Tuesday, 13 August 2013

Untuk Lelaki Terhebatku



Duhai langit, pagi ini kau tampak indah sekali. Pagi menyapa dengan riangnya. Membersamai langkahku menuju sebuah impian. Hari ini pagi menyapa dengan senyuman dalam aksara kata yang penuh makna…

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm...

Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan
(Titip Rindu Buat Ayah, Ebiet G. Ade)

Pagi ini aku ingin bercerita tentang lelaki pertama yang kucintai karena Rabb-ku, lelaki terhebatku.  Lelaki yang telah memberikanku seorang ibu sholehah yang penuh dengan cinta. Kupanggil ia dengan sebutan Papa…

Terkadang aku berpikir, mengapa Tuhan menciptakan perasaan tak semudah menghitung lembaran kertas dalam buku, tak semudah membalikkan telapak tangan, atau tidak semudah gugurnya dedaunan dari pohonnya? Namun aku kembali berpikir, Tuhan tidak menciptakan perasaan dengan mudah. Kita tak bisa berbohong dengan perasaan. Kata Papa, kamu bisa kuat karena perasaanmu, nak.

Papa adalah orang yang sangat mengerti tentangku. Ia mengajarkanku arti kehidupan sedari kecil. Mengajarkanku tentang kerja keras, pengorbanan, kesabaran, dan keikhlasan. 

Suatu hari seseorang pernah berkata padaku, “Kau tampak lebih dewasa dari usiamu, Yan”. Sejenak aku terkejut, kemudian langsung tersenyum dan berkata, “Ahh, sepertinya aku terlalu berpikir keras hingga terlihat sangat tua. Haha…”. “Bukan begitu”, katanya memotong pernyataanku. “ Lantas, bagaimana?, tanyaku padanya. “Ya, kau lebih dewasa dari usiamu”. “Kupikir kau hanya memperhalus bahasamu saja. Haha…”, sambil tertawa renyah. Kedewasaan itu memang tak mengenal usia. Dan dari Papa-lah aku mengerti maknanya. Namun, sekalipun orang menilai begitu, aku sering sekali merasa tidak dewasa, terutama dalam mengambil keputusan.

Papa sosok yang luar biasa bagiku, juga bagi ke lima anak-anaknya.  Sosok yang tangguh dalam mengarungi kehidupan. Sosok yang pantang menyerah. Ia merintis jalan hidupnya dari bawah hingga bisa sampai sekarang ini. Tanpa perjuangan Papa, mungkin aku tak bisa sekolah sampai saat ini. Ia juga mengajarkanku bahwa pendidikan itu penting, sangat penting.

Papa pernah bilang pada kami, kelima anaknya, “Kalian harus sekolah tinggi-tinggi, jangan seperti Papa. Pendidikan itu  penting. Itu bisa menjadi penentu hidup kalian kelak”. Papa adalah motivator terhebat kami. Ia selalu mengingatkan bahwa hidup ini keras, penuh perjuangan. Karena kerasnya, maka harus dilalui dengan semangat juang yang tinggi, tidak berleha-leha, namun tetap dengan sabar dan ikhlas.

Aku pernah membayangkan bagaimana jika kehilangan Papa. Menyakitkan memang. Tapi dengan begitu, aku semakin menyadari bahwa aku sangat menyayanginya sampai kapanpun. Papa, aku mencintaimu karena Allah…

Sampai saat ini aku merasa belum bisa membalas apa-apa pada Papa. Sampai kapanpun sepertinya memang tidak terbalas. Tapi, paling tidak bisa membahagiakan Papa dan tidak merepotkan saja untuk saat ini. Dan lagi-lagi, aku juga masih saja merepotkan dan belum bisa membahagiakannya. 

Peristiwa yang akan selalu kuingat adalah ketika masa peralihanku dari masa putih abu-abu dan masa-masa di kampus. Betapa semua orang terkejut dengan prestasi akademikku. Mungkin tak secemerlang dahulu. Jalan hidup memang tidak linier. Kalau dilihat, aku seperti tidak serius menjalankannya. Dan jujur, aku juga tak mengerti apa yang sudah terjadi denganku. Sampai seorang teman baik mengatakan, “Kau hilang ingatan ya Yan?” Entahlah, semua berputar tanpa kusadari. Lalu pada saat itu, Papa juga lah yang memberikan semangat dan nasehatnya untukku. “Papa tidak memaksamu punya IPK cumlaude, tanpa nilai C. Papa hanya ingin kamu serius dalam belajar. Jika memang terlalu banyak organisasi, tinggalkan dahulu”. Dan pada akhirnya aku tidak bisa meninggalkan organisasi itu satu per satu. Papa tahu, namun tidak menasehatiku lagi. Lalu Papa berkata, “Papa tahu kamu tidak bisa meninggalkan organisasimu. Papa hanya ingin kamu jadi anak yang sholehah”. Seketika itu buliran bening jatuh perlahan.

