Thursday, 6 October 2016

Gadis Kue Lapis

Sumber gambar: www.disinisaja.com

Gadis cantik bernama Putri itu melihat langit-langit rumahnya yang bocor akibat hujan deras semalaman. Tampaknya atap yang terbuat dari triplek itu sudah tidak mampu lagi menahan air hujan yang turun sejak tadi malam hingga subuh ini. Nasi yang ada di meja makan pun sudah tergenang air hujan. Lemari pakaian yang berada di sebelahnya juga tampak lembab. Dinding-dinding terlihat basah. Ia tahu atap itu tidak akan diperbaiki oleh ibunya. Percuma saja jika menyampaikan keluh kesahnya pada ibu. Ibunya tak bisa berbuat apa-apa.

Kakak laki-lakinya yang melihat genangan air dimana-mana hanya bisa marah. Ia juga tak bisa melakukan apa-apa. Siang dan malam ia hanya nongkrong dan balapan liar dengan teman-temannya. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk keluarganya kecuali satu, membawa uang hasil judi jika menang.

Putri mengeringkan nasi dengan air yang menggenang itu ke dalam panci, lalu ia ambil korek untuk menghidupkan kompor. Ibunya melihat Putri yang memanaskan nasi dari kamar tidurnya yang tak berdaun pintu. Hanya ada selembar kain lusuh transparan sebagai penutup kamarnya. Ia hanya bisa berbaring di ranjang seharian. Tak ada yang bisa ia lakukan karena kakinya telah lumpuh akibat kecelakaan dua tahun silam.

***
Langit perlahan bersinar, angin yang lembut menepuk pipi Putri yang kurus. Ia kembali menekuni rutinitasnya sebagai pedagang kue lapis yang ia peroleh dari toko kue Mak Onah. Walaupun untungnya tak seberapa, ia menyenangi pekerjaannya itu. Dengan berjalan kaki, ia melintasi rumah penduduk kompleks di seberang desanya. Ia tahu kuenya tidak akan terbeli oleh tetangganya, maka ia menjualnya di perumahan seberang desa yang lumayan makmur ekonominya.

Ia berteriak dengan suaranya yang melengking “Kue lapis...Kue enak...” yang ia ucapkan berulang-ulang dari pagar rumah yang satu ke rumah yang lain. Tak lama kemudian, seorang  anak kecil seusianya di perumahan itu membuka pintu pagar, lalu membeli kue lapis dagangannya. Ia membungkus kue-kue yang telah dibelinya itu dengan plastik tipis berwarna hitam yang ia beli di warung Pak Togar. Setelah pembeli membayar kuenya, ia bergegas melangkah ke rumah yang lainnya.

Kue lapis...kue enak...”, teriaknya kembali sembari melangkahkan kakinya yang terkena cipratan becek di jalan. Tak jauh dari rumah sebelumnya, ada seorang ibu yang membukakan pintu rumahnya. Kemudian melangkah ke arah Putri. Wajah Putri tampak berbinar, mengira si ibu ingin membeli kue lapisnya. Ibu tadi dengan wajah yang tampak kesal menghampiri Putri, lalu memarahi Putri yang merasa tak bersalah. “Kamu tahu nggak, saya lagi tidur nyenyak jadi bangun karena suara kamu yang kayak mercon. Kalau mau jualan gak usah di sini dong. Saya juga bisa beli kue yang lebih enak di mall”.

Mendengar kalimat si Ibu, Putri berbegas pergi meninggalkan tempat itu. Ia mengayunkan kakinya lebih cepat, setengah berlari. Ia tahu kalau berdiri semakin lama di hadapan ibu tadi akan semakin banyak kata-kata yang berhamburan menyayat hatinya. Ia pun tahu kalau kata maaf tidak ada gunanya. Akhirnya, ia berjalan mengelilingi perumahan dengan suara yang lebih pelan, karena khawatir peristiwa tadi terulang kembali. Ia menyusuri perumahan sembari melihat kue lapisnya yang masih banyak.

