Thursday, 2 February 2017

Berbicara Tentang Impian

Belakangan ini saya dan Zii sering bercerita tentang banyak hal, mulai dari hal yang kecil hingga hal yang aneh bagi kami.Hehehe. Saya dan Zii didekatkan dalam momen per-tesis-an yang belum kunjung usai. Zii selalu menyemangati saya untuk segera lulus, pun demikian dengan yang saya lakukan pada Zii. Tapi Zii tentunya lebih banyak menyemangati saya karena saya lebih terlihat galau luar biasa. Ahahaha.

Hampir setiap hari saya ke perpus LSI, berangkat pagi dan pulangnya malam, hingga LSI ditutup pukul 21.00 WIB. Banyak hal yang saya lakukan di LSI, mulai dari mendowload jurnal hingga mendownolad tausiyah dari beberapa ustadz sebagai pencerahan jiwa yang galau luar biasa ini. Ahahaha...

Saya melihat Zii selalu membuat target dalam bekerja. Dia begitu aktif dan progresif. Saya belajar banyak hal dari dia. Memang Zii ini cerdas sekali. Dia juga lulusan universitas favorit di negeri ini, Universitas Gadjah Mada. Banyak pengalaman yang ia bagikan kepada saya, dan saya mulai ngefans dengan Zii sejak saat itu. Namun walau begitu, ia tetaplah adik mungil yang lucu dan menggemaskan bagi saya. Hehehe...

Saya juga banyak konsultasi mengenai apa yang harus saya lakukan dengan data-data yang sudah saya peroleh. Bagaimana memulainya, lalu bagaimana menghubungkan parameter yang satu dengan yang lainnya. Nah, dengan Zii saya bisa lebih banyak bercerita. Karena gaya bahasanya sangat mudah dimengerti. Maklumlah, Zii ini pernah dinobatkan sebagai mentor favorit loh. Dia ADS (Aktivis Dakwah Sekolah) yang kompeten, berbeda sekali dengan saya yang bukan aktivis apa-apa. 

Zii juga banyak bercerita tentang impiannya. Impian yang bagi saya untuk mencapai itu akan sangat sulit, tetapi saya yakin bagi seorang Zii itu sangat mudah. TOEFL nya sudah mencapai 500 lebih, sementara saya aah sudahlah. Saya masih harus perlu banyak latihan untuk mencapai skor 550 jika harus ke luar negeri. Kalau memakai IELTS, tentu ini juga perlu kerja keras yang ekstra lagi. Tapi Zii selalu menyemangati saya, bahwa saya bisa. Kami bisa. Kami akan menembus skor itu. Yosh! Semangat!

Dari perbincangan dengan Zii, saya menjadi semakin ingin melanjutkan kuliah lagi di luar negeri. Bukan program doctor, tapi masih program master. Kami merasa ilmu yang ada saat S2 ini masih perlu ditambah, belum cukup, tapi memang sudah banyak. Hehehe. Dan kami memang ingin menjelajahi negeri lain di saat masih muda seperti saat ini. Walau saya rasanya sudah tua sih. Heheh... Kalau Zii setahun lebih muda dibanding saya. 

Saya saat ini tidak memikirkan dengan siapa dan kapan akan menikah, biarlah waktu yang membawa saya ke jalan itu. Siapa tahu dengan berimpian ke luar negeri saya menemukan jodoh saya di sana. Ahahaha.. Itu sampai terlintas di benak saya. Banyak mimpi yang belum terwujud dan saya ingin mewujudkan impian itu satu per satu. Terima kasih Zii yang sudah menyemangati saya. 

Saat ini, ngerjain tesis dulu tentunya. Dunia pertesisan ini harus selesai segera mungkin, agar bisa melanjutkan impian yang lainnya.
In sya Allah segera selesai ya Pa, Mak...

Butet,
Ruang Utama Perpus LSI 




No comments: