Thursday, 26 January 2017

Dimana ghirohmu, Ki ?

Hai Ki, dimana ghirohmu yang dulu? 
Yang saat itu kau mati-matian menyemangati aku untuk terus bertahan dalam kepedihan menuntut ilmu. Dimana, aku yang saat itu merasa kesulitan dalam memahami konsep-konsep ilmu pangan. Betapa aku merasa orang yang paling bodoh sedunia dalam memahami bahasa pangan. Yang dulu aku merasa seperti remahan roti di antara butiran mutiara. Yang merasa aku bukanlah siapa-siapa dibanding teman-teman dengan segudang prestasi yang memukau. Yang tidak percaya diri dengan kemampuanku. Yang bahkan hampir menangis di setiap selesai ujian kimia komponen pangan, biokimia molekuler pangan, rekayasa proses, analisis pangan panjut, pangan dan sistem vaskuler, dan mikrobiologi pangan.

Hai Ki, dimana ghirohmu dulu, yang selalu memikirkan apakah kita belajar di sini benar-benar hanya untuk menggapai ridho Allah semata?Apakah ini bukan untuk siapa-siapa? Sejauh mana kebermanfaatan kita di sini? Bagaimana perjuangan orangtua mengantarkan kita di kampus "Searching and Serving the Best" ini?

Jika engkau malas, ingatlah kembali momen belajar kita, Ki. Perjuangan ini tak boleh engkau lupakan. Ingatlah bagaimana kita di tiap pagi hingga dini hari membaca jurnal satu per satu, membaca slide presentation yang banyak sekali, yang harus menahan kantuk dengan kopi walau itu membuat jantungku berdegup tak karuan. Ingatlah bagaimana kita menguatkan semuanya dengan do'a dan tawakkal. Kemalasan hanya disebabkan oleh hati-hati yang tidak terpaut pada-Nya. Andaikan kita selalu mengingat siroh perjalanan nabi dan shahabiyah, maka tak ada kata malas dalam diri kita, Ki.


Sepertinya kita harus mengencangkan do'a, zikir, dan tilawah Ki. Sepertinya hati kitalah yang bermasalah, mungkin kita hanya kurang bersabar saja dalam perjalanan menuju magister ini, ingin cepat selesai tanpa tantangan. Tapi coba deh dipikir, jika tak ada tantangannya, dimana keseruan penelitian itu, dimana asyiknya tugas akhir itu, dimana keeleganan tesis itu. Yakinlah, perjalanan ini bukan hanya perjalanan rasa, tetapi juga perjalanan pikiran. Aku berharap bukan hanya jasadiyah dan ruhiyah kita saja yang sehat, tetapi fikriyah kita juga bugar, Ki. Yuk meneladani karakter bunda Aisyah yang cerdas.

Aku juga sedang menyemangati diriku Ki. Jadi, kamu juga harus semangat. Jangan menyerah dengan keadaan, terlebih menyesal dengan apa yang telah dilalui. Perjalanan ini adalah perjalanan cinta menuju ridho-Nya. Kita tahu kan, bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang menuntut ilmu. Jadi, jangan menyesal sudah melewati jalan ini. Semenyakitkan apapun harimu, jalani saja, Itu adalah cara terbaik Allah untuk membuatmu kuat, sholihah...

Tulisan ini untukmu dan untukku Ki, teman sholihahku.
Jazakillah telah memberiku ruang untuk bercengkerama bersamamu. Terima kasih telah menguatkanku ketika lemah. Terima kasih, yang selalu menyemangatiku di saat aku jatuh. Terima kasih karena sudah menjadi teman baikku di perantauan. Terima kasih karena dengan bercerita denganmu, aku semakin yakin bahwa apa yang telah kulalui belakangan ini karena Allah sedang menegurku yang terlalu jauh dari-Nya. Ia ingin aku dekat dengan-Nya kembali, ingin aku pulang dalam lingkaran-lingkaran cinta-Nya. Aku merasa seperti dihempaskan oleh ombak yang besar sekali, Ki. Yang membuat aku jatuh tersungkur, tenggelam, bahkan seperti tidak bisa bernapas lagi. Dan hanya mengingat-Nya hati ini kembali tenang.


Ayo ayooo, charger ruhiyah lagi di akhir pekan ini :D
Semangat nge-tesis! Semangat dengan aktivitas-aktivitas kebaikan.
Hup hup, semangat!

Ruang Disertasi LSI Lt.3

No comments: