Friday, 21 September 2012

Langit Tak Lagi Bertanya


Aku tak mengerti kenapa bisa begitu akrab denganmu, padahal sejak awal mengenalmu kau begitu menyebalkan. Mungkin karena kau sering memaksa dan mengajakku berdiskusi masalah agama. Kau selalu menanyakan hal-hal yang sebenarnya menurutku sangat sederhana dan aku yakin kau juga tahu jawabannya. Namun, entah kenapa aku tetap saja menjawab pertanyaanmu seakan kau memang tidak tahu sama sekali. Semakin lama, aku bosan dengan pertanyaanmu. Maka suatu ketika, aku malah balik bertanya kepadamu. Kau menjawabnya dengan sepenuh hatimu.
Hampir setiap minggu kau menyempatkan untuk berdiskusi denganku. Semakin hari aku semakin mengenalmu. Ternyata kau adalah saudaraku yang baik. Sungguh menyesal sudah membencimu di awal pertemuan kita. Banyak hal yang telah kita diskusikan bersama. Aku semakin mengenal duniamu dan kau juga mengenal duniaku. Dunia kita benar-benar sangat berbeda. Sekarang, aku seakan memasuki duniamu yang awalnya kuanggap gelap. Perlahan, kau memasuki duniaku yang kau bilang selalu ada mentari di setiap sudutnya. Aku sangat senang, sekarang kau sudah tidak pernah meninggalkan shalat lagi, sudah mulai membaca Al-Qur’an, dan lebih sering mengintrospeksi diri. Sekarang, aku lebih mirip seperti gurumu.
Setiap kau merasa lemah, kau selalu menghubungiku sekedar meminta nasehat. Kau bilang, kata-kataku bisa menjadi penyemangatmu. Dan saat itu aku merasa seperti ibumu. Tapi sungguh, aku tak mau jadi ibu ataupun gurumu. Aku hanya seorang yang biasa yang kau anggap luar biasa. Aku juga tak mengerti kenapa kau sangat menghormatiku. Rasanya sangat tidak pantas, terlebih umurku lebih muda dibanding denganmu.
 Suatu hari kau meminta tolong lagi kepadaku dan aku menyanggupinya. Aku tak tahu kenapa permintaanmu sulit untuk ditidakkan. Apakah hanya rasa kasihanku atau ada sesuatu hal yang tersembunyi. Aku tak mengerti. Kau benar-benar memberikan warna baru dalam hidupku. Mengenalmu membuatku untuk memaknai hidup. Seakan kau berpesan padaku, “Hidup ini singkat, jadi tolong menolonglah dengan sesamamu”.
***
            Suatu hari kau mengetahui bahwa aku sedang sakit, dan saat itu kau hadir. Aku tidak sedikitpun menceritakan apa yang terjadi denganku. Tapi aku tahu, kau diam-diam menanyakan kabarku pada sahabatmu yang juga adalah teman baikku. Saat itu kau mencoba menghiburku, kau membuatku seperti anak-anak, dan aku tak bisa menahan tawaku. Yah, kau berhasil membuatku tertawa hari itu. Saat itu, aku tidak merasa seperti guru dan ibumu lagi, tapi adikmu.
            Besok harinya, kau masih menayakan kondisiku, dan kukatakan bahwa aku baik-baik saja, tak perlu merisaukan aku. Tapi kau masih saja khawatir. Aku bingung, kenapa kau begitu sangat perhatian padaku. Kupikir, kau terlalu berlebihan. Padahal kau bukan siapa-siapa, tak ada hubungan darah, kita hanya saudara seaqidah. Dan jujur saja, aku tak ingin kau anggap lemah. Aku sehat, kuat, sama sepertimu.
            Belakangan ini, aku baru tahu kalau prestasimu sangat luar biasa. Maaf, selama ini aku tidak tahu tentangmu. Kupikir, aku hanya bertugas menjawab pertanyaan-pertanyaanmu seputar agama dan aku tak perlu tahu siapa kau. Saat itu kurasakan bahwa kita bagaikan langit dan bumi. Kau langitnya dan aku buminya. Langit, karena bagiku kau sangat tinggi. Sudah kuduga, di balik pertanyaan-pertanyaanmu, sesungguhnya kau sudah faham dengan apa yang kau tanyakan padaku. Apakah kau hanya mengujiku, wahai saudaraku?
            Sudah berapa lama kita berteman dan sudah kuketahui sedikit banyaknya tentang dirimu, namun kau masih saja melempar pertanyaan- pertanyaan itu padaku. Suatu ketika aku mengatakan bahwa ilmuku tidak seberapa, jadi tanyakan saja pada orang yang lebih berkafa’ah, ustadz misalnya. Aku hanya seorang yang masih baru belajar. Tentu pandanganmu akan lebih luas jika bertanya pada mereka yang sudah luar biasa. Tapi hari itu, kau katakan tidak. Jawabanku juga sudah bagus, dan kau tak perlu lagi menanyakan pada yang lain. Kau bilang jawabanku tulus dan sepenuh hati, sedang mereka tidak. Aku hanya bisa menghela napas saat kau katakan begitu.
***
Hari itu tak tahu angin apa yang membawaku untuk bertanya padamu. Aku bertanya, “Bagaimana manajemen waktumu, berapa jam kau tidur dalam sehari, apa saja aktivitasmu, dan bagaimana rasanya menjadi mahasiswa yang cerdas?” . Kau hanya tertawa. Aku menjadi semakin bingung. Aku pun bertanya dalam hati, “Apakah pertanyaanku begitu konyol?” Aku masih menunggu jawabanmu, tapi tak kunjung datang. Aku pasrah, mungkin saat itu kau belum ingin menjawabnya.
Semakin lama aku merasa kau terlalu baik padaku. Aku cemburu padamu. Prestasimu begitu banyak. Di mana ada lomba, kau selalu menang. Luar biasa. Aku tak mengerti kenapa kau mau berteman denganku. Harusnya kau berteman dengan orang-orang sepertimu saja. Walaupun tahu, aku tak ada apa-apanya, namun kau tetap saja menganggapku luar biasa. Kau tak pernah memandangku remeh. Kau bahkan selalu memotivasiku agar mencintai hidup yang kulalui. Kau bilang ada rencana indah Allah dibalik semuanya. Hidup ini singkat, maka pergunakanlah sebaik-baiknya.
Kesibukanmu mengejar impian semakin lama menghilangkan lemparan pertanyaanmu padaku. Aku juga memakluminya. Bahkan sesungguhnya aku senang karena kupikir kau telah mendapatkan teman yang sesungguhnya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan cerdasmu itu. Beberapa bulan tidak mengetahui kondisimu, tapi aku tak tahu apakah kau tahu bagaimana kondisku. Kuharap, kau baik-baik saja dengan duniamu.
Sore itu, aku tak tahu kenapa ingin menyapamu sekedar menanyakan kabar. Astahgfirullah, aku sungguh terkejut. Ternyata kau sedang sakit. Leukimia?! Maaf, aku tak bisa menemuimu, hanya bisa mendo’akanmu dari kejauhan. Aku juga tak bisa menghiburmu seperti kau menghiburku di saat aku sakit. Dan aku lebih terkejut lagi ketika besok harinya kuketahui bahwa kau sedang koma di rumah sakit. Lagi-lagi, hanya do’a yang bisa kukirimkan untukmu, saudaraku.
***
Aku menemui di rumah sakit, aku tak tahu apakah kau mendengar suaraku saat itu. Aku mengajakmu berbicara, menanyakan kenapa kau begitu luar biasa. Hei, aku ingin kau menjawab pertanyaanku yang lalu. Ayo, cepat sembuh. Apakah aku harus menunggu hujan datang dan  kau membuat puisi saat itu? Tidak kan? Ayo bangun! Bukankah kau masih ingin merajut impian-impaianmu? Ya Rabbi…
***
Kenapa aku masih saja tidak percaya kalau kau sudah pergi? Tidakkah terlalu cepat? Aku akan merindukan pertanyaan-pertanyaanmu itu, saudaraku. Sekarang, tidak ada lagi yang akan bertanya seperti pertanyaanmu yang kadang membuatku kesal. Baru kusadari, ternyata kau menayakan semua itu untuk persiapanmu menuju-Nya..  Kau ditakdirkan untuk pergi dahulu. Allah lebih menyayangimu. Semoga engkau tenang di sana, saudaraku. Semoga Allah mempertemukan kita semua di dalam jannah-Nya.
#Anak non fiksi belajar menulis fiksi :D
Jum'at penuh berkah di Medan (juang)

