Thursday, 20 October 2016

FLP Bogor Gelar Kelas Menulis Sinopsis dan Naskah Film

Forum Lingkar Pena Bogor menggelar kelas menulis yang bertema sinopsis dan naskah film pada Ahad (16/10/2016) di Common Class Room S2 Agribisnis FEM IPB. Pelatihan ini merupakan pelatihan ke-5 yang harus diikuti oleh anggota Pramuda Angkatan ke-9 FLP Bogor.

Pelatihan dimulai dengan diskusi yang dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok terdiri dari 5 orang, 4 orang anggota pramuda dan satu orang anggota FLP senior. Diskusi tersebut membahas beberapa poin penting. Pertama, mengenai relevansi tugas menulis di setiap sesi dengan kehidupan anggota. Kedua, mengenai kendala yang ditemui saat pengerjaan tugas. Ketiga, membagikan ide-ide yang diperoleh saat pengerjaan tugas dengan teman sekelompok. Keempat adalah membahas unsur intrinsik dan teknis menulis.

Seusai diskusi, kelas menulis kemudian dilanjutkan oleh materi yang bertema sinopsis dan naskah film yang disampaikan oleh pengurus FLP Jakarta Raya, Sudiyanto. Sudiyanto memaparkan bahwa industri film itu jauh lebih sadis dan kasar. Namun para penulis tidak perlu takut. Sudiyanto menyemangati agar para penulis, khususnya anggota FLP agar terus menulis dan belajar. “Dalam menulis skenario, kita harus punya visi dan misi ”, ujar Sudiyanto di tengah pemaparannya.

“Sinopsis skenario film tidak jauh berbeda dengan sinopsis novel”, ujar Sudiyanto. Dalam skenario film itu ada proses pengenalan karakter, proses penanjakan, permasalahan, dan penyelesaian konflik. Skenario film bermula dari premis (ide dasar) yang kemudian dikembangkan menjadi sinopsis, lalu dikembangkan lagi berupa scene-scene yang berubah menjadi draft skenario. “Draft skenario bentuknya kronologis yang berurutan menggunakan narasi”, jelas Sudiyanto dalam penyampaiannya.

Dokumentasi: Sri Efriyanti Harahap

Film harus mampu menarik penonton. Di dalam film bisa disisipkan unsur ketegangan dan haru yang mengaduk emosi. “Di awal skenario sebaiknya tidak bertele-tele. Ada perubahan tokoh yang masuk akal, bukan membuat tokoh utama menjadi sosok seperti malaikat yang tidak punya cacat sedikitpun. Tokoh utama yang digambarkan dibuat seperti manusia biasa pada umumnya", papar Sudiyanto. Di penghujung acara Sudiyanto memberikan waktu selama sepuluh menit kepada anggota pramuda untuk menulis sinopsis yang kemudian dibahas sebagai pembelajaran kepada seluruh peserta. (Yanti)



2 comments:

Eksapedia said...

Wah keren mbak :-)
semoga makin banyak generasi muda yang berkreasi lewat tulisan..

Sri Efriyanti Harahap said...

Terima kasih, mas :)
Aamiin