aktivitas kegalauan mengerjakan data demi data. Pembahasan saya dan Lisa tidak punya kesimpulan yang kuat seperti layaknya tesis. Kami hanya bercerita untuk membuang kesenyapan saat dini hari itu.

Tetiba saya teringat pesan Papa,
"Yang penting seprinsip ya, perbedaan budaya tidak jadi masalah"
Aih, lega rasanya, dan saya pun tersenyum.
Tapi Papa sedang membicarakan apa ya? 
(*saya masih gadis belia yang baru beranjak dewasa*)

Ketika merasa sudah meluapkan apa yang saya rasakan hari ini, tetiba saya ingin tidur, tapi dalam diri berkata "jangan...jangan...manfaatkan waktumu sebaik mungkin" 
 -_-

Di sebelah sekretariat
Departemen Teknik Mesin dan Biosistem

No comments: