Saturday, 7 January 2017

Fenomena Upload Foto

Beberapa orang pernah bertanya padaku, mengapa aku hampir tidak pernah memperlihatkan wajah secara jelas di sosial media. Dan aku menjawabnya dengan beraneka ragam jawaban. Kadang kujawab serius, untuk orang yang kupikir memerlukan jawaban serius. Lalu terkadang juga sambil bercanda, bukan maksudku untuk bermain-main dengan pertanyaannya, tetapi aku pikir saat itu dia belum siap menerima jawabanku yang sebenarnya. 

Jawaban bercandaku sering sekali seperti ini:
"Untuk apa? Foto yang ditebar kan untuk perempuan-perempuan cantik. Aku merasa nggak cantik, Mbak"
"Aku kan pemalu, nggak PD mengupload foto. Biar perempuan-perempuan cantik kayak mbak aja yang upload foto". :D
Mungkin begitulah aku, walaupun punya sesi Sensing, tetapi feeling juga tetap digunakan. Bagaimanapun, aku perempuan loh, yang dominan di feeling. Heheh... 

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya untuk apa tujuan kita mengupload foto itu di sosial media? Kalau untuk menunjukkan bahwa kita ada di daerah tersebut, diupload aja foto daerahnya. Mengapa harus mengikutsertakan diri juga dalam foto tersebut.

Lalu? Coba deh dipikirkan kembali, kita mengupload diri kita untuk apa? Untuk dilihat, bukan? Tiap orang tentu punya jawaban masing-masing mengenai ini, bahkan sekaliber akhwat sekalipun. 

Jujur saja, ketika melihat perempuan yang mengupload foto wajahnya secara jelas, saya terkadang merasa terkagum, apalagi laki-laki ya. "Masya Allah, cantik sekali", mungkin ada ungkapan yang demikian ketika foto sudah diupload.

Saya melihat fenomena perempuan yang mengupload fotonya di sosial media itu punya lebih banyak followers dibanding yang tidak pernah mengupload foto. Bahkan saya pernah melihat teman laki-laki yang setiap kali ada foto wajah si perempuan itu, dilike olehnya. Sementara foto yang lain, misalnya foto makanan atau pemandangan alam hanya dibiarkan begitu saja. Mungkin hanya dilihat, tidak ada apresiasi 'like' di sana. Heheh..

"Jadi, sebenarnya bagaimana hukum mengupload foto di sosial media?", tanya seseorang padaku. Dengan pengetahuanku yang sangat minim mengenai agama, aku hanya menjawab "Menurutku boleh saja sih, asal tujuannya jelas, tidak mengandung kesan ingin membanggakan diri, tidak ingin memamerkan diri, tidak ada hal-hal seperti itu dan sejenisnya. Namun, jika khawatir ada sifat-sifat itu, maka tinggalkanlah".

Lalu seseorang berkata padaku kembali, "Mungkin yang harus lebih dijaga perempuan-perempuan cantik gitu ya, kalau tidak cantik kan tidak akan ada yang melirik. Ahahah..."

Saya hanya bisa tersenyum mendengar pernyataan itu. Lucu sekali sebenarnya. Yang saya ketahui bahwa nilai estetika itu relatif. Bisa saja perempuan A tidak dianggap cantik oleh B, tetapi C menganggapnya cantik. Jadi memang benar, tidak ada yang tahu siapa yang akan melihat cantik atau sebaliknya.

***

Pekan yang lalu, alhamdulillah, aku diingatkan oleh seorang adik kelas  semasa SMA ketika mengupload foto di salah satu media sosial. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berkomentar di bawah foto itu dengan kalimat "kakakku sayang". Dengan sisi feeling yang kumiliki, yang sebenarnya kurang peka, aku maknai dalam-dalam. Aku berpikir semalaman, lalu paginya aku mengingat sesuatu bahwa sebenarnya aku sudah salah mengupload foto itu. Aku langsung mengambil langkah untuk menghapus foto-fotoku yang masih bertebaran di sosial media. Kemudian aku menyapanya di salah satu akun sosial medianya, mengucapkan terima kasih karena telah mengingatkanku secara tidak langsung.

Untuk foto-fotoku yang diupload oleh teman-teman, jujur saja, aku  merasa belum bisa mengendalikannya. Tetapi untuk teman-teman yang sudah dekat, aku sering berkata, "Fotonya konsumsi kita aja ya, jangan ditebar di sosmed". Dan mereka akan paham maksudku. Mereka hanya akan mengupload foto yang tidak ada aku -nya. Atau sering juga aku yang meminta untuk mengambil foto mereka, agar aku tidak ada di dalam foto itu. Yah, ada-ada saja memang caraku agar tidak ada di dalam foto.

Sebenarnya dengan tidak mengupload foto di sosial media, perempuan sudah membantu para lelaki untuk menundukkan pandangan mereka. Dalam hal ini perempuan punya peran yang besar. Betapa kasihannya para lelaki itu jika tidak bisa mengendalikan pandangannya hanya karena seorang perempuan. Untuk itu, kita sebagai perempuanlah yang pertama bergerak untuk tidak mengupload foto.

Jujur, aku sebagai perempuan yang normal tentunya juga memiliki keinginan untuk mengupload foto pribadi. Itu godaan yang luar biasa untuk para perempuan. Tetapi, aku juga sering kembali berpikir, untuk apa aku mengupload foto itu? Untuk dilihat? Tidak perlu sebenarnya. Saat seperti itu, aku kembalikan lagi ke niat awal, aku berusaha menguatkan hati. Untuk apa? Untuk apa? Untuk apa?

Tulisan ini sebenarnya untuk mentaujih diriku yang sering lalai dan lupa. Aku sendiri juga tidak pernah tahu, kapan aku akan merasa ingin mengupload foto pribadiku. Tentulah aku sebagai manusia tidak terlepas dari salah dan khilaf ini ingin sekali sesekali mengupload foto. Namun aku berharap, ketika itu terjadi, ada pribadi-pribadi yang dengan sabar menasehatiku dengan rasa tawadhu', menuntunku dengan ikhlas agar kembali ke jalan yang benar.

Fenomena uplod foto ini sering juga dialami oleh orang yang kuat pendiriannya untuk tidak mengupload foto, namun saat telah menikah justru mengupload foto di berbagai sosial media. "Apakah salah? Toh sudah ada yang menjaganya", kata seseorang padaku. Aku sebenarnya tidak berani berkata apa-apa. Karena semua dikembalikan lagi kepada pribadi masing-masing. Jika suaminya rela foto istrinya dilihat oleh orang lain, ya silakan saja diupload. Namun jika tidak rela, disimpan saja sebagai koleksi pribadi. Dalam hal ini, aku juga tidak tahu akan seperti apa aku ketika menikah nanti. Aku hanya berharap, semoga suamiku kelak bisa menjagaku dengan sebaik mungkin, menuntunku untuk tidak melakukan hal yang sia-sia.

Yanti- yang fakir ilmu
Bateng-Dramaga






No comments: