Wednesday, 9 November 2016

FLP Bogor: Kelas Terakhir Anggota Pramuda Angkatan 9

Common Class Room S2 Agribisnis Kampus IPB Dramaga Bogor menjadi saksi lahirnya generasi pejuang pena di bawah naungan Forum Lingkar Pena Bogor. Ahad, (06/11/2016) FLP Bogor menyelenggarakan kelas pramuda angkatan 9 yang bertema review film. Pelatihan bertema review film ini merupakan pelatihan terakhir yang harus diikuti oleh anggota pramuda angkatan 9.

Pelatihan ini dibuka oleh penanggung jawab kelas pramuda angkatan 9, Novitasari. Di awal sesi, Novitasari mengajak anggota untuk duduk melingkar, lalu menanyakan keinginan peserta akan mengikuti kelas apa setelah pelatihan. Kelas yang ditawarkan terdiri dari kelas fiksi dan non fiksi. Kelas fiksi terdiri dari cerpen, novel dan puisi, sementara kelas non fiksi terdiri dari kelas artikel dan opini. Endah, salah seorang anggota pramuda angkatan 9 mengatakan akan mengikuti kelas non fiksi seperti cerpen karena tertantang untuk mengikuti cerita anak seperti dongeng.

Usai berdiskusi, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi review film oleh Sekar anggota FLP Bogor angkatan 3. Sekar memaparkan review film yang berjudul Authors Anonymous yang terdiri dari enam tokoh beserta karakternya masing-masing. Sekar dalam penyampaian materinya mengatakan bahwa menulis adalah salah satu terapi jiwa. “Ketika Pak Habibie kehilangan Bu Ainun, beliau disarankan oleh dokternya untuk menulis. Karena menulis adalah salah satu terapi jiwa”, ucap Sekar. Adapun poin yang dapat membuat semangat untuk menulis yang disampaikan oleh Sekar diantaranya adalah memiliki lingkungan dengan orang-orang yang suka menulis, mencari lomba-lomba kepenulisan, menulis di blog dan blogwalking, mengikuti pelatihan kepenulisan terutama pelatihan yang pesertanya diseleksi seperti Kampus Fiksi, dan sebagainya.

Pada pelatihan tersebut Sekar menyemangati anggota pramuda angkatan 9 untuk menjadwalkan bacaannya setiap harinya. Misalnya hari pertama membaca buku sastra, hari kedua membaca koran, hari ketiga membaca buku bidang studi si pembaca, hari keempat membaca buku yang tidak disukai, dan hari kelima membaca buku agama. Adapun teknik kepenulisan review film tidak terlepas dari unsur intrinsik dan ekstrinsiknya, sama halnya dengan review buku. Unsur-unsur tersebut adalah karakter tokoh, alur cerita, setting, latar, dan dapat dibubuhi hikmah atau teori yang ditambahkan di akhir review yang berdasarkan sudut pandang penulis.

Satu kalimat utuh yang menjiwai seluruh isi sudah cukup untuk menjadi resensi”, ucap Sekar dalam pemaparannya. Review film sama dengan resensi buku. Lalu dalam mengomentari review film dapat dilakukan dengan Metode Sandwich, yaitu kalimat yang di awal dipuji, di tengah dikomentari, lalu di akhirnya dipuji kembali. “Dalam hal mengkritisi, jangan lihat dari satu sisi, tetapi lihatlah dari keseluruhan isi seperti melihat pemandangan dari atas pesawat”, ujar Sekar sebagai penutup materinya. Di penghujung acara Novitasari selaku penanggung jawab kelas memberikan instruksi kepada peserta untuk menyebutkan satu atau beberapa kata yang terbersit dalam benak masing-masing tentang kelas yang diikuti mulai hari pertama hingga terakhir. (Yanti)

 
Dokumentasi Yanti

No comments: