Saturday, 18 February 2017

Rindu, Lagi Lagi Rindu

Terkadang aku tak mengerti mengapa aku tak percaya diri. Aku merasa tak punya keahlian apa-apa. Aku adalah aku yang hanya bisa melakukan apa yang kubisa. Aku hanyalah aku yang berusaha semaksimal mungkin walau hasilnya tidak optimal. Aku ingin sekali membahagiakan keluargaku, terutama ibuku. Orang yang berpengaruh besar dalam hidupku. Orang yang selalu mendukungku. Orang yang selalu berkata tegas dan menaruh kepercayaan yang besar atas kemampuanku.

Maret depan ibu sudah pensiun, artinya aku juga harus berpikir untuk segera lulus dari kampus pertanian negeri ini. Aku ingin segera bekerja di sebuah universitas yang dapat membantuku untuk menyalurkan ilmu-ilmu yang telah kudapatkan. Aku akan mengirimkan kado-kado indah buat ibu jika aku sudah bekerja nanti.

Sekarang aku sudah jauh lebih hemat. Bahkan sehari aku hanya boleh menghabiskan uang Rp. 10.000 saja. Aku berjalan kaki ke kampus. Tidak jajan lagi. Memanfaatkan seminar-seminar gratis dan orasi ilmiah hanya untuk mendapatkan makan siang dan ilmu yang sangat bermanfaat dari guru besar. Aah hidupku ini...Pasti ibuku akan marah jika mengetahui tingkahku yang seperti ini. “Jangan terlalu irit, kalau kurang ibu masih bisa kirim kok”. Aah kata-kata itu selalu membuatku tersenyum. Aku tahu orangtuaku sudah tidak seperti dulu lagi. Ayahku sudah lama pensiun dan ibuku akan pensiun bulan depan. Hanya menunggu waktu saja, tidak lama lagi.

Terkadang aku merasa seperti anak yang kurang berbakti. Sudah umur segini belum bisa memberikan apa-apa pada kedua orangtua. Walau dalam Islam anak perempuan itu tetap akan menjadi tanggungan orangtuanya sebelum menikah, tapi aku rasanya sangat ingin mandiri, tidak bergantung pada mereka lagi. Saatnya aku yang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan mereka di usia mereka yang semakin senja.

Aku sangat merindukan suasana rumah. Ingin bertemu ibu dan ayah. Ingin membantu ibu memasak di dapur. Ingin membantu ayah bekerja di kebun. Ayahku adalah seorang petani yang hebat, pekerja keras. Ia pernah bertanya padaku bagaimana tanaman kakao nya agar tidak diserang hama dan penyakit tanaman. Sebagai mahasiswa pertanian, sudah seharusnya aku menguasai hal itu, walau sebenarnya aku berada dalam lingkup teknologi pertaniannya. Aduhai, bangga sekali rasanya ditanya oleh ayah mengenai pertanian.


Saat ini, aku harus lulus dulu, untuk bisa pulang. Semoga kerinduan ini menjadi semangatku untuk segera lulus. Semangat, Za! ^_^ 


 Dramaga,
Kamar Merah Mudaku

No comments: