Friday, 13 January 2017

Sendiri

Ada waktu dimana saya ingin benar-benar merasa sendiri. Merenungi banyak kisah yang terjadi. Saya ingin sendiri dan saya suka dengan kesendirian. Karena di saat itu hening, saya akan merasa saya itu benar-benar ada. Di saat sendiri, saya akan merasa bahwa saya mampu berdiri tegak tanpa orang lain yang membantu saya. 

Saya tidak tahu kapan saya akan terus menerus merasa sendiri setelah beberapa kejadian yang saya lewati. Kejadian yang membuat saya mengerti bahwa siapapun saya, saat ini saya adalah seorang anak. Saat ini apapun yang saya lakukan haruslah ada do'a dan komunikasi ke orangtua. Siapapun saya, saat ini saya hanyalah hamba-Nya yang lemah.

Saya tidak mengerti mengapa semuanya bisa terjadi. Yang saya ketahui adalah bahwa ini terjadi pastilah dengan skenario Allah. Allah ingin saya lebih dekat dengan-Nya. Allah ingin saya bertaubat atas kesalahan-kesalahan saya. Allah amat menyayangi saya. Dengan serentetan kesedihan Ia menegur saya dengan amat lembut. Membuat saya semakin kuat, bahwa dalam suatu peristiwa harus ada ibroh yang diambil.

Dalam suatu kejadian, ada hikmah yang tersembunyi. Saya berulang kali berpikir, jika kejadian yang baru saja terjadi tidak menimpa saya, saya akan masih amat sangat jauh dari Allah. Saya akan lebih mementingan perasaan saya dibanding logika saya sebagai hamba.

Saya tahu ini sakit. Tapi Allah lebih murka jika Ia diduakan. Allah lah sebaik-baik tempat berlindung. Jika sedih, sebenarnya tak perlu lah kita menceritakan kepada orang lain, cukup berdo'a, tenangkan hati, maka semuanya selesai.

Di masa itu, mungkin akan sangat bahagia jika terus menerus dilakukan. Tapi ada rencana Allah yang lebih indah, sekalipun itu menyakitkan untuk dijalani. Namun itu adalah keputusan terbaik yang akan dijalani. Dengan begitu ada taubat yang sesungguhnya, sandarannya adalah Allah, bukan manusia. 

Saya merasa, sakit yang sementara ini adalah cara Allah untuk menguatkan saya. Sakit ini tidak akan sembuh sebelum saya benar-benar berusaha dekat dengan-Nya.

Saat ini, tentu saya adalah manusia yang jauh dari kata baik. Saya masih berusaha menata akhlak saya, agar bisa menjadi perempuan yang baik. Saya ingin jadi anak yang shalihah, seperti impian kedua orangtua saya. Di saat ini, di saat saya masih sendiri, di saat saya belum keluarga, saya adalah tanggung jawab kedua orangtua saya. Mereka berhak atas saya. Saya juga ingin berkah dalam hidup ini. Tentu sebagai anak, saya haruslah mengikuti nasihat mereka, apalagi jika nasihat itu adalah nasihat yang baik untuk saya.

Saya sebagai anak perempuan adalah tanggung jawab ayah saya, kakak laki-laki saya, adik laki-laki saya. Saya sudah membuat mereka kecewa berulang-ulang. Saya khawatir dosa saya ini bisa menarik mereka ke neraka. Sebab itu, saya haruslah menjaga diri sebaik mungkin, agar kelak, kami dikumpulkan di syurga-Nya.

Saya terkadang menangis sendiri jika mengingat kesalahan-kesalahan yang saya sembunyikan. Pastilah ayah saya sangat menderita, sakit hati dengan ulah saya jika saat itu dia mengetahuinya. Ayah, maafkan saya. Saya akan membahagiakan ayah, menjadi putri yang shalihahnya ayah.


Ruang Tesis,
Lantai 3 LSI

No comments: