Monday, 27 April 2015

Menatap Langit

Hai Langit, apa kabar?
Bolehkah hari ini aku bercerita?Setelah beberapa langkah panjang kususuri, setelah masa adaptasi kulalui, dan sepanjang jalan banyak cerita yang harus kusimpan di sini, di kota hujan ini.

Terkadang, aku takut berjalan sendiri di atas segala hal yang kuanggap tinggi. Aku takut terombang ambing seperti kertas di pinggiran jalan yang bertaburan. Namun terkadang kertas-kertas itu kulihat seperti bahagia, menemukan jalannya sendiri. Tapi tidak punya pendirian karena hanya ingin mengikuti arus angin kemana ia pergi.

Langit, aku merasa bahagia dengan segala hal di sini. Walaupun sesekali selalu ada kerikil kecil yang menghantamku, melemparku diam-diam, dan terkadang ia menyakiti kakiku. Tapi tenang saja, ia hanya kerikil kecil yang tidak akan terasa sakit jika mengenaiku pelan-pelan. Karena terkadang, aku juga menyapanya, lalu ia bercerita padaku.

Langit, aku ingin sekali makan es krim hari ini. Tapi sayang, badanku masih lemas hari ini. Mungkin aku akan menyediakan waktu suatu hari, sekedar mencicipi saja.

Langit, tahukah kau? Kenapa orang-orang di sini begitu terasa "autis" ketika memegang gadget mereka. Ketika kusapa tak ada salam hangat. Yah, mungkin mereka sibuk ya. Dan aku belum siap menerima keadaan itu.

Langit, sampaikan salamku pada bintang di malam hari ini ya. Karena aku merindukan sinarnya. Suatu hari aku akan berjalan sendiri, berdua, atau mungkin bertiga dengan temanku sekedar untuk menatapnya...

Semangat Langit...
mari kita songsong masa depan dengan penuh kesyukuran atas segala hal yang telah kita lalui.
Se...ma...ngat... ^_

Salam Langit :D

1 comment:

Arya Poetra said...

Asal jangan dirimu ikutan "autis". :)