Thursday, 23 February 2017

Hujan Sore Ini

Hujan sore ini mengguyur tubuhku yang tengah bersemangat untuk merevisi tesis. Dari Baranangsiang, setelah berdiskusi dengan Pak Awang, aku langsung kembali ke Dramaga untuk mengambil beberapa peralatan laboratorium di koridor Fateta. Hujan hari ini penuh berkah. Di setiap hujan memang selalu ada berkah. Hujan hari ini telah membahagiakanku. Sepertinya hujan tahu bahwa aku sedang bersemangat untuk menyelesaikan tabel, grafik, dan pembahasan yang disampaikan oleh Pak Awang.

Adik kecil yang membawa payung di depan Perpus LSI tadi sampai keheranan melihatku menorobos hujan yang cukup deras. Aku tak peduli. Sebab, hujan sudah turun lebih dari lima belas menit yang lalu, pertanda kadar asamnya sudah tidak ada lagi. Jadi kuberanikan untuk menerobosnya. Aku bahagia berjalan di tengah hujan yang deras tadi.

Di sepanjang Babakan Tengah, aku melewati kios-kios kecil tanpa melihat kondisi kanan dan kiriku lagi. Aku berjalan hingga sampai ke kosan. Basah sekali. “Ya Allah...Mbak Yanti nggak bawa payung ya?”, kata salah seorang penghuni kosan.“Nggak, tadi sengaja memang nggak bawa payung”, jawabku sambil tersenyum.

Salah satu kewajiban mahasiswa IPB memang adalah menyediakan payung di tasnya masing-masing. Bukan mahasiswa IPB yang tak pernah menggenggam payung. Kota ini memang benar-benar kota hujan, kadang hujannya diselingi gemuruh petir yang membuat beberapa jiwa ketakutan. Ketika melangkahkan kaki di kota ini, aku juga disambut oleh hujannya. Benar-benar kota yang romantis.

Hujan datang bersama do’a-do’a. Ia tak datang bersama do’a pula. Di setiap momen wisuda, entah kenapa hujan selalu berhenti sejenak untuk turun. Kupikir, hujan tahu bahwa saat itu keberadaannya belum dibutuhkan :D Banyak do’a dari mahasiswa dan orang tua yang wisuda agar hadirnya ditunda hingga menjelang sore saja. Dan seperti itu ritmenya. Romantis sekali hujan di Bogor.

Hari-hari berikutnya, sepertinya aku harus ekstra keras untuk belajar, menuntaskan mimpiku di kota ini, kota yang akan menjadi titik semangatku mengajar. Terima kasih Ibu dan Ayah, yang telah memberiku izin bisa berkuliah di kota hujan ini.

Dengan segenap cinta,

Pengeja Langit

No comments: