Monday, 28 November 2016

Barakallah Ukhti

Selamat malam, warga Fakultas Teknologi Pertanian IPB tercinta. Malam ini saya kembali menemani perjuangan teman saya, Christmas di Laboratorium Teknik Pengolahan Pangan dan Hasil Pertanian.

Ya, perjuangan belum berakhir, maka harus diteruskan, dilanjutkan, dan diselesaikan. Saya hanya menemani dan menyemangatinya saja. Yang menyemangati saya siapa ya? Cukuplah do'a kedua orangtua dan saudara-saudara saya.

***
Kemarin saya mendapat undangan Walimatul Ursy dari sahabat SD saya, Eka. Ibu dokter yang satu ini adalah sahabat saya sejak kelas IV SD di Bukit Tinggi. Dulu kami satu asrama di Balai Gurah. Ketika SMP, saya melanjutkan sekolah di SMP negeri saja, sedangkan Eka di salah satu Islamic Boarding School di dekat rumah saya. Lalu SMA, sekolah saya tetanggaan dengan sekolahnya Eka. Saking dekatnya sekolah kami, dulu saya sering memanggilnya dari pagar sekolah saya. Lalu pulang sekolah bisa saling menunggu, walaupun itu sangat jarang terjadi karena perbedaan jadwal exschool kami yang tidak sama. Waktu bimbingan belajar untuk menghadapi SNMPTN, saya dan Eka juga satu kosan. Lalu ketika kuliah saya di Medan dan Eka di Aceh.

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya di penghujung bulan Ramadhan, saya dan Eka akhirnya bertemu setelah sekian lama di Botani Square Bogor. Ternyata Eka bekerja di salah satu rumah sakit di Bogor. Kami berbicara banyak hal waktu itu, salah satunya adalah tema pernikahan. Bagi gadis belia yang baru beranjak dewasa seperti saya, pembicaraan ini sangatlah berat :p. Seperti biasa, saya tetaplah ingin menjadi SriE (dibaca Sri_E, panggilan Eka untuk saya) yang ia kenal dulu, saya tidak ingin berubah. Jadi, seperti kebiasaan kami, saya lebih banyak mendengar daripada berbicara. Saya lebih banyak menanggapi cerita Eka.

Ada banyak kegalauan pada boru Lubis ini. Saya mendengarnya juga ikutan galau *eh. Tidak. Saya tidak ingin terlihat galau, saya lebih banyak menyederhanakan apa yang Eka sampaikan. Pada beberapa pembicaraan, saya hanya menyarankan ia agar lebih mengencangkan do'a. Saya paham, dia sangat galau luar biasa. Beberapa teman saya yang lain, yang ingin menikah juga terlihat sangat galau. Wajar saja menurut saya. Ia sedang memikirkan, apa benar pemuda itu yang akan menemani hidupnya di dunia dan akhirat, apa benar lelaki itu yang akan berjuang bersamanya kelak. Apa pilihannya sudah benar. Ia tengah menyakinkan dirinya sendiri.

Ketika Eka bercerita, sebenarnya saya juga tengah menasihati diri saya. Begitulah memang sebaiknya. Ketika kata terucap, telinga yang pertama mendengar itu adalah telinga saya. Maka sesungguhnya saya lah yang pertama kali saya nasihati.

Hingga akhirnya sebulan sebelum acara pernikahannya, ia menelepon saya, lalu mengatakan sudah menetapkan dan memantapkan hati pada seorang lelaki dan akan menikah. Saya turut berbahagia atas kabar bahagia itu. Saya mencoba membayangkan Eka dengan mata yang berbinar menceritakan kabar itu pada saya." Alhamdulillah, barakallah ukhti...", ucap saya saat itu.

Dan hari ini saya ingin mengucapkan selamat di awal atas pernikahan Eka yang akan berlangsung pada hari Sabtu ini. Saya ingin mencatat momen bahagia ini di sini. Saya ingin merekam tulisan ini ketika saya benar-benar bahagia. Saya tidak ingin melewatkan momen bahagia ini, hingga saya harus menuliskannya sebelum akad berlangsung. Kelak, saya juga ingin menunjukkan tulisan ini pada Eka. 

Semoga Allah memberi berkah kepada Eka, dan semoga Allah memberi berkah atas Eka, dan semoga Ia mengumpulkan Eka dan calon suami dalam kebaikan. 

Eka...
Hal terindah dalam pernikahan adalah saat kamu dan dia semakin bertambah dalam ibadah dan ketaatan. Menikahlah karena kamu temukan separuh agamamu untuk niatan ibadah. In sya Allah mencapai Samarata (sakinah, mawaddah, rahmah, dan takwa) dalam mitsaqan ghalidza (perjanjian yang kokoh). 

Menikah itu bukan tentang pasangan yang paling baik buat kita, tetapi yang jauh lebih penting adalah menjadikan diri kita sebaik mungkin. Jangan menikah hanya karena jatuh cinta, menikahlah karena kamu merasa surga Allah lebih dekat jika bersamanya.  

Sebaik-baik cinta adalah pernikahan, sebaik-baik mencintai adalah saling mendo'akan. Sakinah dalam ketenangan, mawaddah dalam kecintaan, rahmah dalam kasih sayang.  Semoga sakinah yang terjalin membina baitul mukmin.

Selamat merayakan cinta, Eka.

SriE
@Lab TPPHP Fateta

No comments: