Wednesday, 16 December 2015

Guru Kehidupan

Ibuku adalah seorang guru sekolah dasar negeri. Beliau sosok yang cerdas dan memiliki wawasan yang luas. Beliau selalu ingin belajar lebih baik, karena menurutnya ia terlambat mengkaji banyak hal, terutama dalam bidang ilmu agama. Karena merasa terlambat belajar agama, saat ini beliau aktif mengikuti kelompok majelis taklim di 4 tempat dalam sepekan untuk mengejar ketertinggalan pengetahuannya. Beliau tidak ingin kami, anak-anaknya, terlambat belajar mengaji seperti dirinya. Karena itu ia menyekolahkan kelima anaknya sejak SD di madrasah ibtidaiyah, selain juga belajar di sekolah dasar negeri pagi harinya. Bahkan khusus untuk diriku, ia menyekolahkanku sewaktu kelas 4 SD ke sebuah madrasah di Bukit Tinggi, yang jarak  tempuhnya dari rumahku bisa mencapai 6-7 jam. Aku belajar mengaji di sana, belajar makhrojul huruf yang benar bersama ustadz dan ustadzah, tinggal di asrama anak-anak. Ia menyekolahkanku jauh dari rumah yang saat itu berumur 9 tahun hanya untuk kepentingan pendidikan.

Dari lima bersaudara, hanya aku yang disekolahkan jauh sejak SD. Dan baru kusadari beberapa tahun belakangan ini karena akulah anaknya yang paling cengeng sewaktu kecil karena jarak umur antara aku dan kakak laki-lakiku sekitar 6 tahun dan jarak umurku dan adik laki-lakiku juga 6 tahun. Aku sering merasa sendiri dan akhirnya mencari perhatian ibuku dengan sikap cengengku. Beliau tidak ingin aku menjadi anak yang cengeng dan manja ketika besar nanti, ia ingin aku mandiri dan merasakan keterbatasan kehidupan di luar. Dan beliau memang punya misi agar anaknya lebih baik dari dirinya sendiri. Alhamdulillah, aku tidak menjadi anak yang cengeng seperti yang dikhawatirkan ibu saat itu. Beliau juga mengajarkanku untuk hidup sederhana, karena kesederhanaan itu menenangkan.

Sejak lulus SMA, aku merantau kembali untuk kepentingan pendidikan, di sebuah perguruan tinggi negeri yang jauh dari rumahku. Ibu memang selalu ingin aku lebih baik, terutama dalam bidang ilmu. Kata-kata ibu yang tak pernah kulupakan, “Merantaulah ke negeri orang untuk sekolah, tapi jangan lupa kembali untuk  mengabdi dan membangun daerah”. Keempat saudaraku yang lain juga tidak ada yang kuliah di dalam kota, kami semua kuliah di luar kota. Kami selalu ingat kata-kata ibu di rumah “Carilah pendidikan yang lebih berkualitas ke negeri orang, jangan diam di rumah sendiri, kalian akan tahu banyak hal di negeri orang”. Ibulah yang mendidik kami hingga saat ini. Ibulah yang menjadi motivator kami. Ibu yang sangat konsen untuk pendidikan kami.

 Aku sangat yakin, ada banyak peran do’a-do’a ibu yang menjadikan aku bisa melanjutkan pascasarjana hingga saat ini. Sering sekali saat ujian, aku merasa tidak bisa mencapai tujuanku. Lalu merengek-rengek pada ibu dan berkata “Bu, sepertinya aku tidak bisa mengerjakan soal-soal tadi. Rasanya banyak soal yang kujawab hanya pakai feeling” Dan ibu menjawab, “Yang penting sudah ikhtiar maksimal nak, selanjutnya berdo’a saja. Masalah hasil bukan wewenang kita lagi”. Tapi hasilnya sering sekali di luar prediksiku. Beberapa kali lulus dan hasilnya di luar dugaan. Dan beberapa kali memang sesuai prasangkaku. Aku merasa sebagian besar kelulusanku karena do’a-do’a ibu.

Ibu yang mendorongku untuk sekolah. Kata ibu, “Untuk melahirkan anak-anak yang cerdas, kamu harus cerdas juga nak”. Sejak SD ibu selalu menanyakan studiku hingga saat ini. Kapan aku ujian, apakah aku kesulitan di sekolah, apakah pengajarnya baik, bagaimana sistem pengajarannya, dan segala hal yang berkaitan dengan akademikku. Walau hanya mengenyam pendidikan sampai SPG (Sekolah Pendidikan Guru) yang setara dengan SMA, namun ibu adalah sosok yang cerdas buatku. Aku bisa membaca dan menulis karena diajar oleh ibu, yang juga berprofesi sebagai seorang guru. Ibu bukan hanya guru di sekolah, ia juga guru kehidupanku. Terima kasih ibu.

Tulisan ini kudedikasikan untuk ibu yang menjadi motivator terbesar dalam hidupku dan selalu menjadi inspirasiku. Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka GA Sejuta Kisah Ibu

Dramaga, 16 Desember 2015

5 comments:

Rosmel said...

“Untuk melahirkan anak-anak yang cerdas, kamu harus cerdas juga nak” Setuju!

Makasih udah ngeramein GA Sejuta Kisah Ibu di rosimeilani.com

Pantengin apdetan dafar peserta GAnya di sini: http://rosimeilani.com/2015/12/06/daftar-peserta-ga-sejuta-kisah-ibu/

ibnuflp said...

Mantap kalilah mamak Yanti :D
Visioner

Sri Efriyanti Harahap said...

Mbak Rosmel:
Terima kasih Mba Ros ^_^

Bang Ibnu:
Qiqiqiq, semoga anaknya juga visioner ya bang

yuni zuhri said...

Salam hormat untuk ibunda mba ya.. terharu membacanya

Sri Efriyanti Harahap said...

Terima kasih Mbak Yuni, yang udah nyempetin singgah di rumah maya saya ^_^
Nanti salamnya saya sampaikan mba ^^