Saturday, 3 December 2016

Lelaki Ketiga yang Kucintai Karena Rabb-ku

Beberapa hari ini saya sedang merindukan abang kedua saya. Entah kenapa, kata-katanya selalu terngiang di telinga saya. Pesan-pesan yang diucapkan dengan pelan namun tegas, terbayang di benak saya. Dia seakan datang memberitahukan saya, bahwa saya harus menjaga diri, saya harus sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, saya harus jadi akhwat yang sholihah.

Namanya Zulham, lelaki ketiga yang saya cintai karena Allah, tentunya setelah Papa dan Bang Ady. Ia adalah abang yang tegas kepada saya. Kata-katanya terkadang seperti pedang, kadang seperti silet, dan kadang seperti adonan roti. Tapi semua yang ia katakan adalah kebaikan. Beberapa hari ini saya terbayang dengan suara tilawahnya ketika usai subuh dari masjid. Saya terbayang langkah kakinya ke kamar mandi, mengambil air wudhu dan bergegas ke masjid. Aih, saya sering memprotes suaranya dalam hati. Sering mendengar makhraj huruf yang ia baca. Terkadang saya senyum-senyum. Barakallah, abang... Walaupun suaramu tidak cukup indah, tapi bacaanmu bagus. Hehehe...

Bang Zulham, begitu saya memanggilnya. Saya tekankan huruf Z yang dalam bahasa Arab Za, agar tidak mengubah arti namanya. Ia adalah lelaki yang berprinsip kuat. Sekali tidak, memang tidak. Sekali ia melangkah, ia akan melangkah. 

Saya kemarin teringat dengan foto masa kecil kami. Ia menggendong saya, dan meletakkan saya di meja. Saya yakin, sewaktu kecil, ia sering menjaga saya ketika ibu mengajar di sekolah. Saya yakin, ia sangat perhatian pada saya. Saya amat yakin, dia menginginkan yang terbaik untuk saya. Ia tidak ingin apapun yang buruk menghampiri saya. Karena itu ia sangat tegas dengan saya. Saya sering menangis, karena kata-katanya yang tajam. Terkadang ia tidak bisa menempatkan nasehat pada momennya. Tapi saya tahu, hatinya sangatlah baik. Diam-diam dia memperhatikan saya, walaupun gayanya sangat cuek. Seakan pura-pura tidak peduli, tetapi dia menyembunyikan itu dengan sikapnya.

Dia abang yang berotak kiri sekali. Ia sendiri pernah berkata, "Aku itu susah nangis, bahkan ketika momen renungan suci, orang-orang sudah menangis, tapi aku nggak bisa". Tapi bagaimanapun, ia juga adalah lelaki yang berhati selembut adonan kue. Dia penyayang. Namun untuk mengungkapkannya, kita sering salah menilai.

Dulu, ketika saya kuliah di USU, kami sering saling membantu dalam banyak hal. Dia sering memberikan bajunya ke kosan saya untuk disetrika. lalu saya sering meminta tolong untuk mengantarkan saya membelikan bingkisan kepada pemateri di mushola. Dan lucunya, tak jarang bingkisan yang sudah kami beli, ternyata diberikan oleh panitia kepadanya. Iya, dia sering menjadi pemateri dadakan karena ustadz yang rencananya membawa materi berhalangan hadir. Kami tertawa bersama di momen-momen itu. 

"Butet, bingkisan yang kita beli kemarin malam udah ada sama aku nih"
"Loh, kok bisa bang?"
"Aku jadi pemateri dadakan, pematerinya berhalangan hadir"
"Ahahahah" (bersama)

Namun, sejak ia menikah, saya harus tahu diri. Saya merasa ia harus berbagi kasih sayang. Ahahah...Tentu saya tak bisa seakrab dulu lagi. Ia sudah punya keluarga kecilnya. Saya juga mulai sibuk dengan aktivitas saya tanpa ditemani olehnya. Namun, saya  tetap mengabarkan kondisi saya padanya. Kondisi dimana saya menghadapi ujian, ikut kegiatan A, B, C, dan meminta do'anya jika saya merasa kesulitan dalam hal akademik.

