Monday, 28 March 2016

Mempersiapkan Kematian Terindah



 
Giveaway 8 Hari Menuju Kematian
Hidup di dunia ini hanya sementara, akhiratlah tempat hidup yang kekal. Dunia hanyalah persinggahan untuk menabung amal baik sebanyak-banyaknya agar kelak timbangannya lebih berat dibanding amal buruk. Setiap makhluk yang bernyawa di dunia ini tentu akan merasakan akhir dari hidupnya, yang kita sebut sebagai kematian. Tiap kita tentu ingin mati dalam kondisi yang terbaik, terindah, tidak ada masalah, dan tidak membebani siapapun.

Menulis tentang kematian tentu sangat berat bagi saya. Betapa tidak, karena bercerita tentang kematian adalah bercerita tentang sebuah akhir dari kisah hidup. Jemari ini rasanya bergetar ketika diingatkan kembali bahwa hari yang pasti itu akan datang. Sebagai insan yang beriman, tugas kita adalah mempersiapkannya dengan sebaik mungkin. Saya selalu memimpikan kematian terindah dalam hidup saya. Kematian yang menenangkan, kematian yang tidak membawa masalah, kematian yang membuat orang lain akan ingat pada Sang Pencipta bahwa hidup di dunia ini tidak kekal selama-lamanya. Mengingat itu saja, kadang saya sudah tak mampu, karena berpikir bahwa amalan saya belumlah banyak, saya masih sering melalaikan perintah Allah dan masih sering mengundur-undur waktu shalat. Amalan terbaik apa yang akan saya bawa menemui Rabb semesta alam ini?

Jika waktu saya di bumi yang permai ini hanya tinggal 8 hari hari, saya akan menyiapkan 8 hari tersebut dengan sebaik-baiknya, akan berusaha memenuhi harapan-harapan saya yang belum tercapai. Tentunya 8 hari ini akan saya rancang dengan indah, agar kematian saya menjadi akhir yang indah di dunia. Ketika saya mengetahui bahwa saya akan mati 8 hari lagi, saya tidak akan memberitahukan kabar itu pada siapapun, kecuali pada seorang yang saya percaya karena saya khawatir siapapun yang mendengar kabar itu akan bersedih. Saya ingin semua aktivitas saya berjalan normal seperti biasanya. Tidak ada hal yang aneh yang membuat orang lain curiga tentang apa yang saya perbuat.

Hal pertama yang akan saya lakukan adalah memperbanyak ibadah sunnah saya. Dalam delapan hari yang tertinggal itu, saya tidak boleh meninggalkan shalat malam, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, do’a dan dzikir lebih dari hari-hari biasanya. Saya akan shaum daud agar lebih mendekatkan hati dan jiwa pada Sang Khaliq, menjadi pribadi yang lebih bersabar dan ikhlas di hari-hari terakhir menuju kematian terindah dalam hidup saya. Aktivitas itu saya lakukan di sela-sela kegiatan sehari-hari. Jadi, tidak ada hal yang aneh yang dilihat oleh keluarga, teman-teman, dan saudara-saudara saya.

Saya ingin mati di dekat keluarga saya. Jika saat itu saya sedang berada jauh dari orang tua, maka saya harus pulang kampung menemui mereka. Lalu, delapan hari menuju kematian itu akan saya habiskan bersama kedua orang tua, saudara-saudara, dan sahabat-sahabat saya. Saya akan lebih dekat ke ibu, karena selama ini saya sering merantau untuk sekolah dan jarang bertemu dengan beliau. Saya akan menceritakan banyak pengalaman hidup saya di rantau orang. Di sela bercengkerama dengan ibu dan ayah, saya menyisipkan kata “maaf” yang ibu dan ayah tidak sadari kalau itu adalah bentuk izin saya untuk pulang ke kampung akhirat.

Kepada saudara-saudara saya yang dekat, saya juga memohon maaf di sela obrolan hangat kami, dan mungkin bisa saya ungkapkan sambil bercanda halus. Misalnya kepada kakak saya, mungkin bisa saya ungkapkan dengan kalimat seperti ini, “Kak, jika urusanku di dunia sudah selesai. Aku pamit yah pulang ke kampung akhirat. Terus, kamu harus maafin kesalahan-kesalahku loh kak. Aku kan banyak salah sama kamu kak”. Mungkin kakak saya akan merasa aneh ya. Tapi begitulah cara saya untuk mendamaikan hatinya. Saya tidak ingin ia bersedih jika obrolannya terlalu serius. Saya cukup tahu karakter kakak saya, karena ia adalah saudara perempuan saya satu-satunya, ia sangat sayang pada saya. Apapun ia lakukan untuk saya, sampai terus mengalah jika saya ingin sesuatu. Kakak saya itu sungguh luar biasa. Saya juga akan sedih meninggalkannya.

