Sunday, 5 February 2017

English

Saat masuk IPB beberapa tahun yang lalu (Uwow berasa udah lama ya :P), ya beberapa tahun yang lalu karena lebih dari satu tahun :D Hmmm.., saya itu kaget banget dengan dosen yang mengajar cas cis cus menggunakan English. Terlebih ketika di mata kuliah perdana, saya dihadapkan dengan dosen tamu yang berasal dari Jepang. Masya Allah, saya gak kebayang kalau S2 itu ternyata njelimet banget -_-. English yang digunakan oleh sensei tersebut sebenarnya cukup bagus, namun bagi saya cukup cepat pengucapannya sehingga saya tidak bisa mengikuti. Jadilah saya hanya menjadi penonton slide presentasinya saja. Saya bisa menangkap apa yang beliau sampaikan hanya melalui tulisannya.

Lalu saat sesi tanya jawab, uwow kekagetan saya berikutnya terjadi. Teman-teman saya ternyata menunjuk tangan untuk bertanya. Dan luar biasa, mereka memahami maksud dari sensei di depan kelas. Sementara saya punya kebingungan yang banyak. Saat itu sensei menjelaskan mengenai Vitamin K. Saya berada di bangku tengah, sehingga perhatian saya meluas. Teman-teman saya ternyata juga sangat mahir menggunakan English, walau aksen Indonesianya masih sangat kental. Tapi, not bad lah. Itu normal.

Lalu, sejak saat itu saya mulai melatih English saya dengan banyak membaca jurnal dan mendengarkan percakapan English dari youtube. Saya sebenarnya sangat ingin kursus English dengan intensif, tapi saya belum punya uang yang cukup. Saya berencana mengumpulkan uang bulanan saya dulu hingga sidang nanti, kemudian saya akan kursus. Saat ini sayasedang mengirit jajan dan hal-hal yang kurang penting dulu. Saya juga berusaha untuk tidak makan ayam dan daging dulu agar menghemat uang bulanan. Ahaha...

Hari ini English saya masih kacau, kelak ketika English saya sudah lebih baik, saya ingin melatihnya dengan menulis menggunakan English di blog ini. Tapi nanti dulu, karena saat ini saya belum siap. Heheh. English itu kucinya kata orang memang practice. Kalau tahu segala halnya tapi gak digunakan, ya sama saja ya tidak bermanfaat, dan lama kelamaan akan semakin hilang ilmunya.

Qodarullah, semester berikutnya kelas saya kedatangan mahasiswa luar negeri, namanya Diego dari Colombia. Awalnya saya tidak ingin berbicara dengan Diego, dan beberapa kali saya hindari karena saya tidak percaya diri menggunakan English saya. Tapi bagaimanapun memang, jika takdir tak bisa juga dihindari. Ahahaha... Saya ternyata mengambil mata kuliah yang sama dengan Diego. Ia pun banyak bertanya di kelas dan luar kelas. Jika ia tidak menemukan dosen, ia bertanya pada saya dan teman-teman. Saya berharap, Diego bertanya kepada teman saya yang lain saja, karena saya merasa tidak bisa menjelaskan yang ia tanya dengan luas dan gamblang. Tapi teman saya suatu hari menyarankan agar Diego bertanya saja pada saya, karena saya dianggap mampu menjawab pertanyaan itu. Lalu akhirnya mau tidak mau saya harus menjelaskan dengan menggunakan English saya yang kacau pada Diego. Beberapa kali saya meminta maaf karena English saya cukup buruk. Tetapi Diego mengatakan kalau dia memahami apa yang saya katakan. Yosh! Hore!

Sejak saat itu saya merasa bahwa English saya tidak terlalu buruk, karena dalam percakapan yang terpenting adalah teman bicara kita mampu memahami apa yang kita sampaikan. Lalu semakin hari saya semakin percaya diri dengan English saya. Setidaknya saya berusaha untuk menggunakannya. Beberapa kali saya memakai google translate untuk menjelaskan beberapa hal pada Diego ketika bertanya. Alhamdulillah, ada aplikasi yang membantu saya T_T Beberapa kali menjelaskan pada Diego, saya sering bertanya apakah ia mengerti apa yang saya maksud dengan kalimat "Did you undestand what I said, Diego? dan dia sering mengatakan, "Yeah, I know". Dalam hati saya mengatakan "Yes, alhamdulillah". Setidaknya saya tahu bahwa English saya tidak terlalu parah -_-

Kehadiran Diego di kelas saya membuat saya semakin rajin belajar English. Karena yang mengambil mata kuliah itu hanya 5 orang, jadi untuk berkomunikasi dengan Diego menjadi sangat sering. Saya merasa punya tugas untuk menjelaskan beberapa hal pada Diego, karena negaranya dan Indonesia memiliki beberapa komoditas pangan yang berbeda. Dan itu harus saya jelaskan padanya. Sejak saat itu, saya merasa ternyata kita bermanfaat jika kita menguasai bahasa. Bahasa Internasional yang ingin saya kuasai itu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris untuk saat ini. Tapi saya juga tengah belajar Bahasa Jepang dan Jerman via online untuk mendukung bahasa saya. Saya senang belajar bahasa. Rasanya bahagia bisa mempelajari bahasa negara lain. Siapa tahu kita punya kesempatan ke luar negeri suatu hari nanti, jadi ada bekal yang dibawa. Tidak perlu belajar dari awal lagi untuk ke sana karena sudah dimulai dari kesenangan saat ini.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Diego yang telah membuat saya berani berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Walau saya sering meminta maaf, "I'm sorry Diego, I don't know how I said in English, but I will try use with example. In Indonesia..bla bla bla..." Dan dia sering tertawa jika saya sudah mengatakan yang demikian. Lalu berkata, "Don't worry, Yanti. Never mind. Ahahah". Aiih, saya malu sebenarnya. Baik, saya akan memperbaiki English saya. Semangat!


Butet,
Wisma Ayu





No comments: