Monday, 23 January 2012

Proses Pengolahan Tahu

Pengolahan tahu dilakukan melalui beberapa proses tahapan. Dimana pada setiap tahapan proses, perlu diperhatikan kondisi dan keadaan dari kacang kedelai yang akan diolah tersebut. Berikut merupakan tahapan-tahapan proses pengolahan tahu  yang dilakukan dari mulai proses awal hingga akhir.
1.    Penyimpanan dan Penggudangan
2.    Proses Penimbangan
3.    Proses Pencucian dan Penyortiran
4.    Proses Perendaman
5.    Proses Penghancuran
6.    Proses Pemasakan
7.    Proses Penyaringan dan Pengadukan
8.    Proses Penambahan Air Asam
9.    Proses Pencetakan
10.  Proses Pemotongan
11.  Pemasaran 

Penyimpanan dan Penggudangan
Proses penyimpanan dan penggudangan kacang kedelai dipabrik dalam bentuk karung yang mana setiap satu karung mempunyai berat + 50 kg. Dan proses penyimpanan karung-karung tersebut dilakukan didalam sebuah kamar gudang berukuran 3 x 4 m, selama proses penyimpanan kacang kedelai tersebut memiliki kadar air sebesar 14%. Adapun kedelai yang digunakan adalah merupakan kedelai jenis lokal dan impor yang diperoleh dari distributor di sekitar pabrik.

Proses Penimbangan
Proses penimbangan kacang kedelai dilakukan dengan cara yang sederhana, yakni dengan menggunakan tong yang dimodifikasi. Adapun beberapa jenis tong yang dimodifikasi tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Tong I  : untuk pembuatan tahu tipis (kecil) dengan ukuran 4 kg
2.      Tong II : untuk pembuatan tahu standar dengan ukuran 8 kg
3.      Tong III : untuk pembuatan tahu balok (besar) dengan ukuran 10 kg
Selain itu ada beberapa kriteria mutu di dalam sortasi apabila dijumpai dalam proses ini, yaitu : (a) Kotoran, yang berupa sampah, tanah, pasir, dll (b)Kacang kedelai kering, yaitu kacang yang mengambang ketika proses pencucian (c) Kacang kedelai busuk.

Proses Pencucian dan Penyortiran
Proses pencucian dan penyortiran dilakukan secara manual, yaitu dengan menggunakan tong yang diisi air berulang kali hingga kotoran, ampas maupun kedelai busuk terpisah dan dibuang sebelum kacang kedelai direndam. Proses ini dilakukan oleh satu orang pekerja sekaligus bertugas dalam proses penyortiran.
Proses penyortiran dilakukan dengan menggunakan tirisan plastik selama proses pencucian berlangsung. Kemudian sampah yang dihasilkan dari proses pencucian dan sortasi ini dipisahkan. Hasil sortasi berupa kedelai busuk ataupun kedelai kering dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Proses Perendaman
Setelah pencucian dan penyortiran, kacang kedelai direndam dalam tong dengan menggunakan air bersih dan dilakukan selama + 2 jam. Hasil dari perendaman ini, kacang kedelai mengembang dan sedikit lunak dan siap untuk digiling (proses penghancuran).

Proses Penghancuran
Proses penghancuran atau penggilingan kacang kedelai yang telah direndam dilakukan oleh mesin penggiling dan penggerak generator dengan menggunakan energy listrik. Selama proses penggilingan, kedelai yang akan digiling ditambahkan air sebanyak 1 liter untuk mempermudah proses pengahancuran sehingga diperoleh bubur kedelai yang baik.
Kapasitas mesin penghancur adalah sebanyak 500 kg untuk satu kali penggilingan. Hasil dari penghancuran kacang kedelai selanjutnya akn digunakan untuk proses pembuatan tahu dengan criteria sebagai berikut:
Satu tong berisi bubur kedelai penuh digunakan untuk membuat tahu balok (besar) sebanyak 1 papan.
Dua tong berisi bubur kedelai tidak penuh digunakan untuk membuat tahu standar (sedang) sebanyak satu papan.

Proses Pemasakan
Bubur kedelai hasil penggilingan yang berada di dalam tong lalu dimasak dengan menggunakan uap dengan suhu 100o C selama 5-10 menit. Besarnya pemanasan harus tetap stabil agar pemasakannya merata. Dan selama proses pemasakan sesekali diaduk-aduk agar tidak timbul busa. Dan apabila terdapat busa pada saat pemasakan maka busa tersebut dibuang sedikit demi sedikit.

Proses Penyaringan dan Pengadukan
Bubur kedelai yang sudah dimasak kemudian disaring dengan menggunakan kain saring yang digantung dan selama penyaringan, kain saring digoyang-goyang sehingga diperoleh filtrat atau santan tahu. Ampas dari bubur kedelai kemudian digunakan sekali lagi dalam proses penyaringan dan setelah itu ampas tahu dipisahkan untuk digunakan sebagai pakan ternak.

Proses Penambahan Air Asam
Proses penambahan air asam dilakuakan bersamaan dengan proses penyaringan sebanyak 3-5 liter (3 ember kecil). Penambahan air asam ini bertujuan untuk menggumpalkan filtrat (santan) tahu sehingga akan mempermudah proses pembentukan dan pencetakan tahu. Air asam ini memiliki pH sebesar 4 dan air asam ini diperoleh dari hasil endapan filtrat tahu yang disaring sebelumnya.

Proses Pencetakan
Pencetakan dilakukan diatas papan kayu yang berbeda ukuran sesuai dengan jenis tahu yang diinginkan. Hal ini dilakukan dengan cara menuangkan air tahu yang telah ditambahi air asam kedalam cetakan. Kemudian dilakukan pengepresan dengan menggunakan penutup kayu yang ditambahkan beban berupa batu diatasnya. Adapun pencetakan yang dilakukan terdiri atas beberapa lapisan, yaitu:
  1. Lapisan I (dasar) berupa papan kayu
  2. Lapisan II berupa kain saring
  3. Lapisan III berupa adonan tahu
  4. Lapisan IV berupa kain saring
Proses Pemotongan
Proses pemotongan dilakukan dengan menggunakan penggaris yang terbuat dari kayu dan sebuah pisau. Adapun hasil potongan dibedakan, terdiri atas tahu tipis (kecil) dan tahu standar (sedang).
1.      Tahu tipis (kecil)               : 1 papan terdiri dari 360 potong tahu
2.      Tahu standar (sedang)       : 1 papan terdiri dari 352-380 potong tahu

Pemasaran
Pemasaran dilakukan di daerah sekitar Medan seperti Marelan, Martubung, Gelugur, Hamparan Perak dan sekitarnya. Adapun sistem pemasaran yaitu menggunakan sistem bongkar pasang dan sistem pesan. Sistem bongkar pasang yaitu system dimana tahu yang dipesan sebelumnya dan terjual habis kemudian dibayar. Sedangkan sisitem pesan pembeli dapat datang langsung ke tempat proses pembuatan tahu sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan.  
(BAB 4 Laporan PKL  Sri Efriyanti Harahap, Shahila Putri Ridhyanty, Andi Wijaya, dan Dodi Pratama)
















No comments: