Friday, 8 November 2013

Yuk Pedekate Ke Allah



Urgensi mengenal Allah
Cukupkah mengenal-Nya dengan mengetahui dan menghafal nama-nama dan sifat-sifat-Nya di luar kepala? Mengetahui dan menghafalkannya merupakan sebagian dari pengenalan kita kepada Allah, akan tetapi ada yang lebih penting yaitu bagaimana sikap kita selanjutnya.

Ma’rifah yang sebenarnya sebagimana diungkapkan oleh Imam Ibnu Qayyim ra. Dalam Al-Fawaid adalah pengenalan yang dapat menimbulkan perasaan malu, kecintaan, keterikatan hati, kerinduan, taubat, kedekatan, dan hanya berharap pada-Nya. Ketika ada orang bergegas menyambut saat mendengar panggilan-Nya, dapat dipastikan bahwa ia mengenal Allah dengan baik.

Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya, tujuan mengapa ia diciptakan (QS, 52:56) dan tidak tertipu oleh dunia. Sebaliknya orang yang tidak mengenal Allah akan menjalani hidupnya untuk dunia saja (QS. 47:12).

Ma’rifatullah merupakan ilmu yang tertinggi yang harus dipahami manusia (QS. 6:122). Hakikat ilmu adalah memberikan keyakinan kepada yang mendalaminya. Ma’rifatullah adalah ilmu yang tertinggi, sebab jika dipahami akan memberikan keyakinan mendalam. Memahami ma’rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya hidayah yang terang (QS. 6:122).

Berilmu dengan ma’rifatullah sangat penting, karena berhubungan dengan subjeknya, yaitu Allah dan berhubungan dengan manfaat yang diperoleh, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan, yang dengannya akan diperoleh keberuntungan dan kemenangan.

Makna ma’rifatullah
Ma’rifatullah berasal dari kata ma’rifah dan Allah. Ma’rifah artinya mengetahui, mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah, tetapi mengenal-Nya lewat tanda-tanda kebesaran-Nya (ayat-ayat-Nya).

Bukti keberadaan Allah
Kewujudan Allah adalah sesuatu yang cukup terang sehingga sebagian pihak ekstrem berpendapat kewujudan Allah tidak perlu kepada dalil lantaran terlalu jelas. Walau bagaimanapun dalil-dalil yang membuktikan kewujudan Allah ini boleh kita lihat dari berbagai aspek, antaranya dari aspek fitrah, aspek panca indera, dari aspek logika/aqal, dari aspek nas/naql dan juga aspek sejarah. Bila kita membicarakan dalil-dalil kewujudan Alah, kita tidak bermaksud perbincangan-perbincangan falsafi yang merumitkan tetapi bagaimana dalil-dalil itu dapat difahami dengan mudah dan menunjangkan keyakinan terhadap Allah.

Jalan menuju pengenalan terhadap Allah
Apabila kita ingin mencapai suatu sasaran, pastinya kita mesti tahu apakah dan bagaimanakah jalan yang akan menyampaikan kita kepada sasaran itu. Begitu juga dengan sasaran untuk mengenal Allah, bukan sembarangan cara. Jalan yang tidak betul akan membawa kepada pengenalan yang salah. Jalan menuju kepada ma’rifatullah adalah menerusi ayat-ayat yang terang dan jelas sebagai satu pernyataan dari Allah (ayat qauliyah). Ayat ini adalah pernyataan-pernyataan pengenalan yang difirmankan oleh Allah sendiri di dalam Al-Qur’an. Selain itu, ada juga ayat-ayat kauniyah yang menjadi bahan berfikir manusia terhadap kejadian alam yang begitu unik ini. Dari dua jalan ini, Islam mengajak manusia menggunakan akal dan juga naql untuk menuju ma’rifatullah. Kedua metode ini akan melahirkan keyakinan, langsung mencetuskan pembenaran (tasdiq) dalam hati kecil manusia yang akhirnya membuahkan keimanan yang mantap terhadap Allah.

Selain metode ini, ada juga metode duga-dugaaan dan hawa nafsu untuk mengenal Allah. Paling pasti adalah mereka tidak akan bertemu sasarannya yang sebenarnya. Metode ini akan berakhir pada kekufuran.

Penghalang Ma’rifatullah
Walaupun ayat-ayat Allah terbuka kepada siapa saja yang ingin membaca dan memahaminya, namun terdapat berbagai halangan yang akan berhenti di hadapan kita, yang didorong oleh iblis dan hawa nafsu untuk memastikan anak cucu adam terus berada di dalam kesesatan dan jauh dari petunjuk Allah. Halangan-halangan ini muncul dalam bentuk sifat-sifat pribadi yang berasal dari nifaq, zalim, dusta, dan sifat-sifat yang berasal dari salah faham atau syubhat seperti jahil, ragu-ragu dan menyimpang.





Referensi: Aqidah Islamiyyah, Sayyid Sabiq
Materi Pekan Ketiga Mentoring Agama Islam

1 comment:

Anonymous said...

ibnu qoyyim, tak identik dengan salafy bukan?