Monday, 14 March 2016

Karena Buku Akan Menjadi Inspirasi

Selamat siang, Dramaga :)
Selamat Hari Senin penuh berkah ^_^

Ini adalah pekan ketiga saya mengikuti ODOP. Pekan ini bercerita tentang buku favorit saya. Bercerita tentang buku adalah bercerita tentang membaca. Seseorang yang suka dengan buku tentulah ia adalah sosok yang suka membaca. Mungkin ada kali ya yang suka dengan buku tapi nggak suka baca? :D Saya pikir buku dibeli karena ia ingin membacanya. Atau jangan-jangan ia seperti saya ya, beli bukunya dulu, bacanya nanti-nanti aja:D Hingga akhirnya banyak list buku yang harus saya baca di liburan. Ini contoh yang tidak baik. Jangan ditiru ya teman-teman :p

Saya punya banyak buku favorit, beberapa karya dari sahabat-sahabat FLP di Indonesia banyak yang saya sukai. Untuk buku terjemahan dari luar, saya suka beberapa buku yang dari Timur Tengah. Untuk buku terjemahan Eropa tidak terlalu saya minati. Karena menurut saya susah untuk dinikmati. Hehe..

Ada buku yang menjadi favorit saya belakangan ini yang berjudul "Letters to Karel". 

Letters to Karel

Sumber Gambar: http://www.muslimfamilia.com

Buku ini mampu membuat saya menangis yang saat itu saya baca di dalam perpus LSI. Mungkin saja kalau bacanya di kosan bisa terisak-isak saya-nya :p Saya mengenal buku ini dari Kiya, teman baik saya yang membawakan bukunya ke sebuah kajian. Saat itu saya melihatnya dan tertarik untuk membacanya. Lalu Kiya pun berbaik hati meminjamkannya kepada saya selama satu minggu. Tapi buku ini saya baca hanya dalam beberapa jam saja. Karena saat itu memang tidak ada tugas kampus.

Letters to Karel ditulis oleh Nazrul Anwar. Buku ini mengisahkan surat-surat seorang ayah pada anaknya Karel. Betapa sedih nasib Karel yang ditinggal ibunya paca melahirkan. Namun, Karel masih sempat diberi ASI oleh ibunya Ratna. Beberapa saat setelah Mbak Ratna memberikan ASI pada Karel, terjadilah pendarahan di rahim Mbak Ratna yang menyebabkannya harus dibawa ke Rumah Sakit. Pada akhirnya, darah yang keluar terlalu banyak hingga Mbak Ratna tak bisa diselamatkan lagi. 

Di dalam buku ini, Mas Nazrul menceritakan perjuangannya merawat Karel tanpa serang ibu. Menceritakan bagaimana ia memperoleh ASI. Saya lupa berapa jumlah ibu yang mau jadi pendonor ASI buat Karel. Yang saya ingat, ada belasan ibu. Dan Mas Nazrul mencatat riwayat keseluruh ibu yang menjadi pendonor ASI untuk Karel. Agar kelak tidak menjadi masalah bila Karel akan menikah. Karena dalam Islam, saudara sepersusuan tidak boleh menikah.

Mas Nazrul dalam buku itu juga menceritakan kebaikan-kebaikan istrinya, Mbak Ratna. Bagaimana sabarnya seorang Mbak Ratna dalam hidup. Dan kebahagiaan mereka menyambut Karel yang masih dalam rahim saat itu.

Saya beberapa kali menangis membaca bagaimana siapnya Mas Nazrul merawat anaknya seorang diri tanpa istri. Ada kalimat yang saya sukai dalam buku ini. 

“Kamu tahu, Karel? Tak ada yang lebih menyakitkan daripada kehilangan orang yang paling kita cintai. Tapi kalau kita berusaha untuk menerima, semenyakitkan apapun proses penerimaan tersebut, percayalah, rasa cinta yang lebih besar perlahan akan datang dalam kehidupan kita, entah dari siapa dan bagaimana caranya. Tak ada yang lebih menakutkan selain hidup tanpa orang yang paling kita cintai. Tapi kalau kita bisa melewatinya dengan baik, percayalah, ketakutan hanya akan menjelma kerikil kecil yang berserakan di jalan, yang bisa kamu injak atau kamu tendang sesuka hati kamu.”

Saya suka sekali dengan kalimat-kalimat itu. Kalimat-kalimat luar biasa yang menggambarkan betapa sedihnya seorang Mas Nazrul kehilangan istrinya. Namun, ia harus tegar, harus sabar. Karena ia yakin akan ada rasa cinta yang lebih besar yang akan datang dalam kehidupannya. Kehilangan seorang istri tentu sangat menyedihkan, terlebih jika usia pernikahan mereka baru menginjak setahun lebih. Masih banyak hal yang harus dilakukan bersama istri, masih banyak impian-impian yang ingin dicapai, masih banyak cita-cita yang rasanya belum terselesaikan, namun takdir berkata lain. Kita sebagai manusia hanya mampu menerimanya. Karena segalanya telah ditetapkan Sang Pencipta.

Ini salah satu buku favorit saya, teman-teman. bagi yang belum membaca, saya sarankan untuk membacanya. Banyak hikmah kehidupan yang ada di dalam kalimat demi kalimatnya yang membuat anda tenggelam dalam adukan rasa.

Buku akan selalu menjadi inspirasi bagi setiap pembaca yang dapat mengambil hikmah dari  kalimat demi kalimat, termasuk membaca buku" Letters to Karel" ini. Semoga kelak, saya juga punya buku yang bisa menginsiprasi para pembacanya. Karena itu, membaca dan menulislah. Semakian banyak membaca, semakin ingin menulis. Jadilah penulis! Paling tidak penulis kehidupanmu sendiri.

Terima kasih telah membaca postingan ini ^_^

Salam,
Pengeja Langit 

@Perpus LSI, menjelang Zuhur



3 comments:

Sasmitha A. Lia said...

Waahh aku jadi penasaran pengen baca buku itu juga mbak..^_^


Semoga kelak, saya juga punya buku yang bisa menginsiprasi para pembacanya..

Aamiin.. semoga saya juga bisa..😃

Wiwid Nurwidayati said...

Penasaran jadinya...

Sri Efriyanti Harahap said...

Mbak Sasmitha:
Aamiin :)

Bu Wiwid:
Ayo dibaca bukunya bu :D