Sunday, 27 November 2016

KECEWA

Seringkali dalam hal perasaan, perempuanlah yang disalahkan. Perempuan menjadi terdakwa sebagian laki-laki yang patah hati. Padahal mungkin hanya masalah komunikasi. Ada komunikasi yang tak tersampaikan, lalu disalahartikan. Atau ada pesan yang sebenarnya belum tersampaikan, namun sudah ditanggapi lebih dulu.

Perkara perasaan memang soal yang rumit. Namanya juga rasa, ia adalah bentuk yang tersimpan, tidak terlihat. Bagaimana mungkin bisa dilihat, ia hanya bisa dirasakan, bahkan dilogikakan saja terkadang tak mampu. Rumit sekali. Dan ini adalah persoalan yang panjang. Terkadang seperti sebuah novel tanpa ujung.

Andaikan semua berpikir jernih, dibicarakan baik-baik, dan melibatkan orang-orang terbaik untuk menanggapinya, saya pikir persoalan itu akan selesai. Namun, rasa kecewa seringkali sudah menghampiri, pikiranpun semakin kacau. Lalu yang terjadi adalah rasa kecewa. Bahkan ada rasa menyesal yang tidak ingin peristiwa itu terjadi, atau menyesal sudah mengenal perempuan itu.

Sungguh menyedihkan memang, pesan cinta tak sampai berlabuh. Tapi bagaimanapun juga, perempuan tak akan mampu menampung banyak cinta. Ia hanya butuh satu untuk menjaganya. Ia hanya mampu menanggapi apa yang terjadi, bukan untuk memberikannya.

Seolah perempuan itu sangat kejam. Padahal, terkadang kondisilah yang membuatnya seperti itu. Ada sebuah kondisi yang kaum Adam tak akan mengerti. Karena dua pemikiran ini, jadi tak kan pernah menyatu dan sejalan jika dibicarakan dalam kondisi pikiran yang runyam. Ketika kecewa, apapun yang baik akan terlihat sangat buruk. 

Perempuan hanya bisa menyelesaikan perkara dengan banyak berdo'a. Sebab, penjelasan apalagi yang bisa ia paparkan. Lelaki tak akan paham. Ia mencoba berdamai dengan keadaan, lalu menunggu waktu untuk menyelesaikan semuanya. Waktu adalah kondisi yang ampuh. Waktu dapat mengubur luka dan kecewa.


Dramaga Regency II
Ciampea

No comments: