Tuesday, 12 April 2016

Bersabarlah!


Selamat siang, Dramaga. Selamat Hari Selasa rasa coklat. Semoga hari ini aktivitas kita berkah yaa. Aamiin.

Sumber gambar: www.digaleri.com


Saya ingin bercerita tentang kesabaran. Menurut kamu, apa itu sabar? 

Sabar itu... ilmu yang harus dipelajari sampai mati, ilmu yang tidak bisa hanya diucapkan begitu saja, ilmu yang harus terus-menerus diupgrade. Sabar itu..., bisa kamu defenisikan sesuai versimu guys ^_^


Betapa banyak orang yang tidak sabar di sekitar kita. Misalnya saja ketika mengantri makanan di kantin, ada saja orang yang tidak sabar, lalu berusaha menyerobot antrian di depannya. Ketika mengerjakan setumpuk tugas, ada yang tidak sabar, lalu mengerjakannya tidak sepenuh hati dan tidak optimal. Ketika mendengarkan pendapat saudara kita, ada juga yang berani memotong pembicaraan yang membuat hati orang yang sedang berbicara sakit. Sungguh, sabar ini sangat susah mengaplikasikannya. Begitupun dengan saya yang masih belajar untuk bersabar.

Jika dibuat kurvanya dalam Matematis, ordinat x dan y. Kesabaran akan berbanding lurus dengan kebaikan, sementara ketidaksabaran akan berbanding lurus dengan keburukan.

Saya punya seorang teman yang sabarnya sungguh luar biasa. Saya sangat kagum dengan akhlak beliau. Kalau melihat saya yang seperti ini, bertingkah seperti anak gadis yang beru beranjak dewasa, saya terkadang malu pada beliau. 

Beberapa kali saya mendapat cerita kalau ia sering dimanfaatkan oleh temannya. Saya awalnya tidak tahu apakah itu akibat kepolosannya atau ketidaktahuannya menganalisis orang. Lalu, tidak begitu lama saya tahu bahwa ia sebenarnya tahu apa yang terjadi. Ia adalah gadis yang cerdas, tentu tidak sulit baginya untuk membaca situasi.

Namun, saat itu juga ia hanya tersenyum atas perlakuan teman-temannya. saya yakin saat itu terjadi, ia juga berdo'a untuk kebaikan orang yang menzholiminya. 

Pun saya kagum padanya saat ia bercerita tentang nasihat yang cukup keras oleh dosennya. Dia tidak sedikitpun menggerutu. Ia bahkan menyalahkan dirinya, yang katanya mungkin kurang belajar dan membaca literatur. "Mungkin saya sih Yan yang salah, saya terlalu santai, bla..bla..bla..." Mungkin jika itu terjadi pada saya, saya tidak akan sekuat dia. Ya Rabb...

Ia terbuka untuk menceritakan banyak hal, tetapi sangat menghindari ghibah. Menurutku ia adalah muslimah yang sangat cerdas, namun selalu merunduk seperti padi atas ilmu yang ia peroleh. Ia tidak suka memposting hal-hal yang menimbulkan decak kekaguman seperti foto-foto pribadi. Padahal sifat wanita sangat menyukai untuk dipuji seperti ungkapan "Masya Allah cantiknya", "Wah, saya pikir bidadari hanya ada di syurga, ternyata di dunia ada juga ya", "Masya Allah ukhti, cantiknya keterlaluan deh". Saya tahu dia cantik, karena itu mungkin dia ingin menjaga mata para lelaki non mahromnya. Saya pernah menanyakan, "Kenapa tidak pernah mengupload foto pribadi di social media?". Ia menjawab, "Ini bagian kesabaran seorang akhwat loh Yan, sabar menanti seseorang yang cukup hanya ia saja yang bisa melihat kamu".

"Aduhai, dirimu ukht, membuat aku semakin kagum, "ucapku dalam hati.


Sabar itu tidak ada batasnya, ucapnya padaku suatu hari. Saya pernah bilang, "Boleh nggak saya marah, sebentar saja, agar ia tahu kalau ia salah". Ia hanya berkata padaku, "Nasihatnya dengan yang ahsan ya ukht, senyum, jangan marah, buat ia benar-benar paham atas perkataanmu". Saat itu rasanya aku begitu semakin mungil. Awalnya aku ingin memperlihatkan sedikit kemarahan untuk melerai orang yang kumaksud, tapi setelah kupikir-pikir juga untuk apa aku harus berkata seperti orang yang marah. Sungguh betapa indah jika berkata pada orang trsebut sambil tersenyum. Penuh kedamaian. Dan di sana juga lah letak kesabaran itu.

Di antara kita, pasti ada saja yang berbuat salah. Di antara kita akan selalu ada yang sakit hati atas perbuatan orang di sekitar kita yang mungkin tidak disengaja. Jika hal itu terjadi, bersabarlah. Allah akan menguatkanmu. Dan jangan terlalu baperan, istilah anak zaman sekarang. Santai saja dan ingat bahwa surga terlalu indah jika dihuni seorang diri. Bawa teman-temanmu, orang di sekitarmu merasakan indahnya kesabaran.

Kesabaran tentu berbeda dengan pasrah. Sabar bukan berarti pasrah. Jika hakmu dirampas, tentu ada cara yang lebih ahsan, yang baik untuk meredamkan masalah yang ada. Bersabarlah untuk hidup yang indah. Bersabarlah untuk kenyamanan. Bersabarlah agar dunia semakin ceria.


Salam, 
Pengeja Langit

@Perpus LSI IPB
Menjelang Zuhur

6 comments:

lisa lestari said...

seperti diingatkan, makasih

lisa lestari said...

seperti diingatkan, makasih

Wiwid Nurwidayati said...

Saya masih jauh Dari sabar

Sasmitha A. Lia said...

Aduhai.. semoga bisa meneladani sikap beliau..😊

khofiyaa rizki said...

tulisannya menginspirasi, mengajarkan untuk belajar bersabar hingga ajal menjemput. semoga tetap istiqamah untuk menebar kebaikan ya kak melalui tulisannya... ^^ salam kenal

Sri Efriyanti Harahap said...

Mbak Lisa:
Terima kasih kembali mbak :)

Mbak Wiwid:
Saya juga mbak :(

Mbak Mitha:
Aamiin ya Rabb
:)

Mbak Khofiyah:
Terima kasih sudah berkunjung ke rumah maya saya mbak.
Salam kenal kembali ya mbak