Duhai Allah Yang Maha Pengasih, izinkan aku bisa membahagiakannya, menjadi anak sholehah harapannya, dan izinkan kami berkumpul di surga-Mu.


Untuk lelaki yang darahnya mengalir dalam setiap pembuluhku. Selamat milad yang ke-59, Papa. Semoga umurmu berkah dan setiap langkahmu dalam ridho-Nya.

Dari putri kecilmu, Butet.

16 comments:

Riki Ananda Nasution said...

Subhanallah...
Ayah selalu menjadi sumber inspirasi ya kak :)
Kirimsalam buat amangboru kak :D

Riki Ananda Nasution said...

Subhanallah...
Ayah selalu menjadi sumber inspirasi ya kak :)
Kirimsalam buat amangboru kak :D

Riki Ananda Nasution said...

Subhanallah...
Ayah selalu menjadi sumber inspirasi ya kak :)
Kirimsalam buat amangboru kak :D

Riki Ananda Nasution said...

Subhanallah...
Ayah selalu menjadi sumber inspirasi ya kak :)
Kirimsalam buat amangboru kak :D

G said...

titip salam buat ayahku disana,bekas ciumku ditangan,kedua pipi dan keningnya :) semoga selalu diberi kesehatan,amin dari sini ,hati :)

Rima Aulia said...

subhanalloh... Eid milad om.. moga usianya barokah, semakin bahagia dunia dan akhirat... ayah memang selalu hadirkan sosok pahlawan bijak dalam realita hidup... aku juga punya nih postingan tentang ayah http://rimaauliaalkhonsa.blogspot.com/2012/12/lelaki-pertama-yang-ku-cintai-karena.html

#skalian promosi, ups....

Moti Peacemaker said...

semoga semakin luar biasa..dijaga terus

Zeal*Liyanfury said...

Aamiin.... beliau sosok Ayah luar biasa yang tercermin pd sosokmu nda. Salam sejahtera utk beliau, Barakallahu fii umrik...

Ayu Sugar said...

nice note, and i am feel the same about daddy...smoga papa kita selalu dalam lindunganNya, d beri kesehatan dan di beri umur yang panjang buat. smoga kita bisa membuatnya bangga :)

Niken Kusumowardhani said...

Semoga Allah senantiasa melimpahkan nikmat sehatnya pada papa.

Adi said...

baru main kesini lagi dan postinganyaa membuat berkaca-kaca.

semoga ayahmu selalu dalam barokah Alloh ya za

Sri Efriyanti az-Zahra Harahap said...

= Riki =
Ya, begitulah Ki :)
Biarkan langit yang menyampaikannya Ki. Ahaha..

= Iga =
Aamiin...

= Uni Rima =
Aamiin... Jazakillah, uni :)
Wah, postingannya uni keren ^^

= Moti =
Aamiiin... Ok, mas :)

= Kakanda Liyan =
Aamiin.. Allahu yubarik fiik.
Syukran kak Liyan :)

= Ayu =
Allahumma Aamiin...
Terima kasih Ayu ^^

= Bunda Niken =
Aamiin ya Allah...
Terima kasih bunda :)

= Kak Adi =
Di depannya Kak Adi ada kaca ya? Hehe..
Allahumma aamiin. Makasih kak :)

Tuti Wartati Aisyah Fathiyah said...

suka benget lagu itu :)apalagi kalo lg kangen ayah,jd obat rindu, ayah memang motivator terhebat ya mb Yan...sedangkan ibu adalah pendukung yang terhebat..

Ania Maharani said...

jadi ingat Ayah.. t-t

cara mengobati kelenjar tiroid said...

ayah yang sangat hebat, salut

Ani Sahrinida Putri said...

Terharu...

Ayah memang lelaki terhebat yang selalu ada dan mensupport dalam segala hal dan kondisi...

semoga bisa membahagiakannya...

Aamiin..