Wednesday, 6 February 2013

Selaksa Rindu di Ranah Minang


Kata tak mampu untuk mengungkapkan segala rindu, hanya hati yang bisa merasakannya. Kedatangannya selalu saja tak dapat ditolak.  Ialah rindu. Kutitipkan rasa dalam ruang di dalamnya


Balai Gurah – Bukit Tinggi. Kurang lebih sudah 12 tahun meninggalkan tempat itu. Namun masih saja melekat di ingatanku. Ada banyak kisah di sana. Ada banyak cerita. Dan ada banyak ilmu yang telah kudapat.


Dulu, aku tak mengerti kenapa ayah dan ibu jauh-jauh menyekolahkanku sampai ke Sumatera Barat. Aku hanya menurut dan menjalani apa yang mereka sepakati. Hingga akhirnya, setelah semuanya kujalani, aku tahu bahwa mereka telah merencanakan hal terbaik untukku, untuk masa depanku. Hingga hal itu juga menjadikanku lebih mandiri, lebih dewasa, dan tanpa kusadari membuatku lebih banyak berinteraksi dengan orang lain.

Aku di sekolahkan di ranah minang ini agar kelak bisa menjadi anak yang sholehah kebanggaan ayah dan ibu. Mereka tidak ingin aku terikut arus negatif globalisasi. Dan di sinilah aku belajar membaca dan memahami Al-Qur’an. 


Kecintaanku pada Al-Qur’an sebenarnya sudah dimulai sejak masuk madrasah ibtidaiyah, sejak ayah dan ibu mengajarkanku alif ba ta. Tapi di sini, kecintaan itu semakin bertambah. Aku kembali belajar mengenal huruf hijaiyah dari awal, memperbaiki makhrajul huruf, lalu membaca ayat demi ayat.


Aku diajari oleh ustadzah-ustadzah yang lembut, yang penuh kesabaran. Mereka tidak pernah memarahiku yang mungkin waktu itu cukup  sulit untuk mengucapkan huruf-huruf izhar. Hingga akhirnya aku pun bisa mengucapkan semua huruf dengan benar, dari alif  hingga ya. Tidak hanya sekedar membaca huruf, tapi juga membaca ayat-ayat cinta-Nya dalam lembaran-lembaran suci.

Jazakumullah khairan kastiran untuk ustadzah-ustadzahku…

Semoga Allah membalas kebaikan kalian dan menjadi amal jariyah nantinya :)



Di bawah langit malam ini. Kenangan itu masih tersimpan di memoriku, walau sudah berganti masa.



Postingan serentak Blog of Friendship - Medan


16 comments:

Anonymous said...

semoga menjadi wanita sholehah. Amin

Reza Pahlevi said...

Kak!!! Fotonya acem titisan susana gitu. Acem di goa tepi laut dengan muka yang seram juga. Tapi sekarang kok gak seram yak? *aseeek*

Efriyanti Zahra said...

Rezaaaaa... *teriakpaketoa
Kamu mau bilang kalau kakak kayak Nyi Roro Kidul? Huh..
Awas yaaa...
Sekarang bermetamorfosis... Xixixi

Rima Aulia said...

huwaaaaa, Zahra...postinganmu membuat ku rindu kampuang halaman denai nan jauah di mato. antah pabilo ka disilau... kangen euy...

Efriyanti Zahra said...

Kangen juga uni...
>_<

Deuh, udah nggak mahir lagi nih Bahasa Minang kayak uni. Grammarnya pada salah, malu ni...
Hihihi..

Megawati Achmad said...

Semoga selalu istiqomah ya
Amien

Megawati Achmad said...

Semoga selalu istiqomah ya
Amien

Efriyanti Zahra said...

Aamiin..
Terima kasih Bu Mega :)

Riki Ananda Nasution said...

Fotonya sesuatu banget ya Kak...:)
Ajarin bahasa minang Kak :)

Efriyanti Zahra said...

Hihi..Foto waktu MTQ kelas IV SD Ki :D

Waah, grammarnya udah banyak yg salah Ki. Sama Uni Rima aja ya, asli Putri Minang :)

Yudi Darmawan said...

ayah saya asli Bukittinggi,
saya juga pernah backpackeran sama teman kesana, dengan modal 300 ribu selama 10 hari kami berkeliling 7 kota di Sumatera Barat dan Riau dan sudah pernah saya tuliskan di blog..

#loh kok malah curhat saya yaaa..?
haha..
tapi, saya rindu juga kok dengan kota eksotis itu..

clk7 said...

eheemm..kalo kubilang di darahku mengalir darah minang, kamu percaya? hahah :D

Efriyanti Zahra said...

Mas Yudi:
Curhat ditampung, mas :))

Oh gitu ya, saya ke rumah mayanya aja langsung.. Mau lihat backpacker-an ala Mas Yudi ^^

Kak Yuni:
Hmm, kalau kubilang di darahku mengalir darah Ambon. Kakak percaya?
Hahah..

Kak,jangan lupa ya #VisitSumut2013
:D

Kids Party said...

menariik artikelnya :D

Efriyanti Zahra said...

Terima kasih :)

nina sofhia said...

jadi teringat almh. ustadzah nina kk..
smoga beliau mendapatkan tempat terindah disana atas smua ilmu yang diajarkan nya..

:)