Friday, 15 November 2013

Mentari Untuk Persahabatan



Selamat pagi, dunia…
Tadi pagi aku ngobrol dengan mentari. Seperti biasa, ia tampak selalu cerah. Tadi ia mengirimkan sinarnya untukku, katanya untuk cahaya semangatku menghadapi misteri masa depan. 

Dalam rentang waktu yang berlalu, kami berbicara tentang persahabatan. Tentang langit, hujan dan teriknya sinar mentari. Aku suka dengan hujan dan mentari. Keduanya memberikan inspirasi yang luar biasa. Aku nyaman di antara hujan dan mentari. Hujan…inspirasi yang dahsyat ketika aku jatuh dalam keterpurukan. Mentari…inspirasi yang luar biasa ketika aku ingin membangkitkan semangat juangku. Bersahabat dengan mereka adalah salah satu bentuk rasa syukurku.

Tapi, untuk kali ini, biarkan aku bercerita tentang mentari yang mengiringi langkah semangatku. Bagi kami, persahabatan adalah rasa nyaman. Saat aku mengeja langit, lalu ia membacanya ke bumi. Ketika aku tersesat di atas, ia membantuku mencari jalan turun ke bawah. Saat aku berada dalam kegelapan, ia menerangiku dengan sinarnya. Saat kataku membeku, ia mencairkannya. Dan di saat biru dan coklat berubah menjadi hijau yang meneduhkan. 

Entah kenapa, akhir-akhir ini aku takut kehilangan sinarnya. Padahal, ia selalu meyakinkanku bahwa ia selalu ada. Detik-detik meninggalkan bumi yang madani ini serasa menjauhkanku dengannya. Misteri! Satu kata yang selalu berpesta dalam darah ini. Mungkin dengan membiarkan semuanya mengalir indah lebih baik untuk saat ini. Sebaiknya tidak memikirkan endingnya, tapi perjalanan persahabatan ini.

Aku bahagia dengan persahabatan ini. Bayangkan, ada ribuan bintang yang berkilauan di langit, tapi mentari memilihmu untuk menjadi sahabatnya. Rasanya sulit kuungkapkan bagaimana aku bahagianya ketika menjadi sahabat mentari. Mungkin ia juga tidak tahu betapa aku sangat bahagia, melebihi apa yang ia bayangkan.

Sebuah jarak. Kau mengerti apa arti jarak? Tidak ada jarak antara persahabatan. Perasaan bisa mengecilkan ribuan kilometer menjadi millimeter. Itu keajaiban sebuah persahabatan. Kau harus tahu itu.

Persahabatan. Yang mengubah keheningan menjadi percakapan, yang mengubah tangisan menjadi canda tawa, yang mengubah malam menjadi selalu pagi. Bagi kami, hari selalu pagi. Jadi, ketika malam pun tiba, kau akan melihat sinar mentari di sini. Di bawah langit kota persahabatan ini.

Untuk sahabat yang dalam sisa-sisa keletihannya masih meluangkan waktu untuk bercengkerama denganku. Untuk sahabat yang tiap semangatnya menjadi inspirasiku. Untuk sahabat yang betapa nyamannya aku bersandar pada sosoknya. Untuk sahabat yang saat ini, detik ini ingin kujumpai.

Terimakasih atas persahabatan ini. Aku ingin selalu berada dalam hangatnya sinarmu. Denganmu aku mengerti bahwa persahabatan itu tak kenal syarat.


 Kota persahabatan
15 November 2013

1 comment:

NitaNinit Kasapink R-Ror said...

salam senyum persahabatan, mbak, dari error ;)