Kemudian saya akan menghubungi semua teman untuk meminta maaf selama berinteraksi dengan mereka. Saya akan membuat jadwal pertemuan yang sudah saya jadwalkan sedemikian rupa. Saya akan mengunjungi mereka dalam beberapa kelompok. Saya akan mengumpulkan teman-teman SMA dalam satu kelompok, teman-teman SMP di kelompok kedua, teman-teman SD di kelompok yang lainnya, lalu saya akan menulis di blog pribadi tentang permintamaafan saya secara umum, karena saya yakin tidak semua teman yang bisa saya jumpai dalam 8 hari terakhir hidup ini.  Hal yang terpenting lainnya, saya akan melunasi hutang yang belum saya bayar selama hidup.

Untuk berjalan-jalan ke luar negeri atau dalam negeri, saya kurang menginginkannya, karena saat ini status saya masih sendiri dan belum menikah. Orang tua saya kurang menyarankan kalau saya harus berjalan-jalan sendiri tanpa ditemani saudara saya. Saya tahu, saudara-saudara saya adalah orang yang sibuk, karena itu saya tidak ingin memberatkan mereka untuk menemani saya berjalan-jalan ke luar negeri atau dalam negeri. Saya ingin mati tanpa memberatkan siapapun.

Dua hari terakhir sebelum saya pergi, saya akan menceritakan tentang kematian saya pada orang yang sangat saya sayangi, yaitu kakak kandung saya. Saya akan menceritakan kepadanya pelan-pelan bahwa saya akan pergi ke kampung akhirat. Saya harap ia tidak bersedih karena kami yakin bahwa orang-orang beriman akan bertemu kembali di surga-Nya. Mungkin saya akan berkata begini, “Kak, kamu jangan sedih ya dengan kepergianku nanti. Kita akan bertemu kok di surga. In sya Allah ya kak. Ikhlasin ya kak. Aku mohon maaf. Nanti di surga kita akan seumuran loh kak. Iiih aku nggak mau, kamu harus tetap jadi kakakku”. Rasanya kata-kata itu seperti nyata dalam angan saya dalam menuliskan cerita ini. Ya Rabb...

Esoknya saya akan membeli kain kafan sebagai baju terindah saya di alam kubur, tentu kain kafan yang sederhana. Saya akan menitipkannya kepada kakak saya, agar ia yang menyimpannya, agar ia yang memakaikannya ke seluruh tubuh saya ketika jasad ini tidak bisa bergerak lagi. Kata-katanya seperti ini, “Kak, tolong pakaikan aku kain ini ya jika waktunya tiba. Kamu selalu baik kak. Kamu memang kakak terbaikku. Hanya kamu yang bisa kumintai tolong saat ini. Kamu satu-satunya orang yang tahu tentang kematianku kak”.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.  Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali 'Imran : 185).

16 comments:

Tarry KittyHolic said...

Saya juga sempat maju mundur cantik mau ikut GA ini mbak, temanya berat tapi berhasil nulis jug a.

Sukses GAnya mbak

Vinny Martina said...

Wow... gimana cara ikutannya mbak.? Serem2 gimana gitu yah..

dunia menulis said...

Membacanya jd sesuatu mengingatkan diri ini

Sri Efriyanti Harahap said...

Mbak tarry:
Sukses juga buat mbak yaaa :)

Mbak Vinny:
Klik aja link tautannya mbak :D

Terima kasih dunia menulis ^_^

Fika AJ said...

Menarik sekali. Semoga bisa mengubah mindset kita dari kematian yang seram menjadi kematian yang indah. ^^

Aprillia Ekasari said...

Sukses GA-nya Mbak. Temanya berat, tapi emang suatu hal yang pasti bahwa manusia akan mati suatu sat nanti.

Nychken Gilang said...

Semoga nyawa meninggalkan raga dalam kondisi terbaiknya.

Rohma azha said...

aku nggak bisa bayangin kalau harus cerita kepada kakak, ku sndiri T_T

Sri Efriyanti Harahap said...

#Fika:
Iya mbak :)

#Mbak April:
Terima kasih mbak ^_^
saya juga sempat maju mundur untuk menuliskannya

#Mas Gilang:
Aamiin
Semoga ya mas

#Mbak Rohmah:
^_^
Saat menuliskannya, aku juga hampir nggak sanggup mbak

lisa lestari said...

semoga husnul khotimah, aamiin

lisa lestari said...

semoga husnul khotimah, aamiin

Sri Efriyanti Harahap said...

Aamiin

Siti Maemunah said...

Saya teringat kata murabbi, "akhwat semua, sudah punya kain kafan belum di rumah?" dan beliau ternyata sudah punya, disimpan di lemari, ditumpukan baju yang biasa dipakai sehari-hari. beli saja, katanya. jadi kalau kita meninggal, tidak repot cari kafan... nice share.. salam kenal ya teh :)

Sri Efriyanti Harahap said...

Mbak Siti:
Masya Allah, jadi mengingatkan kita pada akhirat ya teh.
Salam kenal kembali teh ^_^

Namora Ritonga said...

Terimakasih tulisannya Sri , Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin untuk segala doa2nya

Sri Efriyanti Harahap said...

Aamiin :)