11 comments:

Catatan si Riki said...

kayaknya ini semi-fiksi deh kak..
kayak ada kisah nyatanya gitu kak ")

Nima Hyandsome said...

Berkunjung....

Rakyan Widhowati Tanjung said...

pertama kali saya kira beneran, ternyata fiksi. tapi fiksi yang hidup :')
salam kenal :)

destur purnama jati said...

great, barokallaahu fyk

nina sofhia said...

pas ngebacanya dari atas nina nanya trus siapa orang yg begitu luar biasa itu, pengen langsung hubungi kakk buat nanya krn kisah buat nina sempat nangis kk,:)

eh ternyata fiksi,
Fiksi yang nyata dalam setiap certa nya ^^

kaze kate said...

berkunjung dan semoga ada kunjungan balik sembari meninggalkan jejak secara sering dan seringan :D hahai. afwan oot

Sri Efriyanti Az-zahra Harahap said...

Riki:
Cerpen itu masuk ke dalam kategori fiksi lagi Ki...
Sekalipun ada dalam kehidupan nyata, namun ini fiksi ^_^

Nima:
Terima kasih atas kunjungannya Nima ^_^

Mbak Rakyan:
Terima kasih kunjungannya mbak ^^
Salam ukhuwah, salam kenal ^_^

Mbak Destur:
Wa fiiki barakallah...

Nina:
Eh, YM kakak kan sejatinya offline. Hanya karena disambungkan ke mobile, jadi seakan on terus :)
Afwan yah, lagi sibuk tugas akhir nih. Mohon dimaklumi ya ^_^

Jika gundah, melingkarlah dalam basmalah (mentoring)

Mas Kaze:
^_^

Arya Poetra said...

Mirip dengan kisah "sahabat langit" ku ya.. ;)

Irma Devi Santika said...

Senang rasanya bisa membaca hasil tulisan fiksi Zahra :)
Meskipun fiksi tapi rasanya seperti ada segurat kisah nyata di sana. Sedih bacanya. Entah, so' tau ya :D
Ini benar-benar tulisan yang bermakna, sungguh saya suka kisahnya. Hidup yang indah itu memang hidup yang saling (dalam hal positif apapun).
Ku tunggu Zahra di bumi priangan ;)

Sri Efriyanti Az-zahra Harahap said...

Ary:
Iya, mirip Ry :)
Semoga sahabat langit kita mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya.
Aamiin

Kak Irma:
Senang juga rasanya tulisan Zahra dibaca oleh kak Irma :)
Oke kak, tunggu kedatangan Zahra di bumi Priangan ya ^_^
#sambil ngelirik tugas akhir yang belum kelar

Kopi Susu said...

isinya keren kaya paradoks hati ya
:D wah

bagus2 tingkatkan nak