Friday, 22 July 2016

Sakit Sebagai Penggugur Dosa


Selamat Siang, Kampus Hijau...
Jum'at berkah....

Jum'at ini suasana kampus sudah semakin ramai. Anak kosan Wisma Ayu juga sudah pada pulang dengan personil yang lengkap. Akhirnya aku tidak kesepian lagi. Yeay, alhamdulillah ^_^

Hari ini aku sedikit cerita tentang beberapa hari yang telah kulalui, sejak Jum'at pekan yang lalu.
Jum'at itu aku merasa sakit di telingaku. Kupikir karena aku sering menggunakan headset ketika menonton atau mendengarkan lagu. Sebenarnya aku juga kurang nyaman menggunakan headset, karena sedikit risih ada benda asing yang menempel di telingaku. Tapi kubiasakan memakainya agar orang di sekitarku tidak terganggu dengan suara yang keluar dari laptopku ketika di LSI,  Koridor Fateta atau kamar kosan.

Sejak Jum'at itu aku biarkan telingaku normal, namun tidak juga membaik hingga Ahad. Akhirnya Senin kucoba datang ke klinik yang di dekat kampus, tapi dokter THT nya sudah tidak ada, dan belum ada penggantinya.Lalu akhirnya aku ke Rumah Sakit karena tidak ada pilihan lagi. Aku tahu, rumah sakit membutuhkan biaya yang mahal hanya untuk menangani kasus ini. Hmm, apa boleh dibuat, tabunganku pun harus terkuras. Tapi tidak mengapa, rezeki akan selalu ada 'kan?^_^

Setelah antri selama 2-3 jam dan melewati tahap pengobatan, aku diberi beberapa jenis obat oleh dokter. Malamnya aku istirahat di kamar. Tidak ada yang kulakukan selain berbaring, yang kadang-kadang sambil memandangi handphoneku untuk mengusir kesuntukan.

Besoknya aku menghadiri kolokium temanku karena sangat ingin melihat penampilannya. Saat berjalan menuju kampus, sebenarnya kepalaku sudah pusing, tapi aku berusaha untuk melawannya. Dan alhamdulillah, aku sampai di kosan dengan selamat. Namun beberapa menit ketika duduk di kelas, aku merasa tubuhku semakin tidak baik dan rasanya mual. Aku merasa gejala ini sudah berbahaya, jadi kulangkahkan kakiku keluar kelas. Padahal saat itu presentasi kolokium temanku masih berlanjut.

Lalu, a
ku berjalan dengan menahan rasa sakit, namun di tengah koridor kelas aku sudah tidak tahan lagi. Maaf, aku muntah sebelum sampai ke kamar mandi. Dan betapa malunya aku, ada teman sekelasku, sebut saja namanya Mas F melihat kejadian itu, hingga aku berlari ke toilet. Di toilet rasa mual itu juga masih ada. Hingga akhirnya kutenangkan diri sesaat, lalu membersihkan koridor kelas akibat kejadian tadi. Aku mengepel lantai seperti layaknya CS di kampus. Ahahah.

D
an tetiba saat itu teman sekelasku, sebut saja namanya Bang O keluar dari kelas, lalu menghampiriku yang sedang mengepel.
"Mbak Yanti lagi ngapain ya?"
"Bersih-bersih mas"
"Bersihin apa mbak?"
"Tadi saya muntah di sini mas"
"Aaah, Mbak Yanti sakit?"
"Begitulah mas" (senyum)
"Mbak, tahu gak ruang Pak S dimana?"
"Di bawah mas, nanti mas turun tangga, terus belok ke kanan, nanti ada ruangan ke dua setelah itu. Nah itu ruangannya"
"Kalau Tecknopark dimana mbak?
"Itu mas, gedung yang menuju Alhurriyyah. Sebelum Alhurriyyah deh kalau dari sini"
"Yang mana ya mbak?
Aku bingung menjelaskan seperti apa lagi, saat itu aku sebenarnya pusing sekali. Tapi mas nya masih ngajak ngobrol panjang. Tapi beberapa saat mas nya paham mungkin melihat wajahku yang semakin pucat.
"Oh ok deh mbak, nanti saya tanya orang di sana aja"
"Iya mas, maaf"
"Ok mbak"

A
ku kembali ke kelas setelah membersihkan koridor kelas. Kembali mengikuti presentasi dari dua orang temanku. Namun belum sampai 15 menit, perutku tidak semakin membaik. Aku kembali ke toilet, berlari agar tidak seperti kejadian tadi. Kali itu aku membawa tas, agar segera pulang saja untuk istirahat.

K
etika aku berlari, Mas N (teman tetangga prodi) melihatku penuh keheranan. Aku yakin dia mendengar suaraku di toilet. Karena jarak dia duduk tidak begitu jauh dari toilet, dan saat itu suasana kampus sangat sepi.

K
etika aku keluar, Mas N juga menanyakan apa yang terjadi. Lalu kujelaskan dengan singkat kalau kondisiku kurang baik dan aku harus segera pulang.

H
uwaaaah, saat itu aku malu sekali dengan tragedi itu. Aku ingin bersembunyi satu minggu agar Mas F, Bang O, dan Mas N nggak ingat lagi dengan kejadian itu. Anehnya hari itu yang tahu kejadian itu semuanya laki-laki, dan tidak bisa menolongku apa-apa. Memang karena kampusku ada di area Teknik yang penghuninya mayoritas laki-laki, jadi dimaklumi saja kalau orang yang kutemui akan kebanyakan laki-laki.

H
arapanku untuk menyembunyikan sakit sepertinya tidak menjadi kenyataan. Malamnya Mas F di grup kelas menanyakan 
"Mbak Yanti sudah baik kah?"
Dan akhirnya teman-teman sekelas tahu kalau aku sakit. Aku pun menjelaskan kepada mereka. Banyak yang ingin tahu, ada yang merasa ketinggalan informasi, ada yang kepo, ada yang menasehati dan memberikan saran.

K
ata mereka aku jangan terlalu lelah, lebih banyak istirahat. Aiiih, padahal aku merasa selama ini terlalu banyak beristirahat. Banyak waktu yang kugunakan sia-sia, karena itu aku berusaha memanfaatkannya dengan baik. Itu saja.

B
eberapa saat setelah diintrogasi temanku, aku ditelepon oleh Christmas. Dia menyambungkan komunikasiku dengan paribannya (dalam bahasa Batak artinya anak namboru). Aku menceritakan kondisiku dan si abang itu menanyakan obat apa saja yang kukonsumsi. Aku menyebutkan beberapa merk, dan ternyata obatnya itu berdosis tinggi dan berefek samping, makanya aku sempat mual dan pusing. Dia memberikan saran agar aku istirahat yang banyak dan jangan khawatir dengan efek sampingnya.

S
etelah itu aku baru lega. Alhamdulillah...
Terima kasih Christmas. Anyway, tadi kita ngomongnya Batak kali ya :p Yah, sesaama orang Batak memang. 


S
emoga sakit ini menjadi penggugur dosa, ya Rabb... Dan semoga bisa kuambil hikmahnya seperti hadist shahih  yang berbunyi 
"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”.


Green Campus IPB,
@Pendopo Rektorat