Saturday, 10 June 2017

Ramadhan #14 yang Merindu

Sumber gambar: tongkronganislami.net


Hari ini entah mengapa saya merasa rindu pada kampung halaman. Sebabnya, tadi siang saya bertemu dengan seorang adik kelas semasa SMA, Baiquni panggilannya. Saya menitipkan surat keterangan kehilangan KTP saya di akhir tahun yang lalu dan kado milad buat Bang Ady. Kami berbincang beberapa saat tentang akademik, teman-teman di Rohis SMA dan harapan setelah lulus. Yah, perbincangan itu mengalir begitu saja. Saya beberapa kali ingin menangis sebenarnya, tapi itu tidaklah mungkin. Terlalu cengeng. Saya sesekali mengungkapkan proses perjalanan akademik saya. Semoga dia bisa mengerti. Walaupun saya tahu betul, tidak akan ada yang mengerti dengan apa yang saya alami, karena sejatinya orang hanya menjadi pendengar, bukan yang mengalami. Tokoh utama dalam cerita itu adalah saya sendiri, dan lawan bicara saya hanya penonton, yang saat itu posisinya adalah pendengar setia.

Setelah berbincang beberapa saat, akhirnya dia juga pamit untuk pulang. Saya melanjutkan aktivitas saya yang masih terbengkalai. Beberapa saat kemudian, kakak saya menghubungi via facebook. Isinya sangat sederhana, meminta saya untuk pulang. Tapi saya tidak mau kalau belum lulus. Akhirnya saya katakan bahwa saya akan pulang jika sudah sidang. Saya tahu pasti, kakak saya sedih karena saya tidak berkumpul bsersama keluarga Lebaran ini. Ini adalah masalah prinsip, masalah harga diri. Entah mengapa saya merasa mood saya menjadi berubah ketika ada orang yang menanyakan "kapan lulus?". Lebih baik dia bertanya dan memberikan solusinya. Sebagian orang di luar sana bahkan tidak tahu apa yang saya alami, bagaimana proses perjalanan akademik saya. Lantas mereka berasumsi bahwa saya lah yang tidak serius dengan akademik saya. Saya yang terlalu sering bermain-main, jalan-jalan, atau tidak memikirkan orangtua. Di saat seperti itu saya sangat sedih sekali. Tapi semuanya harus dibungkus rapih dengan seulas senyum ketika ada yang bertanya.


Ketika kita bersedih, dunia tak perlu tahu apa yang kita rasakan. Cukup kita dan Allah saja yang tahu. Cukup hati yang berdesir saat itu. Bahkan angin yang ingin mengintip perlahan isi hati kita tak boleh tahu. Haruslah disimpan rapat, agar menjadi rahasia kita saja.

Pejuang Tesis
Perpustakaan LSI IPB



No comments: