Thursday, 20 October 2016

Sinopsis: Jodohku, Boru Tulangku

Sumber gambar: thayyiba.com

Parulian (32 tahun) adalah seorang pemuda berdarah Batak. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya di Palembang. Ayah dan ibunya sejak muda sudah merantau ke Palembang meninggalkan tanah Batak. Parulian adalah pemuda yang rajin dan cerdas. Ia bekerja sebagai dosen di sebuah universitas negeri di Sumatera. Pekerjaannya sebagai dosen dan peneliti membuatnya sangat sibuk hingga lupa untuk menikah.

Jogi (25 tahun) adalah mahasiswa pascasarjana semester akhir di sebuah universitas negeri di Medan. Ia adalah mahasiswa berprestasi dan banyak memenangkan kompetisi karya ilmiah. Ia sudah lama ingin menikah, namun belum menemukan laki-laki yang cocok. Teman-temannya sudah berkali-kali menjodohkannya dengan lelaki yang mapan, baik, cerdas, namun semuanya ditolak. Entah lelaki seperti apa pilihan Jogi, tidak ada yang tahu kecuali dirinya sendiri.

Ayah (54 tahun) dan ibu Parulian (50 tahun) sudah lama tidak berkunjung ke rumah saudara-saudara mereka di Medan, sebab Parulian selalu tidak bisa karena kesibukannya yang padat. Ayah dan ibu Parulian tidak ingin pergi jika Parulian tidak ikut. Tahun ini ibu Parulian memohon agar Parulian mengambil cuti beberapa hari untuk berkunjung ke rumah sanak keluarga mereka di Medan. Ibu Parulian sudah sangat merindukan kampung halamannya tercinta yang ditinggalkannya sejak ia berumur 17 tahun. Sekarang ia ingin ke kampung halaman membawa keberhasilannya di rantau orang.

Selain ingin berkunjung ke kampung halaman, ibu Parulian juga ingin menjodohkan Parulian dengan boru tulangnya, Jogi. Ayah Parulian sudah ingin menimang cucu, juga menginginkan penerus marga Hasibuan di keluarga besarnya. Perjodohan ini tidak diketahui oleh Parulian. Ia hanya tahu tujuannya ke Medan untuk mengunjungi sanak saudara dari ayah dan ibunya.

Sesampai di Medan, Parulian beserta ayah dan ibunya menginap di rumah keluarga Jogi. Di rumah itu, Parulian dan Jogi pun akhirnya berkenalan. Ketika makan siang, terjadilah percakapan kedua keluarga. Ibu dan ayah Parulian menginginkan agar Parulian segera menikah dengan boru tulangnya, Jogi. Begitu juga dengan ibu (48 tahun) dan ayahnya Jogi (52 tahun), mereka juga menginginkan Jogi agar segera menikah dengan anak namborunya, Parulian.

 Parulian dan Jogi terkejut dengan keinginan keluarga mereka. Jogi tidak suka perjodohan itu, sebab ia sudah menyukai seseorang yang selalu ia baca blognya setiap hari. Namun ia belum tahu bahwa pemilik blog itu adalah anak namborunya sendiri, Parulian. Mendengar keinginan dua keluarga itu, akhirnya ia mengatakan sudah menyukai seseorang yang belum ia temui sebelumnya.

Ayahnya Jogi heran dengan sikap Jogi dan meminta Jogi untuk menjelaskan alasannya untuk menolak perjodohan itu. Jogi pun menjelaskan alasannya panjang lebar mengenai keputusannya untuk tidak menyetujui perjodohan itu. Mendengar alasan Jogi, Parulian tersenyum setengah malu. Parulian yang sedari tadi hanya diam mendengarkan penjelasan dari Jogi akhirnya bersuara. Ia menyebutkan nama pena si pemilik blog. Jogi pun heran mengapa Parulian tahu.

Suasana makan siang hari itu sekejap hening dan semua mata tertuju pada Parulian yang tersenyum malu-malu. Lalu ia mengatakan bahwa pemilik blog itu adalah dirinya sendiri. Ia menjelaskan beberapa postingan dalam blog itu agar Jogi percaya bahwa ia adalah penulis aslinya. Ia memang tidak pernah menampilkan foto pribadi di blognya, sehingga Jogi tidak pernah tahu wajah pemilik blog itu.

Ayah Parulian bertepuk tangan penuh kegembiraan mendengar penuturan anak semata wayangnya. Diikuti tepuk tangan dari ayah dan ibu Jogi dengan wajah berbinar. Sementara Jogi masih setengah tidak percaya bahwa orang yang selama ini ia kagumi adalah anak namborunya sendiri. Parulian tidak menyangka bahwa boru tulangnya sudah menjadi penggemar setia tulisannya. Jogi sudah mengaguminya sejak 2 tahun yang lalu. Di dalam blog itu banyak sekali kisah perjuangan akademik Parulian hingga mencapai gelar Doktor di Belanda yang membuat Jogi mengaguminya. Banyak tulisan ilmiahnya yang menjadi inspirasi Jogi untuk menulis beberapa artikel kesehatan di media massa.

Enam bulan setelah pertemuan keluarga Parulian dan Jogi, akhirnya mereka menikah di Medan. Pernikahan itu dimeriahkan dengan upacara adat Batak. 
Tamat.


Catatan:
Boru tulang = panggilan (sebutan) untuk anak perempuan dari kakak laki-laki (abang) atau adik laki-lakinya ibu pada suku Batak.


Anak namboru = panggilan (sebutan) untuk anak laki-laki dari kakak perempuannya ayah pada suku Batak.

5 comments:

Rima Aulia said...

cinta dalam blog, kerwn Za tulisannya

Sri Efriyanti Harahap said...

Hehe, uni bisa aja deh :)
Makasih uni sayang ^^

Mang Lembu said...

sinopsis jodohku adalah boru tulangku sangat menyentuh dan sepertinya penglaman pribadi banget kayanya mah ya?
ngaku deh...ngaku

Buret mrj said...

kalau sudah jodoh tak akan kemana mana

Sri Efriyanti Harahap said...

Mang Lembu:
ahahah, maaf ya mang, bukan pengalaman saya, gak ada nyangkutnya dengan saya :p :v

Buret mrj:
Ya ya ya