Saturday, 28 September 2013

Melingkar Bersamamu

Jum'at yang lalu kembali lagi melingkar bersama The Rainbow. Dulu kusebut mereka Keluarga Pelangi, karena mereka punya karakter yang berwarna-warni seperti pelangi. "Kalian ini seperti pelangi saja", kukatakan suatu hari usai melingkar. Dan sekarang mereka mengubah namanya menjadi The Rainbow. 

Ada sebutan yang beraneka ragam juga untuk mereka. Dimulai dari panggilan bunda, kakak pertama, kakak kedua, dan seterusnya. Di kelas, mereka juga memakai sebutan ini. Masya Allah, sudah hampir 2 tahun melingkar bersama mereka. Mungkin aku akan sedih jika suatu hari harus meninggalkan lingkaran ini. Cukup sering kukatakan bahwa suatu saat kami akan dipertemukan dengan sebuah nama " Perpisahan".  

Tak ada yang perlu dikhawatirkan, kita hanya berpisah secara fisik. Semoga hati kita selalu bersama. Ada banyak media komunikasi yang bisa kita gunakan. Nah, gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Jika suatu saat, kakak tidak membalas telepon, sms, WhatsApp, Line, YM, Twitter, Google Plus, e-mail kalian, bukan berarti kakak sudah tidak peduli. Mungkin kakak sedang sibuk. Mungkin kakak mengajari kalian agar lebih terbiasa dengan kakak baru di sana. Bersemangatlah! Siapapun kakak The Rainbow yang akan datang, akan sama seperti kakak, bahkan lebih baik. Do'a rabithah terus mengalir.

"Kami gak mau diganti kak. Kakak tetap di sini ya", ucap seorang adik dari sebelah kiri.

Aku hanya tersenyum sesaat. Sebenarnya memang sedih. Tapi aku harus segera meninggalkan kota ini, mengabdi pada daerahku. Ingin kembali ke dakwah sekolah. Aku ingin mengisi mentoring di SMA asalku, bertemu dengan guru-guru tercinta, bernostalgia dengan masa-masa di Rohis Annur dahulu. Aku ingin mengenang betapa indahnya semua itu dulu. Saat aku berpidato bahasa Inggris di depan halaman sekolah, Rini dengan bahasa Arabnya dan Diyah dengan Indonesianya yang luar biasa. Aaah, mungkin aku terlalu merindukan masa-masa itu. Tapi masa lalu tetaplah masa lalu, masa lalu tidak akan bisa kembali lagi. Aku yang sekarang bahkan menurutku sudah jauh berubah. Aku tidak seghiroh dulu. Nah, itulah salah satu alasan mengapa aku harus kembali pulang. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri seperti apa sekolahku saat ini. Suatu saat, jika memang berjodoh dengan kota ini, aku akan kembali. Jadi, aku akan pergi untuk kembali. Do'akan saja adik-adik... ^_^

"Kami mau kakak cepat-cepat tamatnya, tapi jangan ninggalin kami ya kak", ucap seorang adik di hadapanku. 

Aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Aaah, lingkaran ini begitu luar biasa indahnya. Sejauh ini mereka masih ada dan tetap ada di lingkaran ini karena merasa nyaman. Saat semua beban kuliah, praktikum, masalah di kost atau rumah tertumpah ruah, maka mereka mengadu di lingkaran ini. Saat merasa terasing di lingkungannya, mereka juga curahkan di lingkaran ini.

Saat-saat mentoring, saat-saat yang indah untuk bersama. Kebersamaan itu begitu indah. Hari itu bisa sepuasnya menceritakan hal-hal apa saja yang terjadi selama sepekan berlalu. Ketika iman terasa sudah menurun, kita charge di lingkaran ini bersama dengan teman-teman lainnya. Saling memberikan informasi dunia islam, bertukar kabar, memecahkan masalah saudara yang sedang mengalami kesulitan, merencanakan agenda-agenda rekreasi yang tak hanya kesenangan dunia semata.

"Bagaimana kalau kita tafakur alam saja kak."
"Ya, boleh. Tapi setelah itu kita mengambil ibroh dari perjalanan kita. Kita ke sana untuk apa, untuk siapa. Saling meenjaga diri agar tidak terjun pada jurang kemaksiatan."

Lingkaran cahaya ini tidak hanya mengajariku untuk menjadi seorang kakak bagi mereka, tetapi juga sahabat. Sesungguhnya aku lah yang lebih banyak belajar dari mereka. Bukan mereka yang belajar dariku. Karena mereka, setiap minggunya aku mempersiapkan bahan materi taujih, apa yang harus aku sampaikan, menargetkan amalan yaumiyah yang lebih agar tidak terkena ayat kaburo maktan 'indallahi antaqulu ma laa taf'aluun.

Semoga aku tidak hanya bisa berbicara, tetapi juga mengamalkan apa yang kusampaikan di lingkaran cahaya ini. Sungguh, lingkaran ini membuat hati menjadi tentram.
Sumber Gambar: Google


Di penghujung September
@ Lingkaran Cahaya Ceria

20 comments:

websitemini said...

keputusan memang terkesan pahit. Tapi rasa rindu nggak bisa dikalahkan

Nurul Iman said...

