Friday, 12 April 2013

Muhasabah Pagi



Bumi menggeliat. Kulihat langit dari jendela kamarku, masih gelap. Aku mencoba mengikat makna selepas subuh ini. Ada sesuatu yang menggelitik jiwaku untuk ditorehkan di  sini. Aku ingin bercerita. Kau siap mendengarkannya?

Ini tentang kematian. Aku percaya, tentu kau juga percaya kita akan meninggalkan dunia yang sementara ini. Usia itu begitu cepat berlalu. Aku juga hampir tak sadar, umurku hampir memasuki 23 tahun. Katanya masih muda, tapi bukan berarti masih lama hidup di dunia, karena takdir hanya Allah yang tahu. Mungkin esok, kita tidak lagi ada di sini, kita akan berpisah dengan orang-orang yang kita cintai, orang-orang yang mencintai kita. Kematian adalah sesuatu yang pasti kedatangannya.

Mari sejenak merenung atas umur dan semua yang kita perbuat di dunia ini. Tentang kebiasaan yang baik dan tentang dosa yang mudah kita lakukan. Umur dengan keterbatasannya harus dipergunakan untuk melakukan amal shalih, amal yang diridhoi Allah. Karena kewajiban manusia sangat banyak. Kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia. Semoga kita dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin, hingga tidak ada yang sia-sia. Bacalah Al-Qur’an, pelajari dan dengarkanlah. Mari terus memperbaiki diri, karena kita tidak tahu berapa lama lagi kita hidup di dunia ini.

Begitu banyak orang yang merancang kehidupan terbaik. Bagaimana kalau kita merancang kematian terbaik? 


Jumu'ah barokah, 120413
@Bilik juangku

*Di saat mengingat setahun 'kepergian' sahabat langitku

18 comments:

Dani Siregar said...

*merinding* ˆ⌣ˆ

Anonymous said...

terima kasih telah mengingatkan. SAya ingin bantuannya untuk meriview cerpen saya. Sudah pernah saya minta ke ukhti Winda Irani (penulis, itb), sudah pula ke ukhti suci irmayanti, ke evi mariani. Saya ingin masukan dengan warna lain untuk cerpen yang satu ini. Kalau bersedia, akan saya kirim via email. Terima kasih sebelumnnya. Boboy AH.

eko wahyudi said...

Wah mantep ny tulsannya. .gk nyangka .hehehe

jgan lpa mampir ngn
www.kawancreative.blogspot.com

Sri Efriyanti az-Zahra Harahap said...

Dani:
^_^

Akh Boboy:
Cerpen bukan bidang ana, akh. Ana hanya penulis non fiksi yang baru mulai belajar. Itu sudah banyak akhwat yang antum mintai bantuannya. Ana yakin itu sudah lebih dari cukup.

Tapi ana jadi bertanya-tanya, kenapa minta bantuannya sama akhwat semua ya? Padahal penulis-penulis ikhwan masih banyak.

Afwan, ana tidak bisa membantu karena tidak berkafaah dalam penulisan cerpen. Semoga bisa dimaklumi.

Coba minta bantuan pada sahabat ana, Abdillah Putra Siregar (Ragha Putra). Beliau ahlinya dalam penulisan cerpen.


Mas Eko"
^_^
Insya Allah nanti saya mampir ke istananya ^^

Anonymous said...

Terima kasih atas sarannya. Maunya sih ikhwah. TApi ga ada yang ane kenal berminat ama fiksi. Ane dah tawarin di facebook, yang bersedia ya yang akhwat.
Sebenarnya ane butuh pembaca, penikmat bukan yang berkafaah, soalnya masih minder ama yang dah jago :). Mana tau, barangkali antum berubah fikiran, ane tunggu.
tolong share lah alamat facebook, twitter dari bang abdullah. sukron.

Sri Efriyanti az-Zahra Harahap said...

Sering-sering aja gabung dengan penulis-penulis ikhwan. Banyak kok.
Bang Tere Liye, Kang Abik, Mas Gola Gong, dan masih banyak yang nggak bisa ana sebutin.

Mungkin di facebook, temannya banyak yang akhwat, makanya akhwat terus yang berminat membaca tulisan antum. Kalau begitu, perbanyak teman ikhwan saja.

Di Bandung juga pasti banyak yang berminat kalau hanya sekedar membaca tulisan antum. Nggak perlu jauh-jauh kok ke Medan.


Esesnsinya ketika sudah dibaca apa ya? Kalau hanya sekedar bisa dibaca, posting saja di blog antum. Akan banyak yang baca kok akh. Syukron

Riki Ananda Nasution said...

Subhanallah..

tapi saya kok jadi lebih tertarik baca kotak komennya ya kak :P
#kabuurrrr

Anonymous said...

tentang kang abik, tere liye, gol a gong, boim lebon, mereka kayaknya terlalu sibuk untuk membaca karya amatiran seperti punya saya.

Eh iya... betul kebnyakan temen ane akhwat. Mau gimana lagi, yang minta konfirm yah adanya mereka. Tuh masih banyak lagi yang belum ane konfirm.

Saya akan buka sebuah rahasia. Cerpen-cerpen yang saya buat mau saya ikutkan dalam lomba. JAdi belum bisa diposting di blog. Aturan mainnya seperti itu.

PAda sebagian penulis ada kecemburuan persaingan intelektual. Dunia yang seharusnya damai dengan harmoni itu ternyta menyimpan patologi layaknya birokrasi. he..he.. Setidaknya inilah pendapat seorang Darwis TEre Liye.

Cerpen itu untuk dinikmati. Hiburan kreatif. Kualitas sebuah cerpen ditentukan oleh sedalam apa kesan yang terbangun di benak pembacanya.

Bukan sembarangan saya memilih antum. Untuk menawarkan ini saya harus korbankan rasa malu. Bukankah ada banyak orang yang dengan bebasnya dapat membaca komen saya?

Alasan saya memilih antum, karena saya tahu antum kemampuan merasa, dan menjiwa sebuah tulisan jauh di atas rata-rata orang yang saya kenal yang memang mereka tidak punya passion dalam tulis menulis.
Suatu ketika saya pernah membacakan postingan antum ke salah seorang yang saya anggap paling tidak paham akan karya tulis, baik sastra maupun tidak. Dia terkagum-kagum. Bukan ghuluww, tapi memang seperti itulah adanya. Semoga dengan pernyataan ini antum tetap rendah hati dan tidak menganggap rendah saya:)

BTW, untuk penulis terkenal sebenarnya saya sudah pernah minta jadi reviewer. Bunda Maimoon Herawati (Muthmainnah), penulis cerpen produktif era an-nida dulu. Tinggal di BAndung. Tapi permintaan saya tidak ditanggapi. Alasan memilih beliau, karena sudah ada komunikasi ringkas sebelumnya.

itulah duduk perkaranya. Semoga dapat dimaklumi. skron

Anonymous said...

Syukron Zahra.
#MAaf saya lupa adabnya.

Sri Efriyanti az-Zahra Harahap said...

Antum terlalu berlebihan menilai kemampuan ana. Ana tidak paham bagaimanan cerpen yang baik itu.Apalagi antum bilang cerpennya akan diikutkan dalam lomba, harusnya orang-orang yang paham lah yang antum mintai pendapatnya.

Oh ya, afwan sebelumnya. Harusnya postingan ini tidak dikomentari dengan bahasan di luar dari topik. Jika antum ingin bertanya di luar dari topik, ana mohon jangan di sini. Tidak baik untuk pembaca yang singgah kemari, terkhusus buat ana pribadi. Afwan minkum. Semoga Allah menjaga untaian kalimat ana dari berbagai prasangka yang tidak baik.Syukron

Anonymous said...

woles, woles. terima kasih :)

Arya Poetra said...

Pertanyaan terakhir itu, saya pun mengangguk sebagai tanda sepakat, Za.. :)

Zeal*Liyanfury said...

Merenung cukup lama utk nasehat sangat bijak ini.

Bukankah kita milikNYa... dan pasti akan kembali kepadaNYa.

Jadi memang kehidupan dunia ini bukanlah tujuan akhir, sepakat bahwa kita harus dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin, hingga tidak ada yang sia-sia. Karena kita tak tahu sampai kapan jatah hidup kita disini... kemudian menghadapNya utk dihisab.

Sri Efriyanti az-Zahra Harahap said...

Ary:
^_______^

Kak Liyan:
:)

Irma Devi Santika said...

"Begitu banyak orang yang merancang kehidupan terbaik. Bagaimana kalau kita merancang kematian terbaik?"

Kalimat di atas membuat renungan sore ini. Banyak yang berlomba-lomba merancang kehidupan yang baik, tapi banyak yang lupa bagaimana mempersiapkan kematian yang baik pula. Hmmm..
Makasi ya Zahra, muhasabahnya sangat bermakna dalam :')

Arif Chasan said...

wah... saya kayak lagi ketohok nih..
terimakasih sudah mengingatkan... :)

btw, salam kenal yaa.. :)

Sri Efriyanti az-Zahra Harahap said...

Kak Irma:
Makasi kembali kakak :) Makasih udah berkunjung ke rumah mayanya Zahra ^^


Mas Arif:
Makasih kembali. Alhamdulillah jika bermanfaat ^^
Salam kenal kembali

Kayakubi said...

Em... (ALM) bang Budi ya kak...
ayupun ga tau apakah ini ujian, cobaan, ataupun peringatan, ayupun mengalami hal yang sama...
hampir tiga tahun kepergian sahabat karib seperti saudara sendiri bagi ayu, berbagi suka duka, bahkan rahasia... hm,,, bahkan jadi mengubah mindset ayu smpai sekarang.
Semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi mereka, Aamiin Ya Rabb