Saya sangat merindukannya hari ini. Saya tahu, ketika ia membaca ini, ia tidak akan merasakan apa-apa "Halaah Butet, get jadi penulis do ho? ", yang artinya "Duh Butet, kamu mau jadi penulis ya".  Aih, memang tidak ada romantis-romantisnya abang saya ini. Saya lupa kapan dia terakhir kalinya memuji saya. Ahahaha...

Kalau ketemu, saya suka iseng dengan berkata,
"Marnyiang do ho Bang huida", yang artinya kamu kurusan ya Bang saya lihat.
"Inda bah, memang na songonon ma au", enggak ah, saya memang gini kok.

Ketika menuliskan ini, saya ingin menumpahkan air mata, sebab saya teringat pesan-pesannya. Saya teringat kebaikan-kebaikan yang ia berikan pada saya. Saya teringat begitu perhatiannya ia pada saya. Tapi sekarang, ia sudah sibuk, mungkin ia tak sempat lagi menanyakan kabar saya. Jadi memang, saya lah yang harus menanyakan kabarnya. 

Beberapa kali, saya ingin mengetahui bagaimana pendapat orang-orang terhadap abang saya ini. Banyak yang mengatakan ia baik, tapi dingin, Ia cuek, tapi sebenarnya perhatian.
Kepada mahasiswa-mahasiswanya yang juga adik mentoring saya juga saya tanyakan.

"Adik-adik, bagaimana kuliah di Pertanian? Seru? Serem? Bagaimana dosen-dosennya mengajar?"
Lalu satu per satu mereka menyebutkan nama dosen yang tidak saya kenal, dan menjelaskan bagaimana karakter-karakter dosennya. Saya menikmati satu per satu cerita itu. Lalu ketika mendengar penjelasan mengenai abang saya, saya fokuskan untuk lebih mendengarkannya.

"Pak Zulham itu susah kali kak buat soal. Kalau ujian strik kali, nggak bisa lihat kanan kiri. Terus, slide presentasinya nggak bisa dicopy lagi. Ngasih nilai pelit lah"

Saya tersenyum mendengar penjabaran itu. Dalam hati saya "Ahahah dasar kamu Bang. Good job".

Sampai satu semester tak ada yang tahu kalau dosen mereka adalah abang saya. Selama mentoring, saya hanya mendengarkan apa yang mereka katakan tentang Pak Zulham ini.
Lalu, tidak tahu dari mana, akhirnya ketahuan juga kalau saya adiknya Pak Zulham -_-. Yah, sampai di sana untuk mengetahui keberadaan abang saya di mata adik-adik. 

***

Beberapa kali juga saya klarifikasi pada teman saya ketika naik sepeda motor berdua dengan abang. Ada beberapa orang yang menyangka saya pacaran dengan ikhwan. Saya selalu tertawa dengan momen tabayyun (klarifikasi) itu. Dengan tenang memberikan senyum pada yang bertanya, saya mengatakan,
 "Itu abang kandung saya".
"Ah yang bener ukht?"
" Iya, kami satu rahim"

Aah mungkin wajah kami tidak mirip. bahkan ada teman saya yang bilang.
"Yan, abangmu kok tinggi? Kamu.... (nggak sampai hati untuk meneruskannya :D)"
"Iya, dia kan laki-laki, beda lah, masak harus sama", ucap saya untuk melapangkan hati.
Kasus lain,
"Yan, kau manis sih, tapi pendek kali. Abangmu tinggi"
"Ooh, kau juga tinggi ya, asal gak sama aja kayak hatimu :P *Lol*"

Masalah tinggi rendah sempat menjadi sensitif bagi saya. Tapi itu hanya sebentar. Karena parameternya syurga bukan tinggi rendahnya seseorang. Tapi amalannya. Kalau syurga hanya untuk orang-orang yang tinggi, mungkin saat ini banyak orang yang akan menghalalkan segala cara untuk meninggikan diri.

Bang Zulham, terima kasih atas nasehat-nasehatnya. Saya akan selalu ingat. Saya akan menjadi adik perempuanmu yang baik, yang taat sama perintah agama, yang patuh sama nasehat orangtua, yang rajin belajar, yang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Sampai bertemu di rumah, jika kamu berlebaran di sana tahun depan.

Dokumen Bang Zulham, dicuri dari facebook :v


Adik perempuanmu,
Butet :D




No comments: