Tuesday, 2 August 2016

Lalu, kapan Kau Menikah?

Nikah. Satu kata yang banyak diucapkan teman-temanku beberapa bulan belakangan ini, terlebih ketika menginjak bulan Syawal. Nikah, satu kata yang dalam bayangku masih jauh. Nikah, satu bukti perayaan cinta, bagi mereka yang telah terpaut hatinya.


Lalu, seseorang bertanya kepadaku. 

Kapan kau menikah?

Entahlah, aku masih ingin mengejar mimpi-mimpiku sebelum menikah. Dan aku harus menyelesaikannya sebelum menikah.

Apa salahnya menikah saat studi?
Tidak bisa. Ini juga masalah janji dan prinsipku pada orangtua. Masalah fokus dan target-target yang harus dipenuhi.

Lalu, sampai kapan?
Segera.

Siapa sih manusia normal yang tidak ingin menikah.


Seribet apa pernikahan itu hingga kau menundanya, Yanti?
Aku tak pernah menunda, tapi aku sendirilah yang belum siap.

Kenapa belum siap?
Aku punya target kehidupan yang harus kucapai. Yah, mungkin rasanya sangat klise. 

Apakah tidak ada orang yang kau cintai?
Cinta? Lelaki asing sulit untuk kucintai. Aku yakin, cinta itu datang setelah menikah. Kalau kecenderungan hati, barangkali ada. 


Kenapa tidak menikah dengan dia yang kau rasa ada kecenderungan?
Tidak semudah itu. Nikah bukan masalah dua hati, tetapi masalah dua keluarga besar. Dalam pernikahan ada akad. Kau tahu, apa akad itu? Akad adalah jual beli secara terminologi. Yah, mungkin terkesan kasar. Namun, ketika kau berbicara terminologi, itulah kata yang sebenarnya. Dan saat ini, aku tentu saja milik orangtuaku. Mereka berhak mengatakan "iya" atau "tidak" atas aku.


Hei, ini hanya dunia. Tak perlu kau resah untuk memiliki orang yang kau sukai. Jika kau merasa cinta bertepuk sebelah tangan, tak perlu galau. Aahh, ini hanya dunia, kawan...


Allah sudah mengatur segalanya sebelum kau tahu. Tak perlu resah. Masalah hati itu begitu kecil. Masih banyak masalah-masalah lain yang perlu kau tangani. Masalah ummat jauh lebih besar dibanding itu.

Bukankah dalam ayat-ayat cinta-Nya Allah berfirman pada QS. Al-Baqarah: 216, 
Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.



Tulisan ini saya dedikasikan pada teman-teman yang baru saja menggenapkan separuh dien-Nya di Sumatera Utara.

Maafkan aku yang tak sampai melangkahkan kaki ke walimahan pernikahan kalian.  Ini hanya masalah jarak dan kondisiku saat ini. Moga kita bisa bertemu ketika aku kembali ke sana. Selamat merayakan cinta...


Sumber gambar : malahayati.ac.id 



Dengan sepenuh cinta,

Pengeja Langit





2 comments:

Ibnu Syahri Ramadhan said...

Haii Yanti,...
Terus bersemangat ya... Kamu tidak sendiri kok. Ada banyak orang yang berjuang sepertimu saat ini. Terus bersemangat, pangeran selalu datang di saat yang tepat. Percayalah. :D

*sabtu-bersama-bapak-mode-on :))

Sri Efriyanti Harahap said...

Ahahaha, ok Bang Ibnu :)
Makasih abang awak