Wednesday, 23 March 2016

Berkesan = Tak Bisa Dilupakan

Jika seseorang menanyakan, "Pengalaman apa yang paling berkesan dalam hidupmu?" Apa yang akan kamu jawab? Saya yakin di antara kita akan banyak yang menceritakan pengalamannya yang paling bahagia. Mungkin begitu juga dengan saya. Yang berkesan, tentu yang tidak bisa dilupakan hingga saat ini. Yang berkesan tentu yang masih meninggalkan bayang-bayang akan kejadian di masa itu.

Jika pertanyaan itu ditanyakan pada saya, pengalaman berkesan dalam hidup saya cukup panjang karena hampir menjiwai hidup saya  selama kuliah di S1. Pengalaman berkesan itu adalah menjadi aktivis *katanya. Entahlah, apakah pantas disebut aktivias saat itu, karena terkadang saya merasa pasif. Yang jelas, saat itu saya benar-benar diberikan amanah yang luar biasa. Luar biasa? Mungkin berlebihan ya kedengerannya. Tapi itu sih yang saya rasakan. Saat ini saya merindukannya. Ups, bukan saat ini, tapi dua tahun belakangan ini, sejak saya tidak berada di kampus hijau itu lagi.

Saat S1, saya pernah diamanahkan untuk menjadi sekretaris kaderisasi di lembaga dakwah kampus, kemudian menjadi anggota kaderisasi di lembaga dakwah yang lain, lalu menjadi anggota kewirausahaan di organisasi intra kampus , lalu menjadi anggota kaderisasi di forum kepenulisan yang lain. Hampir setiap hari saya harus rapat, rapat, dan rapat. Tiada hari tanpa rapat organisasi. Saya dulu suka bandel, kadang ke kampus hanya untuk rapat. Saya kuliah hanya sekedar duduk, diam dan dengar. Kalau dipikir-pikir, betapa kasihannya saya semasa itu yang tidak bertanggung jawab pada akademis saya. Sungguh pencarian jati diri yang keterlaluan menurut saya. Baru belakangan ini saya sadar kalau yang saya lakukan selama ini banyak yang mempertaruhkan masa depan saya sendiri. Namun, apapun yang saya lakukan saat itu bukanlah hal yang sia-sia. Saya merasakan banyak manfaatnya mengikuti keempat organisasi yang saya jalani.

Sempat "mengorbankan" akademik sudah saya lalui dengan mulus. Beberapa semester nilai saya kacau luar biasa. Ups, bukan beberapa semester sih, sepertinya hampir di setiap semester saya memang kacau. Tidak bisa memanajemen waktu dengan baik. Yang terjadi saat itu memang sungguh luar biasa, banyak gejolak di hati, banyak kegalauan, keresahan, bimbang. Saya pernah ingin mengundurkan diri dari semua organisasi saya, namun senior-senior saya terdahulu tidak mengizinkannya begitu saja.

Saya semakin bingung saat itu. Di satu sisi saya ingin cepat lulus seperti teman-teman saya yang lain. Namun, di sisi lain tidak ada orang lagi yang mau memegang amanah itu selain saya. Daripada organisasi semakin kacau karena pengunduran diri dari saya, akhirnya saya tetap menjalani kehidupan saya sebagai aktivis *katanya.

Masa-masa menjadi aktivis saat itu membuat saya kurang konsentrasi di akademis, karena pikiran yang bercabang kemana-mana. Saya belajar, malah teringat masih ada rapat kerja yang belum beres. Saya belajar lagi, teringat masih ada mubes yang belum kelar. Saya kembali belajar, teringat cucian yang menggunung. Hiksss *nangis di pojokan. Banyak hal yang mengganggu pikiran saya. Jujur saja, saya kalah untuk memanage diri saya sendiri. Saya tidak kuat untuk mengatakan "TIDAK" pada amanah-amanah yang berdatangan. Ingin lari dari amanah, tapi tidak bisa.

Jika saya mengingat masa-masa itu, saya menyesal. Ada penyesalan kenapa itu harus terjadi dalam hidup saya. Kenapa saya tidak menjadi anak baik yang belajar di lingkungan akademis saja, agar menjadi mahasiswa berprestasi, agar punya IPK tinggi, agar lulus tepat waktu, dan dapat pekerjaan yang baik ketika lulus. 

Tapi ketika melihat anak S1 yang maraknya menyiapkan kegiatan organisasinya di sini, saya juga kadang terbayang-bayang pada diri saya. Coba dulu saya tidak ikut organisasi apa-apa, mungkin saya tidak akan bisa seperti saat ini. Coba saya tidak ikut organisasi apa-apa, saya mungkin akan terus takut menghadapi orang banyak. Mungkin saya akan menjadi Yanti yang selalu pendiam. Dan banyak kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan mengenai saya.

Alhamdulillah 'alaa kulli hal. Saya bahagia menjadi aktivis, walau dulu banyak merasakan onak dan duri yang berliku-liku di setiap perjalanan saya. Itu hanya secuil rasa yang ada pada saya. Saya yakin, di antara teman-teman saya banyak yang lebih merasakan asam manisnya berjuang dan bersungguh-sungguh untuk mentawazunkan akademis dan organisasinya.

Satu alasan saya lulus dari S1 selain karena Allah adalah karena keinginan orangtua saya yang sangat mengaharapkan saya sarjana secepatnya. Alhamdulillah, akhirnya saya lulus dalam hitungan 5 tahun 3 bulan selama S1. Angka yang cukup banyak ya :D 

Banyak orang yang bertanya kenapa saya selama itu lulusnya. Saya pikir mereka tahu jawabannya. Saya yakin orang-orang yang mengetahui aktivitas saya dengan baik tidak akan underestimate.

Saat ini, saya menjalani S2 tanpa organisasi apapun. Saat ini saya berjanji pada orangtua saya akan belajar dengan baik dan sungguh-sungguh, memperoleh nilai yang baik dengan berlari kencang mengejar ketertinggalan ilmu yang saya peroleh di S1. Banyak ilmu yang belum saya pahami di S1, dan jujur saja, baru saya pahami ketika S2 saat ini.

Saya harap teman-teman yang membaca postingan ini bisa mengambil manfaat dari pengalaman yang paling berkesan dalam hidup saya :)

Saya sarankan untuk teman-teman, agar amanah pada tanggung jawab sebagai anak yang lebih diutamakan, karena ridho Allah ada pada ridho orang tua. Keberhasilan kita tidak terlepas dari do'a-do'a ibu dan ayah kita yang telah membesarkan kita hingga saat ini. And then, teman-teman jangan jadi mahasiswa yang cuma kuliah aja, bekal kepemimpinan banyak didapat di organisasi-organisasi kampus dan kepemudaan. Jangan lewatkan masa-masa mudamu hanya di satu lingkup saja, merambahlah ke lingkup yang lain. Dan ingat satu hal, seimbangkan antara semuanya agar tidak ada yang "terjatuh".

Tulisan ini sepertinya terlalu mencurah ya, kayak minyak curah :P 

Terima kasih telah membacanya ^_^  Terima kasih kepada program ODOP yang "memaksa" saya harus menulis dengan rutin, walau sepertinya belum rutin 100% ya :D


Salam,
Pengeja Langit 

@Perpus LSI
Menjelang maghrib