Monday, 26 December 2016

Mengapa Memilih Pertanian?

Saya ingin berbagi kisah saya pada teman-teman karena beberapa waktu lalu seorang teman SMP saya menanyakan hal ini. Saya dan dia sebenarnya tidak berkenalan secara langsung. Saya yang tahu sedikit tentang dia, sementara dia sama sekali tidak tahu tentang saya. Saya mengenalnya karena dia sering menjadi juara kelas dulu, sering maju ketika penerimaan rapot, dan namanya selalu disebut ketika pembagian rapot. Lalu saya? Apalah saya yang tidak punya prestasi apa-apa ini -_- Jujur saja, saya hanya dipanggil sekali selama tiga tahun dan itu cuma Harapan III Umum. Itu juga saya pikir bukan karena kerja keras saya, tetapi keberuntungan dan do'a orang-orang tercinta yang melangit.

Saya tidak akan pernah melupakan bagaimana pandangan orang terhadap saya ketika memilih Pertanian. Sebenarnya bukan hanya teman SMP saya itu yang bertanya kenapa saya memilih Pertanian, kenapa tidak yang lain? Karena...

Saya hidup di kelilingi oleh petani. Kakek dan nenek saya petani. Ayah saya sebelum menjadi PNS juga petani, lalu ketika beliau pensiun ia menjadi petani kembali. Sebagian besar saudara dari ibu dan ayah saya juga petani, dan beberapa adalah pedagang. Karena itu kehidupan petani sudah sangat melekat dalam diri saya.

Sewaktu kecil, saya sudah suka menanam. Saya suka menanam daun bawang dan kangkung, selain itu menanam beberapa bibit yang saya dapatkan dari beberapa majalah.

Dari lima bersaudara, kata ayah saya, hanya saya yang suka menanam. Saya memang anak ayah saya banget. Pantas saja saya selalu merindukannya *eh

***

Dulu saya sedih karena ternyata banyak teman yang beranggapan pilihan saya untuk masuk di Pertanian itu sungguh sangat disayangkan, karena menurut mereka itu jurusan yang tidak populer, tidak menarik dan tidak bergengsi. Lalu untuk apa jadi petani? Untuk apa bermain dengan tanah dan lumpur. Untuk apa menanam di siang yang terik? Untuk apa melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan oleh orang yang tidak sekolah? Dan masih banyak untuk apa-untuk apa yang lainnya jika dilanjutkan.

Padahal kita makan dari hasil kerja keras petani. Bayangkan jika petani putus asa, lalu tidak menanam padi lagi, dari mana kita akan makan?
Baiklah, ada yang mengatakan masih bisa makan jagung, singkong, kedelai, sorgum, dan gandum. Yang menanam itu semua siapa? Tentu saja petani.

Bahkan dulu ada seorang Bapak yang saya temui di dekat gelanggang mahasiswa sewaktu S1. Saya saat itu ingin masuk ke ATM, dan beliau keluar.
"Nggak kuliah ya dek?"
"Baru keluar kelas nih Pak"
"Fakultas apa ya?"
"Pertanian, Pak"
"Cantik-cantik kok mau kuliah di Pertanian"

Apa? saya yang saat itu masih mahasiswa baru tentu saja terkejut. Jadi Bapak itu menyepelekan pilihan saya. Saya saat itu berkesimpulan, jadi yang masuk ke Pertanian itu orang-orang yang tidak cantik? -_- 

Aah bukannya benar ya? 
Benar, iya -_-

Beberapa teman saya juga bilang,
"Yanti, kamu yakin di Pertanian? Nanti mau kerja dimana? Lowongan di dinas Pertanian dan Kementrian Pertanian kan nggak banyak. -_-
Padahal Allah sudah menjamin rezeki tiap orang. Kenapa harus takut nggak kebagian rezeki.

Impian saya, ketika saya sudah mendapatkan ilmu di Pertanian, saya semakin paham bagaimana tanaman yang baik, bagaimana pencegahan hama dan penyakit pada tanaman, bagaimana proses bahan baku pertanian hingga ke produk sekundernya yang baik, dan tujuan akhirnya adalah untuk kedaulatan pangan.

Saat ini saya berpikir untuk memberikan apapun yang saya miliki untuk Indonesia, ingin membangun Indonesia ini dari Pertanian nya. Dan pertanyaannya adalah "Apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia?" Mungkin belum ada sama sekali. 

Aaah kamu Yan, udah ngomong bangsa aja. Memangnya kamu sudah benar membangun diri kamu sendiri?
Memang belum -_-.
Sembari membangun diri saya, saya juga bermimpi membangun bangsa ini. Iyeeesss.

Semakin hari saya semakin cinta pada negeri ini. Terlebih sejak mengenal berbagai teman dari Sabang hingga Merauke di IPB ini. Terima kasih, ibu dan ayah, yang telah memberikan kesempatan pada saya untuk menimba ilmu di kota hujan ini. Lalu di sini juga saya menemukan sosok-sosok yang luar biasa. Teman-teman yang penuh dengan prestasi. Ada yang fast-track, ada yang mengikuti kelas akselerasi dari SD hingga SMA, ada yang mapres, yang sudah beberapa kali mengikuti student exchange ke luar negeri, yang mengikuti winter atau summer course, yang bahasa Inggris mereka sudah bagaikan air yang mengalir.

Saya semakin merasa kecil dan belumlah apa-apa dibanding mereka, teman-teman saya. Ditambah lagi di sini, saya mengenal mahasiswa luar negeri. Yang dengan mereka, saya harus berbicara bahasa Inggris jika ingin menyampaikan sesuatu. IPB tentu saja membuat saya semakin dewasa, walaupun saya masih merasa seperti anak kecil dihadapan teman-teman saya yang luar biasa itu.

Pertama kali menginjakkan kaki di IPB saya sudah dicecoki dengan bahasa Inggris yang sudah lama saya tinggalkan sejak S1. Lalu saya dicecoki dengan dosen-dosen lulusan luar yang aaaah tak ada sebutan lain selain luar biasa untuk menggambarkan mereka.

IPB dengan pertanian-nya yang sangat spesifik semakin membuat saya bangga pada Pertanian Indonesia, dan bersyukur telah memilih bidang Pertanian sebagai jalan saya untuk membangun bangsa ini.

#MajulahPertaniankuJayalahNegeriku

Sumber gambar: kampusaja.com

Koridor Fateta,
26 Desember 2016







No comments: