Friday, 25 November 2016

Tanpamu Apa Jadinya Aku

Selamat Hari Guru, Ibu. Tanpamu apalah artinya diriku. Yang selalu memotivasi aku untuk sekolah tinggi adalah ibu. Ibu pernah berkata “Ibu Cuma lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) yang setara dengan SMA, ibu ingin kamu lebih hebat dibanding ibu. Dulu aku hanya diam mendengar ucapan ibu. Aku tak paham mengapa ia berkata demikian. Lalu ketika aku beranjak dewasa, aku mulai paham bahwa ia menginginkan kehidupan yang lebih baik dalam hidupku kelak.

Karena ibu aku bisa membaca, karena ibu juga aku bisa menulis. Tanpa ibu aku bukanlah apa-apa. Ibu sangat yakin dengan kemampuanku. Suatu hari, aku berkata “Bu, aku kayaknya nggak akan lulus”. Ibu diam sejenak, lalu berkata pelan-pelan. “Kamu belum mencoba sudah mengatakan nggak lulus. Dicoba dulu”. Sejak hari itu aku selalu ingin mencoba berbagai hal. Aku ingat pesan ibu, jika kita tidak pernah mencoba, kita tidak akan pernah tahu sampai mana batas kemampuan kita.

Ibu menyekolahkanku sampai ke Bukit Tinggi sewaktu kelas IV SD. Padahal masa-masa itu adalah masa-masa anak perempuan bermain dengan ibunya, bermanja-manja dengan ibunya. Tapi ibuku tidak demikian. Ia menyekolahkanku jauh agar aku mandiri. Setelah ia melihatku mandiri, ia membawaku kembali dalam dekapannya.

Karena ibu aku bisa membaca Al-Qur’an, ikut Musabaqoh Tilawatil Qur’an. Sebelumnya tidak pernah ada di benakku untuk mengikuti kegiatan itu. Ibu bilang “Semoga kamu bisa mengajarkan ibu membaca yang benar, Nak. Ibu sudah tua untuk belajar, tapi tidak ada kata terlambat untuk belajar. Kamulah yang ibu harapkan membenarkan bacaan ibu”.
Aku tersenyum bahagia ketika ibu mengucapkan kalimat itu.
“Bu, sya, bukan sa atau sho”, ucapku suatu hari.
“Gimana membacanya? Ibu tidak bisa. Lidah ibu sudah kelu untuk huruf itu”
“Tidak bu, pasti bisa. Ayo..ayo latihan lagi. Karena kalau salah baca, artinya juga salah kata ustadzah.”
Ibu tersenyum mendengar penjelasanku. Lalu mengulangi ucapan hurufnya kembali. “Sya sya sya...”
Aku sangat bahagia saat-saat melihat ibu tersenyum, rasanya seluruh bebanku lepas semuanya, dan nyesss banget di hati.

Ibu selalu menasehatiku jika aku salah. Cara menasehatinya juga cukup keras, tidak sekali dua kali aku menangis. Tapi aku tahu, itu bukti kecintaan ibu padaku. Tiap orang memang berbeda dalam mengekspresikan cintanya. Memang tidak boleh terlalu lembut sekali jika mendidik anak. Kelak, aku akan mendidik anakku dengan cara yang lembut tetapi tegas seperti yang ibu contohkan.

Aku paling sering dinasehati ketika di dapur.
“Anak perempuan itu harus bisa memasak, setinggi apapun pendidikannya. Kamu belum tentu kan dapat suami orang kaya nanti. Gimana kalau dapat suami orang susah, hidup di kampung. Jangan sampe kayak cerita orang dulu, yang cerai karena perempuannya nggak bisa masak”
“(Jleb) Aku hanya bisa diam saat itu”

