Friday, 7 September 2012

Kenapa Harus Kesal?


Hei, apa sih yang kau cari di dunia ini? Surga ‘kan?
Jadi, kenapa kau selalu kecewa dengan tingkah laku teman-temanmu yang tidak kau harapkan?
Kenapa kau kesal melihat kamar temanmu berantakan? Kenapa harus cemberut ketika kau diejek? Kenapa harus marah ketika temanmu lupa akan janjinya padamu?
Nah, jalan menuju surga itu lantas seperti apa?

Hei sadarlah…
Jika ada orang yang membangkitkan rasa kesal dan amarahmu, maka hal itu sebenarnya adalah peluang mendapatkan rasa cinta tertinggi dari Allah. Katanya, kau ingin menjadi da’i. Nah, ini kesempatan buatmu. Renungi makna dari setiap yang kau lalui. Kesal tidak akan mengubah duniamu.

Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hari ini adalah masa lalu kita di hari esok.
Pada akhirnya, semua akan berlalu.
Bersemangatlah! Nikmati semua prosesnya.




15 comments:

CLk7 said...

weew..berasa ditegur beneran :(

makasih ya dik..sy jadi diingatkan kembali kenapa ada di 'jalan' ini

MOhamad Rivai said...

wah.
jadi gimana gitu

tapo kan nggak harus mijir akhirat mulu.

dunia kan musti di urus juga

Catatan si Riki said...

semangat...semangat...Jalan kita masih panjang kak :)

Anak Rantau said...

Hemmm... jadi semangat nih habis mampir dimari.

Thanks ya :)

Rima Aulia said...

kesal, marah, sedih dan perasaan negatif lainnya itu fitrah manusia. Da'i juga manusia yang pasti punya semua rasa itu, namun bedanya adalah bagaimana seorang da'i dalam me-manage dan bijak mengatasi semua rasa itu... ^_^

Arya Poetra said...

Proses.
Sebegitu menyenangkannya dari hasil.
Sebentuk hasil, terkadang hanya menghasilkan seonggok senyum, yang kadang mengantar pada ego. Proses, di sana ada cerita. Pembelajaran. Peluh. Tangis. Tawa. Memberi.

Santi Santika Wahyuni said...

yups, nikmatilah semua prosesnya :'D
segalanya bisa menjadi ladang pahala juga jembatan masuk surga, tergantung niat dan bagaimana cara kita melaluinya.
:)

Buku Dakwah said...

subhanallah.. benar sekali, apa yang kita dapat di dunia ini tidak ada yang sempurna, hanya Allah pemilik segalanya. ketika memang tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka tugas kita bertawakal.
"Faidzaa 'azzamta, fatawakkal 'alallah" QS.3:159

Sri Efriyanti Az-zahra Harahap said...

Kak Cahya a.k.a kak Yuni:
Hehe...
Sama2 ya kak.
Sebenarnya penulis sedang menegur dirinya sendiri :D
Jika pembaca merasa ditegur, semoga menjadi perubahan yang lebih baik lagi ya kak ^^

Mas Rivai:
Iya mas ^^
Tawazun = seimbang aja :)
Terima kasih sudah berkunjung ke rumah maya saya

Riki:
Yup, hamasah!

Anak Rantau:
Semoga semangatnya konsisten :D
Terima kasih kembali ^^

Kak Rima:
Syukron atas tambahannya kak ^^
Semangat memanage :)

Ary:
Speechles :)
Sepertinya Ary mengambil kesimpulan :D

Ukhti Santi:
Na'am, jazakillah ukhti ^^

Buku Dakwah:
Kesimpulan,
TAWAKKAL
Keep hamasah and istiqomah!^_^


Arya Poetra said...

Bukan.. membagi kesimpulan.. :)
Nah, sekarang, bayar berapa? :D

Arya Poetra said...

Bukan.. membagi kesimpulan.. :)
Nah, sekarang, bayar berapa? :D

kaze kate said...

salaam kenal kakak :)

makasih ya postinganya..... like

Accilong said...

sepakat dah ma arya. hidup, sejatinya adalah proses.

outbound Malang said...

salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
jujur dalam segala hal tidak akan mengubah duniamu menjadi buruk ,.
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

Sri Efriyanti Az-zahra Harahap said...

Ary:
Bayar berapa yak?
Kayaknya kesimpulan dari arsitek hebat harus dibayar mahal nih:D

Acci:
Hu'um :)
Makasih Acci ^^

OM:
Iya, saya yakin dengan itu ^^
Insya Allah akan segera meluncur ke sana