Langit biru tampak menjingga pertanda sore sudah menjelang dan tak lama lagi akan menjadi abu-abu yang menghitam. Putri kembali ke warung Mak Onah dengan membawa kue lapis yang banyak karena tak laku. Ia berjalan dengan wajah yang lelah dan hati yang pilu. Sesampai di warung Mak Onah, ia kembalikan kue-kue itu. Mak Onah memberikan upah pada Putri atas kerja kerasnya seharian. Tak lupa Mak Onah menasehatinya.” Hidup ini memang keras Nak, kau harus kuat. Rajin-rajinlah bekerja agar kau bisa membiayai sekolahmu lagi”, kata Mak Onah setengah iba. Putri hanya tersenyum mendengar nasehat Mak Onah. Ia tahu untuk kembali bersekolah adalah perkara yang sulit, kecuali ada seorang dermawan yang membantunya. Putri melangkahkan kakinya menuju rumah ibunya yang sebenarnya tak layak disebut rumah.

Setibanya di rumah, ia melihat ibunya sedang tidur. Sementara kakaknya tidak ada di rumah. Kakaknya lebih sering pulang dini hari di saat Putri dan ibunya tertidur lelap. Selang beberapa menit ibunya terbangun mendengar suara panci yang terjatuh di dapur. Ibunya memanggil Putri yang sedari tadi duduk terdiam memikirkan nasibnya yang tak jelas arahnya.
“Putri..., kemari Nak”, ucap ibunya dengan suara yang parau.
“Iya, Bu”, jawab Putri sambil berlari menuju kamar ibunya.
“Bagaimana jualanmu hari ini, Nak?”
“Alhamdulillah, banyak yang laku, Bu”, jawab Putri setengah berbohong. Ia hanya ingin memberikan jawaban yang bahagia pada ibunya, agar ibunya tidak mengasihaninya.
“Kalau laku terus, kamu akan bisa kembali ke sekolah Nak, melanjutkan cita-citamu”, ucap ibunya dengan wajah tersenyum”
Putri tersenyum mengangguk, mengiyakan ucapan ibunya. Walau dalam hatinya ia merasa bersalah karena telah membohongi ibunya.

Adzan Maghrib pun akan segera berkumandang, Putri mengambil handuk yang tersangkut di belakang pintu kamar ibunya, dan bergegas ke kamar mandi. Putri berangkat ke surau untuk mengaji bersama teman sebayanya. Ia sebenarnya enggan ke sana karena banyak sekali temannya yang meledeknya sebagai si miskin. Namun, ia tetap datang ke surau untuk belajar mengaji bersama ustadz yang dapat menguatkan hidupnya. Ia selalu teringat pesan ibunya untuk tidak meninggalkan shalat dan rajin mengaji.

Andaikan Putri bisa mendapatkan sekolah gratis, tentu ia akan rajin sekali belajar. Di surau, ia adalah murid yang paling bagus bacaan Al-Qur’annya. Bisa dibayangkan kalau ia sekolah, tak akan kalah hebatnya.

***
Pagi sekali, Putri sudah terbangun mendengar suara kakaknya yang mendorong pintu rumahnya dengan keras. Pintu itu terbanting ke dinding rumah yang catnya sudah mulai menipis. Di permukaan dinding itu tampak beberapa retakan membentuk garis-garis tak beraturan. Putri keluar kamar hendak melihat apa yang dilakukan kakaknya. Kakaknya muncul dengan jalan yang sempoyongan setelah mabuk keras.

Putri langsung berpikir, kakaknya habis kalah taruhan dan pulangnya ia minum alkohol yang terlalu banyak. Kakaknya memang orang yang keras kepala, tidak bisa menerima kekalahan. Wataknya sama dengan almarhum Bapaknya. Putri hanya bisa melihat kakaknya seperti itu. Ia tahu nasehatnya tidak akan bisa mencegah kelakuan kakaknya. Ibunya saja sudah angkat tangan. Semua hanya bisa diam. Tak ada yang bisa diperbuat.

Putri mencuci mukanya ke kamar mandi, lalu mengambil air wudhu untuk shalat dan mengaji. Ia mengaji setengah berbisik, khawatir kakaknya marah-marah karena mendengar alunan suaranya. Pagi harinya, ketika matahari mulai meninggi, Putri bergegas menuju warung Mak Onah setelah berpamitan pada ibunya yang selalu terbaring di kamar tidurnya.

Putri mengayunkan langkah kakinya. Dalam perjalanan ke warung Mak Onah, ia berharap masih banyak kue lapis yang tersedia. Setibanya di warung Mak Onah, ia melihat hanya ada sisa sepuluh kue lapis yang bisa ia jual.
“Putri, kau datang terlambat. Bu Tati telah membeli kue lapis yang banyak sehabis subuh tadi. Katanya untuk acara di kantornya”, kata Mak Onah memberi penjelasan pada Putri.

Putri hanya tersenyum kecut. Sebenarnya ia bersedih, namun walau begitu wajahnya tak bisa berbohong. Gadis mungil itu tidak dapat menyembunyikan sedihnya. Putri tetap ingin menjajakan sepuluh kue yang tersisa.
“Saya ingin menjual sepuluh ini Bu", ucap Putri sembari menunjuk kue lapis yang diletakkan di baskom berwarna abu-abu.
“Tapi ini hanya sedikit, kau tidak akan mendapatkan untung”, ucap Mak Onah yang mencoba menjelaskan.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya tetap ingin menjualnya”, sahut Putri.

Akhirnya Mak Onah pun tak bisa menahan keinginan Putri. Ia tahu gadis cantik yang malang itu seorang pekerja keras. Putri membawa kue lapis itu beralaskan plastik hitam yang telah kusut. Bisa diperkirakan plastik itu sudah berulang kali ia gunakan hingga bentuknya pun sudah tidak karuan.

Putri membawa dagangannya kembali ke perumahan di seberang desanya. Berharap hari itu ia memperoleh banyak untung dari pembeli yang memberinya uang lebih. Harga kue lapis itu hanya Rp 1.500, terkadang pembeli membayarnya dengan harga Rp 2.000 per kuenya. Namun di persimpangan jalan menuju perumahan, Putri dicegat oleh sekelompok pemuda desa. Putri tidak tahu kalau para pemuda itu adalah teman kakaknya yang suka mabuk-mabukan. Mereka ingin mengambil kue lapis dagangan Putri.
“Hei kau, sini sebentar. Mau kemana? Apa yang kau bawa itu?”, ucap salah seorang pemuda.
Putri tertunduk diam. Ia memeluk plastik hitam yang berisi kue. Ia tidak mau kue lapis itu sampai ke tangan preman yang mencegatnya.
“Kau jawab pertanyaan kawanku dulu. Kau nggak dengar ya?”, bentak salah seorang pemuda yang lain.


Sementara preman yang lain tertawa terbahak-bahak melihat Putri yang ketakutan. Kakinya bergetar, tangannya mulai dingin. Ia tahu ia tidak akan bisa berlari dari kawanan preman itu. Akhirnya Putri memberikan plastik itu pada seorang pemuda yang sudah berada di hadapannya. Setelah itu Putri berlari kembali menuju rumahnya. Ia tahu plastik itu tidak akan kembali setelah diberikannya. Satu jam setelah kejadian itu kakaknya Putri datang menemui teman-temannya. Kue lapis rampasan itu dimakannya bersama keenam temannya. Ia tidak tahu kue itu adalah dagangan adiknya sendiri.  Putri hanya bisa menangisi nasibnya, sementara kakaknya tidak peduli padanya.



*Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesamaan nama, tokoh, karakter ataupun peristiwa.