Lebih tepatnya tadabbur alam bukan tafakkur alam :)

Mas Nady said...

semoga kita semua tidak hanya pandai berbicara, namun juga pandai dalam melaksanakannya.. amin.. hmm.. religius banget ya mbak.. hehehehe salam kenal ya..?

Wahyu Alfiansyah said...

Semoga bisa berdakwah lagi bersama teman2 tercinta.. salam kenal

Ch Nasution said...

Semoga saja tidak hanya bisa berbicara, tetapi juga mengamalkannya
karena itu sangat sulit mbak...
istilah org bilang
sangat mudah menasehati orang lain
dari pada menasehati diri kita sendiri
:)

Haya Nufus said...

Semoga ada banyak kebaikan yang didapat dari lingkaran kalian ya :)

Cowok Feminim said...

Keren..keren...keren...
Blognya keren, artikelnya juga manteb.

CLk7 said...

kakaaaakk...jangan pergiii
#korbanmutasijuga ToT

fiuuh..September,kenapa selalu banyak perpisahan yg menyertaimu :(





Sri Efriyanti Azzahra Harahap said...

Website mini:
Ini keputusan yang manis banget kok mas :) Kalau masalah rindu... ah sudahlah ^^

Nurul Iman:
Oh, terima kasih sudah dikoreksi ya ^^ Nanti buka kamus lagi deh. Hehe...

Mas Nady:
Salam kenal kembali mas ^^

Wahyu Alfiansyah:
Salam kenal kembali mas :)

Ch Nasution:
Hehe...Terima kasih dik ^^
Ketika kita menasehati orang lain, sesungguhnya diri kita sendirilah yang kita nasehati. Karena orang yang terlebih dahulu mendengar nasehat itu ya diri kita :)Suara itu pertama kalinya didengar oleh telinga kita, bukan orang lain kan dik? :D

Haya Nufus:
^_^
Aamiin...
Terima kasih mbak :)

Cowok Feminim:
Terima kasih atas kunjungannya mas :) Semoga bermanfaat ya

Kak Yuncha:
Ahahah... Ketawa gegulingan baca komentarnya >_<
Itu pengalaman kakak yah di Makassar? :P
Hmm, iya nih kak. September tidak hanya ceria, ia menyisakan satu rasa dalam jiwa ^^

DESA CILEMBU said...

pencerahan hati yang saat saat ini sering melayang tak tentu rimbanya, pas banget saya mampir kesini, semoga ilmunya jadi pahala bagi adminnya...aaaamiiiin

Uswah said...

eh eh, ini ceritanya lagi KKn gitu, atau gimana? hihihiii.. keluarga pelangi, menginspirasi sekali ^_^

kharis alimoerdhoni arief said...

Kak Sri Efriyanti Azzahra Harahap, telah menemukan jalan yang lurus. berbagi ilmu adalah amal yang tak akan pernah putus loh. Bersama dengan orang yang dikasih tentunya semeriah warna warna pelangi di angkasa. KEREN

Sri Efriyanti Azzahra Harahap said...

Desa Cilembu:
Allahumma Aamiin.
Terima kasih atas kunjungannya :)

Mbak Uswah:
Ini cerita di lingkaran cahaya, mbak :)Terima kasih. Semoga menjadi kebaikan buat semuanya ^^

Mas Kharis:
Terima kasih mas :)

Agus Setya said...

seperti pada perpisahan selepas kuliah. komunitas yang sudah di bangun dengan erat harus pisah untuk mengabdikan diri berbagi ilmu yang sudah di dapat.
maaf saya mengikuti alur cerita dulu. belum mendalami banget mbak.
assalaamu'alaikum

Sri Efriyanti Azzahra Harahap said...

Terima kasih atas kunjungannya mas :)

Wa'alaykumussalam Wr Wb

Riki Ananda Nasution said...

Semangat kak..
Salam rindu dan salam semangat kak :3
Selalu ada aroma kegalauan disini ya kak :D

anisayu said...

Melingkar bersamamu
Bahagia segarkan hatiku
Indah terasa melaju
Kearah ketemu

AuL Howler said...

Sama..
rasanya nggak ada kelompok yang seindah kelompok mentoring..

Semoga bisa berdakwah kembali bersama ukhtifillah lainnya

hamasah!

Kang Zeer El-Watsi said...

kunjungan perdana...izin nyimak dulu j ya...sukses selalu untuk anda dan salam kenal :)

Sri Efriyanti Azzahra Harahap said...

Riki Ananda:
Salam semangat!
Maaf, lagi-lagi kamu kurang benar Ki.Hmm, ceritanya panjang. Tp saya coba untuk menyingkatnya. Saya tidak galau ^^ That's it :)

Mbak Anisayu:
Wah, keren diksinya ^^

Mas Aul Holer:
Aamiin
Hamasah!

Kang Zeer:
Terima kasih kunjungannya, Pak :)
Salam kenal kembali.
Terima kasih atas do'anya, Pak