Sunday, 19 February 2017

Rindu pada Kakak


Salam rindu untuk kakakku tercinta di Padangsidimpuan. 
Salam rindu untuknya yang juga merindukanku saat ini.

Aku tahu ia merindukanku dari sosial media hari ini. Entah kenapa ketika aku merindukannya, tak lama kudapati juga ia merindukanku. Ketika aku sakit, beberapa kali ia juga merasakan sakit. Seakan ia tahu apa yang sedang aku alami. Mungkin karena kami  satu darah, satu rahim, jadi apa yang aku rasakan juga sering ia rasakan.

Kakakku, namanya indah sekali. Syarifah Ainun Harahap, artinya mata yang mulia ditambah dengan nama keluarga (Marga). Walau orangtuaku menuliskan namanya di akta kelahiran dengan Saripah Ainun Harahap karena ketidaktahuan mereka kala itu. Tapi aku dan kakak tidak pernah mempermasalahkan itu. Kami hanya tersenyum ketika tahu bahwa yang sebenarnya adalah Syarifah, bukan Saripah.

Kak Ainun adalah kakak perempuanku satu-satunya, kupanggil ia dengan sebutan kakak. Sementara kakak laki-lakiku kupanggil dengan abang. Kak Ainun selalu mengalah untukku. Ia banyak sekali berkorban untukku. Jarak usia kami terpaut jauh memang. 10 tahun. Mungkin itu salah satu hal yang membuat ia sering mengalah untukku, karena aku masih seperti anak kecil baginya.


Kami hampir tidak pernah bertengkar seperti halnya kakak adik yang lain. Aku sering sekali mendengar teman-temanku yang bercerita kalau mereka sedang bertengkar dengan kakak atau adiknya. Ya mungkin karena ego mereka sama, usia mereka tidak berbeda jauh. Nah, aku sendiri hampir tidak pernah merasakan bertengkar dengan kakakku, karena ia memang selalu mengalah dalam hal apapun. Aku bahkan sering mendengar kalau ia membanggakanku. Padahal itu semua ada dalam dirinya. Ia memujiku sebenarnya ia lah yang ia puji. Aku merasa tidak seperti yang ia ceritakan pada teman-temannya. Aku merasa ia lebih hebat dibanding aku.

Kakakku adalah seorang guru Fisika SMA di Padangsidimpuan. Waktu SMA, aku sering belajar padanya. Aku paling lemah di Fisika, dan ia sangat ahli di bidang itu. Aku suka Bahasa dan ia tidak suka. Aku lebih suka membersihkan rumah, dan ia lebih suka memasak. Kegemaran kami juga berbeda. Dan ini yang membuat kami saling melengkapi dan saling mengajari.

Aku selalu bercerita apapun padanya, dari hal yang kecil hingga yang besar, bahkan hal yang tidak penting sekalipun aku ceritakan padanya. Walau terkadang pembicaraan kami berakhir pada tangisan anak-anaknya di rumah. Ahaha. Lucu sekali anak-anak itu, keponakan-keponakanku.

Jika aku di rumahnya, ia selalu mengambil kesempatan untuk pergi ke pasar, belanja, arisan atau hal yang lainnya. Ia memanfaatkan keberadaanku di rumahnya. 
"Kok lama sekali datangnya, kak?"
"Tadi ke pasar dulu"
"Ih memanfaatkan aku nih di sini"
"Iya lah, kapan lagi coba. Kamu kan jarang-jarang ke sini"
"Iya deh. Hehe"

Hal yang paling sedih adalah ketika ia menikah. Dalam adat keluargaku, anak perempuan yang sudah menikah tidak boleh kembali lagi ke rumah orangtuanya tanpa izin suaminya. Anak perempuan benar-benar diserahkan ke pihak laki-laki. Sesuai ajaran Al-Qur'an, bukan? Karena aku paham akan hal itu. Aku menangis ketika ayahku menyerahkan tangannya pada abang iparku. Ketika ia dan abang iparku melewati pintu rumah, air matakupun bercucuran. Ayahku juga ikut menangis, tapi tidak sehisteris aku. Aku bahkan menangis hingga malam harinya. Sejak saat itu, memang banyak sekali yang berubah. Kakakku benar-benar tidak bisa leluasa lagi datang ke rumah orangtua kami. Aku kehilangan teman cerita di kala malam hari. Tidak ada lagi yang "ngusilin" aku. Tidak ada lagi teman nonton dan ngemil di rumah. Semuanya berubah ketika kakak menikah. Sejak saat itu lah, aku semakin paham mengapa ayahku sangat pemilih dengan laki-laki. Karena ia harus benar-benar yakin apakah anak perempuannya aman bersama laki-laki lain yang baru ia kenal.

Kakaku selalu ingin yang terbaik untukku. Dulu, ketika ibu dan ayah sibuk bekerja untuk membiayai hidup keluarga, ia lah yang mengambil raporku. Ia selalu ingin aku juara.
"Harus juara ya, aku mau maju ke depan lapangan nanti", begitu katanya ketika ingin mengambil raporku.

Kakak mengajariku banyak hal. Dari kakak aku tahu bagaimana memasak, bagaimana bersikap pada orangtua, bagaimana memuliakan tamu, bagaimana bermasyarakat. Aku ingin belajar banyak hal lagi darinya. 


Kakak...
Aku ingin sepertimu yang tegar dengan berbagai cobaan hidup. Semoga do'a kita saling bertautan ya kak.

Kakak...
Aku mencintamu karena Rabb Yang Maha Penyayang.

Gedung AGH
Kampus IPB 


No comments: