Thursday, 17 November 2016

FLP Bogor Angkatan 9 : Bukan Reportase (Inaugurasi)

Ahad, 13 November 2016 lalu FLP Bogor mengadakan inaugurasi di Common Class Room S2 Agribisnis FEM IPB. Inaugurasi ini adalah acara terakhir dari serangkaian acara anggota pramuda angkatan 9.

Hari itu saya datang terlambat karena salah jadwal. Karena biasanya kelas dimulai pukul 08.30 WIB, saya pun datang di jam tersebut. Padahal inaugurasi dijadwalkan pukul 07.45 WIB. Tapi tidak masalah, karena masih ada yang tebih telat dibanding saya. Ahahaha.. Ini tidak baik dicontoh ya. Tapi sungguh, saya lupa melihat jadwal yang diberikan oleh Mbak Hana melalui pesan pribadinya. Ya, akhirnya saya masuk dengan kondisi yang kurang nyaman. Entah kenapa di setiap momen saya yang datang terlambat, acara apapun itu, saya merasa seperti orang asing dalam perjalanan. Butuh proses dan waktu untuk mengembalikan kondisi jiwa saya saat itu.

Alhamdulillah, tidak lama untuk mengembalikan kondisi yang saya katakan seperti orang asing, Mbak Novi dengan bijaknya mengajak saya untuk meneruskan apa yang telah dilakukan oleh peserta yang lain sebelum saya datang. Saya pun mengikuti instruksi dari Mbak Novi. Ternyata di depan saya, Prisca juga datang terlambat tidak jauh setelah saya datang.

Beberapa menit berlangsung, Mbak Novi membacakan tujuan teman-teman di ruangan untuk apa ikut FLP. Saya mendengarkan satu per satu jawaban. Banyak hal yang tak terduga sebenarnya, tapi bagus, setiap orang punya visinya masing-masing yang disesuaikan dengan FLP. Mbak Novi bilang, kalau memang tidak sesuai tidak mengapa, boleh saja meninggalkan FLP *jleb* Atau apakah FLP yang harus mengikuti Anda? Saya senyum-senyum mendengar ucapan Mbak Novi. Hehe..

Setelah agenda sesi pertama berlangsung, lalu anggota FLP angkatan 9 dipecah menjadi 3 kelompok yang terdiri dari kelompok non fiksi, fiksi, dan puisi. Di sesi ini saya ada di kelompok puisi yang diarahkan oleh Kang Usup, penyair FLP Bogor. Kang Usup membawakan diskusi puisi dengan sangat memukau dan menawan. Saya yang sangat tidak bisa menalar puisi, akhirnya sedikit demi sedikit terbawa dengan penjelasan  yang dibawakan oleh Kang Usup. Saya memang tidak begitu paham dengan puisi. Tapi saya ingin belajar banyak memang. Karena puisi itu sesuatu hal yang bisa membuat saya bahagia. Apalagi kalau diberi puisi ya. Ahaha... Ada banyak hal misteri dalam puisi yang membuat saya suka.

Kang Usup menanyakan pendapat saya dan teman-teman mengenai puisi yang telah disediakannya. Saya menanyakan beberapa hal yang tidak saya pahami. Diksi-diksi yang kurang familiar. Lalu, apa maksud penulis dengan puisi itu. Saya pikir saya lah yang paling tidak paham puisi di antara teman-teman yang lain. Lalu Kang Usup menanyakan background pendidikan yang kami jalani satu per satu. Kang Usup mengambil jalan bagaimana agar kehidupan kami bisa sejalan dengan puisi. Apa yang kami jalani juga sebenarnya adalah puisi. Lalu teman saya, Mas Amrul, mengatakan kalau latar pendidikannya Entomologi, jadi dia sangat susah mencerna puisi. Baginya ilmu pasti itu sudah ada, otomatis dalam pikirannya, untuk mengungkapkan sesuatu bisa digambarkan dengan cara yang lugas, tidak harus banyak kiasan atau diksi seperti puisi.

Kang Usup mencoba memberikan penjelasan bahwa banyak hal yang bisa dipejalari dari ilmu yang ia geluti saat itu. Suara-suara serangga misalnya, juga puisi. Perilaku serangga juga bisa dijadikan puisi. Tinggal bagaimana kita mengeksplornya saja. Kemudian terakhir, Kang Usup menanyakan latar pendidikan saya. Belum sempat saya jawab, Mas Amrul menjawab saya di Teknik Mesin -_-. “Waah mesin, itu luar biasa ya. Kamu bisa menjadikan suara-suara mesin itu sebagai puisi. Mungkin bisa dideskripsikan seperti puisi ini *menunjuk kertas* Pii Wi...yang berarti suara burung. Padahal masih banyak suara yang bisa dideskripsikan dengan yang lain. Indah bukan? Jika kita mendeskripsikannya berbeda dengan yang lain”. Dalam hati saya berkata, “Saya anak pangan Kang, tapi menorobos ke teknik mesin dan biosistem biar nggak terlalu banyak kimianya -_- Walaupun pada akhirnya penelitian saya penuh dengan kimia dan reaksi-reaksinya”.

Selanjutnya saya dan teman sekelompok pindah ke diskusi fiksi cerpen, yang dibawakan oleh Mbak Hana dan Mas Andi. Kita diberikan waktu 15 menit untuk membaca 2 cerpen. Selanjutnya diberikan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang ada dalam puisi itu. Puisi yang saya baca itu judulnya Dodolitdodolitdodolibret karya Seno Gumira dan Attar karya Afifah Afra. Kedua cerpen itu sangat bagus menurut saya. Isinya banyak dugaan dan lain dari cerpen biasanya. Lalu sudut pandang yang dipakai adalah orang kedua. Biasanya cerpen memakai sudut pandang orang pertama atau ketiga. Karena itu, kedua cerpen ini bagus sekali menurut saya.

Setelah ke diskusi cerpen, harusnya saya beralih ke diskusi non fiksi (artikel atau feature). Tapi karena waktu sudah tidak memungkinkan, dicukupkan hanya di dua diskusi saja. Padahal saya itu ingin sekali di diskusi artikel. Karena kelas itu yang saya pilih ketika sudah aktif kembali di FLP. Saya suka data-data, suka fakta, karena itu saya lebih suka dengan artikel.

Setelah Zuhur, agendanya makan bersama. Saya duduk di sebelah Prisca dan Rista, di depan saya ada Mas Amrul. Selama mengikuti pelatihan, kami memang tidak banyak interaksi, sehingga Mas Amrul mecoba mencairkan suasana dengan bercerita mengenai Lombok. Ia tinggal di Lombok dan banyak sekali hal baru yang ia ceritakan pada kami. Saya hanya mendengarkan dan diam, karena nasi yang telah dibeli Mbak Hana terlalu pedas bagi saya. Ahahah. Saya menahan pedas di mulut, jadi tidak terlalu banyak menanggapi cerita Mas Amrul.

Setelah ishoma, ada cerita singkat mengenai ke-FLP-an dari Bang Syaiha, Kang Irfan, Mas Sudi, Bunda Jihan yang dimoderatori oleh Kang Usup. Bang Syaiha dan Bunda Jihan bercerita tentang ke-FLP-an, bagaimana suka dan duka mereka selama di FLP. Bagaimana dulu perasaan mereka sebagai ketua FLP. Lalu Kang Irfan menjelaskan mengenai kaderisasi FLP. Kang Irfan ini disebut Syeikh FLP. Memang bahasanya seperti Syeikh. Banyak ayat Al-Qur’an yang ia keluarkan, jadi pantaslah disebut Syeikh. Sementara itu, Mas Sudi menjelaskan tentang FLP, bagaimana hubungan FLP Cabang dengan FLP Wilayah yang diharapkan. Banyak hal yang saya pelajari dari penjelasan senior di FLP. Semoga berkah ilmunya Bang, Akang, Mas, Bunda...

Di akhir acara adalah pelantikan anggota pramuda menjadi anggota muda. Anggota muda diharapkan produktif. Menulis sebanyak-banyaknya. Dari 22 anggota pramuda di awal, hanya belasan orang yang bertahan. Semoga dengan kuantitas yang sedikit tidak menyurutkan semangat yang kuat.


Dokumentasi FLP Bogor
Demikian cerita saya di acara inaugurasi FLP Angkatan 9. Dan perlu dicatat, ini bukan reportase, karena jelas bentuknya sudah banyak sudut pandang penulis ditambah curahan hati :D 

No comments: