Wednesday, 23 November 2016

NASEHAT

Saya senang sekali jika dinasehati dengan kebaikan, karena itu saya bisa mengubah sikap saya menjadi lebih baik. Walaupun terkadang ketika dinasehati sering sekali hati saya tidak menerima, terlebih jika dinasehati dengan keras.

Siapapun yang menasehati kita, hendaknya kita dengarkan pelan-pelan, kita resapi. Mungkin memang kita tidak sadar dengan apa yang telah kita perbuat selama ini.

Jujur saja, saya lebih senang dinasehati, dikomentari daripada dipuji. Karena pujian itu bagian dari ujian. Jika hati sudah terlalu bahagia, bisa menjadi ujian. Maka, ketika dipuji, sebaiknya kita mengucapkan alhamdulillah “segala puji hanya milik Allah”, selanjutnya tinggalkan rasa yang berlebihan.

Hari ini seorang saudara menasehati saya. Ia mengatakan kalau saya begini dan begitu. Untuk seseorang yang sangat amat cengeng seperti saya, tentu ini sangat amat pedih. Tapi saya tau menempatkannya. Saya tak boleh sedih. Benar yang ia katakan. Sesekali boleh lah saya ditampar dengan nasehat, agar saya lebih baik.

Tapi memang berbeda sekali jika yang menasehati adalah orang yang sudah paham dengan kita. Seperti murobbi saya, guru mengaji saya. Ia menasehati saya dengan penuh kelembutan. Ia tahu saya sangat cengeng. Karena itu setiap nasehatnya selalu saya dengarkan, dan ia menasehati saya dengan wajah yang begitu damai, tanpa melihat saya dengan marah atau kesal. Tak ada nada kesal dalam lisannya. Jazakillah ustadzah...

Namun demikian, tiap orang punya caranya masing-masing untuk menasehati saudaranya. Ada yang keras dan ada yang lembut. Hendaknya kita menempatkan semuanya sesuai dengan kondisi orang tersebut.

Kita tak pernah tahu, sesibuk apa saudara kita, apakah ada banyak hal yang bergelayut di pikirannya, apakah ia punya beban akademik yang luar biasa, apakah ia sedang dililit utang, atau apakah ia sedang mengerjakan sesuatu hal yang sulit. Lalu kita tak tahu setegar apa dia. Lantas saat itu kita menasehatinya dengan keras. Tentu ini kurang ahsan. Jadi, menempatkan nasehat itu juga harus tahu kondisinya, sekalipun tujuannya baik. Seringkali memang niat kita tidak sesuai dengan kondisi. Sebab itu, cobalah pahami kondisi saudara kita.

Saya sering mencoba berdamai dengan perasaan saya, bahwa tiap orang sejatinya adalah baik, mungkin caranya saja yang kurang sesuai dengan kondisi saat itu. Karena itu juga hendaknya kita juga menghargai tiap orang yang menasehati kita. Yakinlah, tujuannya pasti demi kebaikan kita. Hanya caranya yang perlu kita adaptasikan.

Nasehat yang baik semoga menjadi pelajaran bagi saya, bagimu, bagi kita semua untuk menjadi lebih baik.

Hari ini saya telah dinasehati saudara saya. Betapa saya saat ini semakin merasa manusia yang penuh khilaf dan dosa. Saya berterima kasih kepada ia yang telah menasehati saya dengan hal yang tak biasa. Mungkin karena ia juga belum mengenal saya. Ia tak tahu kalau saya begitu rapuh. Huhuhu.

Mbak Yanti, kamu jangan serapuh keripik kentang dong”
 “Iya nih, nggak boleh rapuh ya. Jadi akhwat harus tangguh”
“Huhu...peluk..peluk..peluk...”


No comments: