Tuesday, 16 October 2012

Medan at The First Sight


Beberapa hari yang lalu dalam perjalanan pulang dari rumah seorang sahabat tak sengaja saya mendengarkan lagu-lagu yang bernuansa cinta pada pandangan pertama dan tak sadar ikut dalam alunan musik itu. Saya dan seorang sahabat yang berada tepat di sisi kiri saya menemukan kata-kata yang menarik untuk diperbincangkan hingga sore hari. “Love at the first sight”. Wow…
Tapi kali ini saya tidak akan berbicara cinta yang seperti apa dan bagaimana, teman-teman. Karena berbicara tentang cinta memang sangat panjang dan tidak akan ada habisnya. Kali ini saya akan berbicara tentang Medan, kota persinggahan saya saat ini. Persinggahan? Tentu saja. Karena rencana saya ke depan, saya tidak akan berada di kota ini.

Medan…
Pandangan pertama saya dengan kota ini begitu “wah”, ramai, besar, dan cukup padat. Mungkin bagi penduduk asli Medan biasa saja melihat kota ini, tetapi tidak begitu dengan saya yang  merupakan pendatang dari sebuah kota kecil, Padangsidimpuan. Banyak hal yang menarik dari kota Medan. Kota terbesar di Pulau Sumatera ini telah berhasil membuat saya terpukau akan keindahannya, kebersihannya, dan warganya yang ramah-ramah. Terbukti bahwa tahun ini Medan mendapat penghargaan sebagai kota Adipura.

Warga kota Medan berasal dari berbagai suku. Ada Batak, Jawa, Melayu, Minang, dan yang lainnya. Konon katanya, dulu sebagian besar yang menduduki kota Medan ini adalah orang Melayu Deli, namun seiring berjalannya waktu orang Batak lah yang menguasai kota ini. Nah, suku Batak di kota ini juga beragam jenisnya. Ada Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Bahasa, kebiasaan dan adat dari suku-suku ini juga berbeda. Saya yang merupakan perpaduan dari suku Batak Angkola dan Mandailing tentu saja tidak mengerti bahasa dan adat dari suku Batak Toba, karena memang sangat berbeda.

Medan sangat khas dengan bahasanya, terdengar kasar dan keras. Kalau kita melihat dan mendengar orang Batak berbicara pertama kalinya, mungkin kita akan mengira bahwa ia saat itu sedang marah. Tetapi sebenarnya tidak, memang begitulah orang Batak berbicara. Kata ibu saya, hal ini terjadi karena memang kehidupan orang batak begitu keras, hidupnya penuh perjuangan. Katanya, dulu sebagian besar mata pencaharian penduduk di daerah Sumatera Utara ini adalah bertani dan berkebun. Jarak antara kebun yang satu dengan yang lainnya cukup jauh. Jika ingin memanggil temannya yang juga sedang bekerja saat itu, maka ia harus berteriak sekeras-kerasnya jika ingin didengar. Maka karena itu, suara orang Batak keras dan kasar. Saya antara percaya dan tidak percaya dengan cerita ini ^_^

Di samping bahasanya yang terdengar keras dan kasar, tapi hati orang Batak itu sangatlah baik. Ups, ini bukan pembelaan terhadap suku, tetapi yang saya rasa memang seperti itu. Wah wah, sepertinya tulisan saya ini akan mengarah pada SARA jika berlama-lama bertahan pada suku. Kalau begitu kita beralih ke kuliner saja…

Medan sebenarnya terkenal dengan kulinernya. Mau makan khas daerah mana, ada di Medan. Seorang sahabat yang berasal dari Jakarta pernah mengatakan pada saya, “Orang Medan itu banyak makan di luar ya Zahra…”.Bukan karena orang Medan tidak bisa memasak di rumah sendiri, tetapi karena di Medan itu surganya kuliner (menurut saya ^_^). Salah satu makanan khas kota Medan adalah soto Medan. Yuk, jika berjalan-jalan ke Medan jangan lupa makan soto Medan dulu. Kurang berkesan rasanya jika sudah ada di Medan tapi belum mencicipi soto Medan. Makanan khas yang lainnya adalah bika ambon, bukan bika medan. Saya juga tidak tahu persis kenapa kue bika ini disebut bika ambon, tidak bika medan saja. Mungkin pembaca yang penduduk asli kota Medan tahu. Ayo, kasih tahu kita ya :)

Medan pada pandangan pertama…
Pada pandangan pertama, yang ada di benak saya adalah Istana Maimun. Tempat inilah yang membuat saya pertama kalinya jatuh hati pada Medan. Bukan karena bagunannya, tapi lebih ke historisnya. Kalau bangunan, tentu saja masih banyak yang lebih “wah” dari bangunan ini.
 
Istana Maimun terletak di Jl. Brigjen Katamso, Medan. Istana kerajaan Deli ini dibangun pada tanggal 26 Agustus 1888, tetapi baru diresmikan pada tanggal 18 Mei 1891. Yang memprakarsai berdirinya bangunan ini adalah Sultan Ma'moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan keturunan raja ke-9.
Istana ini dari luar kelihatan bernuansa India Islam. Tapi ketika masuk ke dalam perabotannya bernuansa Eropa, seperti lemari, kursi, lampu-lampu kristal. Sedangkan singgasananya sendiri bernuansa Melayu dengan warna kuning keemasan.

#Tulisan serentak dengan tema “Medan” bersama Bloofers Medan

15 comments:

Thanjawa arif said...

betul sob nada bicara keras bukan menggambarkan kekerasan hati, ini sebatas kebiasaan saja seperti halnya orang pesisir karena deru angin dan ombak yang keras harus diimbangi dengan bicara yang keras agar didengar oleh lawan bicara

CLk7 said...

eeh...ciyeeh :p
kapan2 nginjek pulau Sumatera aah :D

mau tau kenapa sy cinta Makassar?
baca postingan terbaruku ya diks ;)

sabda awal said...

ah, saya juga baru 1 tahun di medan, ternyata berbeda yah, sekarang ini pengen ke jakarta, hahaha

Imam Boll said...

mbak, kalo boleh tahu, lagu yg diputer sampeyan di blog lagunya sapa ya, dari tadi nyari nggak ketemu ketemu mbak

bagus labunya mbak ^^

Arya Poetra said...

Hehe.. Cinta pada pandangan pertama nih yee. Jadi pengen tulis tentang Makassar juga.. #ikutan

Sri Efriyanti Az-zahra Harahap said...

Thanjawa:
Sepakat! ^_^
Terima kasih atas kunjungannya mas

Kak Yuni:
Ayo dong kak, kapan ke Medan?
Ditunggu loh ^_^

Mas Awal:
wah wah..., Medan asik kok.
Jakarta sering macet tuh mas :P

Mas Imam:
Lagu Seamo, "Mother"
Kode lagunya dikasih sama sahabat saya, Ary :)

Ary:
Ayo ayo...
Ditunggu tulisannya :)
Kapan-kapan Za juga tulis tentang Makassar ah
#ikutan :D

Catatan si Riki said...

kota Persinggahan selanjutnya kemana kak?
Tokyo ya kak? =D

Arya Poetra said...

hmmm.. kapan ya.. hehehe..
Iya, nanti kumpulkan inspirasi dulu

kaze kate said...

dulu waktu saya ke sumatra nyeseul kagak mampir ke medan -_-

black white said...

baca postingan ini jadi inget sahabat waktu sma, satu keluarga ngomongnya gede2 semua. hihi
tapi hatinya lembut2 semua..
nggak sebanding sama suara. ehehehhehe ;p

Sri Efriyanti Az-zahra Harahap said...

Riki:
Iya, ke Tokyo :D
Mohon do'anya ya Riki ^__^

Sebelum ke Tokyo, rencananya sih keliling Indonesia tercintaku dulu. Xixixi

Ary:
Dinantikan postingannya :)

Kaze:
Aiih...sungguh sangat disayangkan

Mbak Dora:
Hihihi...
Sudah karakternya seperti itu ya mbak ^^, yang perlu digarisbawahi memang hatinya.
#Eaaaa

Arya Poetra said...

#elus2 dagu nyari ide... :D

Damae said...

KEREN! Wah, jadi kepingin ke medan nih. nice article, sist, :)

novi rahantan said...

medan...

mengingatkanku pada mimpi yang tertunda...

suatu saat, aku pasti akan sampai di medan. tunggu aku :)

eko wahyudi said...

matap.. ny saya suka gaya penulisannya..
oya kak kalo boleh tau judul lagu ini apa ya,,
dari kemarin saya cari tapi ngak tau judul..
makin sukss ajha kak

mampir ke
kawancreative.blogspot.com