Sampai SMA aku juga belum bisa memasak. Sampai akhirnya aku masuk kuliah di Teknologi Pangan yang mengharuskan aku memasak. Aku di laboratorium saja harus memasak, bagaimana mungkin aku harus tidak memasak di rumah. Sampai kakakku berkata “Butet, mungkin kamu masuk jurusan itu biar bisa masak”. Lalu kami tertawa bersama. Teringat pesan ibu yang selalu disampaikan kepadaku.
Namun, walaupun punya background Teknologi Pangan, masakanku tetaplah kurang enak. Masakanku sering hambar, kurang asin, dan keasinan. Masak sayur sering kematengan. Kalau masak daging, dagingnya masih keras. Masak bolu, bolunya sudah seperti brownies, tidak mengembang. Masak kerupuk, kerupuknya malah gosong. Dan masih banyak sekali kesalahan-kesalahan memasak yang kulakukan, yang membuat ibuku mengelus dada. Betapa aku kurang baiknya sebagai anak gadis, heuh -_-

Tapi dari pengalaman-pengalaman itu, aku belajar. Jika kita ingin bisa mendalami sebuah hal, kita harus terus latihan. Ibuku bisa memasak bukan karena melihat tutorial masak di youtube atau baca panduan buku masak. Tetapi karena sering latihan. Garam yang dimasukkan tidak tahu berapa gram atau berapa banyak, tapi karena sudah terbiasa, ia bisa sendiri menakarnya. Jika masih kurang, ditambahkan. Lalu dicicip. Jika kebanyakan, ia tambahkan air. Sesimpel itu sebenarnya.

Dulu aku pernah merasa kalau adikku lebih diperhatikan oleh ibu. Dan aku baru sadar ketika beranjak dewasa, ternyata ibu memperhatikan satu per satu kelima anaknya. Yang mungkin cara perhatiannya beda pada tiap orang, disesuaikan dengan karakter anak-anaknya. Seperti aku yang suka “keluyuran”, ikut kegiatan A,B,C ia memperhatikanku dengan mengetahui semua aktivitasku, aku baik-baik saja di sana. Dan mendo’akanku baik-baik saja. Tanpa do’a ibu, aku bukanlah apa-apa. Aku tidak akan bisa sampai ke kota hujan ini.

Ibu juga mengajarkanku agar selalu tegar, tidak mudah putus asa, dan tidak mudah tersinggung. Dulu, seringkali aku tersinggung dengan perkataan temanku yang kuanggap menyakitkan. Ibu menasehatiku “Nak, cara orang untuk mengungkapkan sesuatu itu tidak sama. Kamu juga harus pahami. Kalau kamu mudah tersinggung, kamu akan kesulitan menjalani hidup”.

Setelah kurenungkan, benar juga apa yang ibu bilang. Karena tersinggung banyak sekali aktivitasku yang menjadi tidak enak. Menjadi suuzhon pada saudara sendiri. Padahal mungkin saudara kita tidak berniat buruk, namun hati kitalah yang terlalu rapuh, tidak menerima.

Ibu mengajarkanku untuk selalu berbuat baik, sekalipun orang itu sudah menyakiti. “Kamu akan sama dengannya kalau kamu membalasnya dengan keburukan pula. Apa mau disamain dengan dia?” Berbuat baik tidak ada ruginya.  Ibu juga mengajariku untuk minta maaf jika salah. “Jangan terlalu gengsi. Sekalipun sebenarnya kamu tidak salah, cobalah meminta maaf terlebih dahulu”. Kata ibu, lebih mulia orang yang pertama meminta maaf.

Kalian akur-akur bersaudara. Kalau ada perselisihan, diselesaikan”. Dan hingga hari ini aku ingat sekali pesan ibu itu. Alhamdulillah sampai hari ini aku dan keempat saudaraku cukup harmonis, walaupun kami sudah tidak berada dalam satu rumah. Saling menanyakan kabar dan perkembangan hidup. Karena itu, jika satu saudaraku tidak suka dengan sebuah kondisi, kami akan mendiskusikannya di Grup WhatsApp.

Ibu... Banyak hal yang telah ia ajarkan kepadaku. Tanpa ibu, apalah jadinya aku.
Tulisan ini aku dedikasikan kepada ibuku tercinta. Selamat Hari Guru, Ibu. Maret tahun depan Ibu akan pensiun. Semoga ilmu yang telah diajarkan selama ini menjadi amal jariyah ya Bu. Maafkan putri kecilmu ini yang belum bisa membahagiakanmu.
Ibu..ibu...ibu...ayah


No comments: