Tuesday, 22 November 2016

MBAK

Dulu, saya kurang suka dipanggil dengan sapaan "Mbak". Entah kenapa saya mendadak merasa menjadi anak Suku Jawa jika dipanggil demikian. Pertama kali saya dipanggil "Mbak" saat menginjakkan kaki di Bogor. Sebelumnya tidak pernah ada yang memanggil "Mbak".

Sapaan "Mbak" itu ternyata sudah sangat umum di Bogor. Walaupun ini tanah sunda, tapi memang cukup dekat dengan ibukota. Sapaan "Mbak" itu tak pandang suku. Menurut hemat saya, "Mbak" dipakai untuk perempuan yang belum berumah tangga atau mamah muda. Saya juga belum tau sih sampai tahap mana seorang perempuan itu dipanggil "Mbak". Kalau yang memanggil "Teteh" ke saya itu adalah penduduk asli Bogor. 

Nah dulu, saya pikir sapaan "Mbak" itu adalah sapaan seperti kakak perempuan. Sapaan yang bisa digunakan untuk perempuan yang lebih tua dari kita. Ternyata, di sini tidak berlaku, baik yang lebih muda ataupun yang lebih tua dipanggil dengan "Mbak".

Awal kuliah di IPB, saya dipanggil dengan sapaan "Mbak" oleh teman yang baru saya kenal. Karena kurang nyaman dan mungkin saya masih beradaptasi, saya sarankan ia untuk memanggil kakak.
"Maaf, saya orang Sumatera, dipanggil kakak saja ya", ucap saya waktu itu.

Tapi setelah berbincang panjang lebar, ternyata kami seumuran. Akhirnya saya sarankan dia untuk memanggil nama saya saja. Lucunya, dia tidak mau memanggil langsung nama saya. Katanya dia ingin menghormati saya dengan sapaan "Mbak". Aiiih, entah kenapa saya merasa jadi lebih dewasa seketika.

Untuk beberapa orang yang memanggil saya "Mbak", dan saya tahu kalau umurnya lebih muda, saya selalu menyarankan untuk dipanggil "Kakak" saja, walaupun tetap saja ada yang memanggil "Mbak".

Lalu, ketika dosen saya memanggil saya dengan sebutan "Mbak", awalnya saya merasa sangat lucu. Apa yang harus saya sarankan kepada beliau. Kakak? Tidak mungkin ya. Akhirnya sejak saat itu saya mulai terbiasa dipanggil "Mbak".

Kata teman saya, mending dipanggil "Mbak" loh Yan dibanding dipanggil "Ibu". Ahahaha.
Ternyata bagi dosen, panggilan "Mbak" itu untuk mahasiswanya yang dianggap masih muda, dan panggilan "Ibu" tentu untuk perempuan yang dianggap sudah menjadi ibu.

Sejak terbiasa dengan sapaan "Mbak", saya pun memanggil teman-teman perempuan yang patut disapa dengan "Mbak" walau seumuran dengan saya. Orang-orang yang menurut saya lebih dewasa dalam hal pemikiran dan tingkah laku, saya sapa dengan "Mbak", walaupun ia lebih muda dari saya dari segi umur.

Kata teman saya, saya cukup cocok dipanggil "Mbak", secara nama saya memang nama Jawa. Ahaha...
"Mbak Yanti", begitu kata mereka kebanyakan. Tapi ada juga yang memanggil "Mbak Sri". Keduanya tetap sapaan Jawa yang masih pantas dipanggil "Mbak" kata mereka.
Saya hanya tersenyum mendengar penuturan teman-teman saya dengan sapaan "Mbak".
"Mbak Yanti kayak bukan orang Sumatera deh, dipanggil Mbak aja deh ya Mbak", ucap seorang teman suatu hari. Saya "iya" kan saja agar ia senang. Karena menyenangkan hati saudara juga sebuah kebaikan, bukan? :)

Beberapa bulan yang lalu sempat saya dipanggil dengan "Mbak LSI", karena saya sering duduk mengerjakan tugas di LSI. Itu terjadi karena ketika ditanya, saya sering di LSI.

"Mbak Yanti lagi dimana?"
"LSI"

"Mbak, nanti ke LSI nggak?"
"Iya"

"Mbak Yanti dari mana aja pulang jam segini?"
"Dari LSI"

Beberapa pertanyaan, jawabannya LSI. Jadi seorang teman tadi memanggil saya "Mbak LSI".

Saya di LSI  memang karena betah. Saya butuh meja yang luas untuk bekerja, mengerjakan laporan, atau sekedar mencari jurnal. Dan di LSI kebutuhan saya itu terpenuhi. LSI itu tempat yang strategis menurut saya. LSI letaknya di tengah IPB. Jarak LSI dan fakultas saya juga sangat dekat. Selesai kuliah, biasanya saya langsung ke LSI jika tidak ada praktikum. Di samping LSI ada Bread Unit. Beberapa kali saya membeli roti jika tabungan saya masih banyak. Ahaha... Di LSI juga ada kantin. Biasanya saya beli makanan di sana jika pulang malam.

Mungkin, suatu hari, jika saya kembali ke Sumatera, saya akan merindukan sapaan "Mbak". Tapi saya belum tau, apakah saya akan kembali ke Sumatera nantinya atau malah bertahan di pulau ini. Pulau ini sudah terlalu ramai sebenarnya. Saya suka tinggal di sini, aksesnya mudah. Semua informasi mudah didapatkan karena dekat dengan ibu kota. Tapi satu hal yang kurang saya sukai adalah macetnya. 

Jika kamu bertemu dengan saya di Sumatera, panggillah saya dengan sebutan "Kakak" :D

@LSI IPB

No comments: