Sunday, 26 February 2017

Antara Padangsidimpuan dan Padang


Saya ingin sedikit bercerita mengenai asal daerah saya, Padangsidimpuan. Entah berapa banyak orang yang beranggapan bahwa Padangsidimpuan ini asalnya dari Sumatera Barat. Baru saja saya mendapat pesan dari seorang teman bernama Emi, teman saya di Blog of Friendship. Dia mengabarkan bahwa istrinya orang Padang dan beranggapan sama dengan saya. Saya hanya bisa tersenyum, karena bukan hanya dia yang beranggapan demikian. Lalu saya klarifikasi bahwa Padangsidimpuan adalah daerah di Sumut.


Jadi, Padangsidimpuan itu masih di wilayah Sumatera Utara, bukan Sumatera Barat. Jangan terkecoh dengan kata "Padang" -nya, karena ia bukanlah Padang Sumatera Barat. Beberapa teman saya di IPB juga ketika menanyakan dari mana saya berasal, mereka mengatakan "Ooh Padang". Saya biasanya tersenyum dan langsung mengklarifikasi.


Jika saya mengatakan saya orang Medan, jelas saja saya bukan orang Medan. Saya hanya pernah kuliah di Medan selama 5 tahun. Ahaha..Maklumlah, saya ini adalah mahasiswa yang cukup lama masa studinya dengan prestasi yang minim. Ya, 10 semester. 

Ketika banyak orang yang tidak tahu dimana Padangsidimpuan. Saya mengatakan bahwa saya orang Medan. Lalu banyak muncul pertanyaan, "Kok bukan seperti orang Medan?", "Kok muslim?". Awalnya saya ingin tertawa mendengar pertanyaan yang demikian. Ternyata baru saya sadari bahwa masih banyak yang beranggapan orang Medan adalah orang yang tegas, kasar, bersuara besar, dan mungkin makan manusia. Ahahah. Kata yang terakhir saya hanya bercanda ya.

Orang Medan yang digambarkan di televisi memang seperti itu. Itu bukan orang Medan, tapi orang Batak. Sedangkan penduduk asli Medan sebenarnya adalah dari suku Melayu. Tapi entah mengapa sekarang yang menguasai Medan memang justru adalah orang Batak. Baik itu Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Mandailing maupun Batak Angkola.

Saya dibesarkan di Padangsidimpuan, sebuah kota kecil penghasil salak di Sumatera. Berbeda dengan salak dari Sleman, salak Padangsidimpuan rasanya sedikit sepat, getir dan manis. Spesiesnya berbeda, jika salak Sleman adalah Salacca edulis, salak Padangsidimpuan sendiri adalah Salacca sumatrana.

Dulu, ketika saya masih di tingkat 1 perkuliahan, saya sering mendapat ledekan dari senior-senior karena berasal dari Padangsidimpuan. Dulu rasanya seperti diejek gitu karena Padangsidimpuan cukup jauh jaraknya dari Medan. Jika ingin ke Padangsidimpuan melalui jalur darat, maka kita harus menempuh perjalanan 10 hingga 12 jam lamanya. Jadi kadang saya merasa senior itu mengolok-olok saya yang berasal dari daerah kejauhan. Saya hanya bisa tersenyum saat itu. Dalam hati, saya langsung berdo'a, semoga saya yang datang jauh-jauh berkuliah ke Medan bisa bersaing dengan sehat dengan teman-teman yang ada di Medan. Saya tidak ingin sedikitpun marah pada mereka yang mengolok-olok daerah saya, karena saya sangat bangga dengan daerah saya. Daerah saya adalah penghasil salak di Sumatra. Salak yang mereka makan sehari-hari berasal dari daerah saya.

Padangsidimpuan itu walau belasan jam dari Medan tapi adalah sebuah kota kecil. Masyarakatnya baik-baik, ta'at beragama, dan di daerah ini hukum Islam ditegakkan. Setiap siswa muslim yang berasal dari sekolah negeri wajib memakai pakaian muslim maupun muslimah. Yang perempuan wajib memakai rok panjang, lengan panjang dan jilbab. Itu aturan di semua sekolah negeri, mulai dari tingkat SD hingga SMA.

Padangsidimpuan memang jauh dari Medan, Mungkin karena itu orang-orang beranggapan bahwa daerah ini seperti kampung yang tidak ada listrik, tidak ada pusat perbelanjaan yang besar, tidak ada akses internet, dan lain-lain. Padahal, daerah ini cukup maju. Warganya banyak yang sekolah, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Yang kuliah di luar negeri memang adalah orang-orang yang memiliki prestasi selangit dan memiliki kemampuan yang tidak diragukan lagi. 

Terkadang memang sedih ketika mendengar teman-teman saya meledek Padangsidimpuan. Biasanya mereka yang meledek itu justru belum pernah sekalipun ke daerah saya. Tapi lama-kelamaan bersedih juga tidak baik, sebab apalah gunanya bersedih dalam kata-kata yang terlontar. Saya lebih baik membangun diri, menunjukkan prestasi agar mereka yang mengolok-olok juga paham bahwa saya tidak suka diledekin. Itu hanya daerah, makanya saya tidak marah. Jika agama yang diolok, barulah saya marah dan siap perang.

Oh ya, kembali ke pembahasan awal mengenai Sumatera Barat. Saya pernah sekolah di Sumatera Barat, jadi saya paham bahasa Minang. Saya mengerti budaya Minangkabau karena saya mengikuti kelas bahasa lokal saat itu di mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau. Jika ada orang yang berbahasa Minang, saya bisa menjawabnya dengan bahasa Minang sedikit, memang tidak terlalu mahir lagi.. Sekarang saya pasif untuk bahasa Minang.

IPB ini punya keragaman yang luar biasa dengan mahasiswanya. Saya bersyukur diizinkan kuliah di IPB oleh kedua orangtua saya. IPB telah menyatukan mahasiswa dari berbagai penjuru di Indonesia. Beberapa teman yang berasal dari Padang pernah beberapa kali menggunakan bahasa Minang di depan saya, niat mereka sih agar saya tidak paham yang mereka bicarakan, karena memang masalah intern daerah mereka saat itu. Saya hanya tersenyum saat tahu apa yang sedang mereka bicarakan. 

Padang dan Padangsidimpuan bukanlah daerah yang sama atau berada di dalam provinsi yang sama, maka saya selalu menjelaskan pada orang-orang yang keliru mengenai ini.


Salam, 
Butet warga Padangsidimpuan
@koridor Fateta

No comments: