Friday, 18 November 2011

Allva "Malingers" Arindya



Agustus 2008 
Hari itu kami dikumpulkan oleh senior 2005 di sekret IMTHP yang sekarang menjadi IMITP. Seperti hari-hari sebelumnya, kami harus menampilkan yel-yel hormat senior yang dipimpin oleh Kajima, pemuda yang sangat kental dengan "Batak"-nya.
Horas tulang…
Horas amanguda..
Ulek ulek ahhh…
Ulek-ulek ahhh..
Semoga cepat wisuda, cepat dapat kerja, cepat dapat jodoh, dan sukses selalu..
(Hahaha..aku paling malas memperagakan yel-yel ini).
Dan tak ketinggalan juga, kami harus membacakan sebuah undang-undang yang sampai sekarang tak bisa kulupakan. Isinya:
 
Undang-Undang Senior

Pasal 1: Senior tidak pernah salah
Pasal 2: Jika senior salah kembali ke pasal 1

Tiba-tiba ada yang bisik-bisik tetangga di sebelahku,
A: Itu undang-undang siapa yang buat ya?
B: Senior lah…, masak junior
A: Orangnya yang mana?
B: Udah ah, gak penting. Yang jelas senior.
     Udah, jangan berisik. Kita udah diliatin tuh sama senior.
Hahaha..Dulu nyeremin, sekarang jadi lucu kalau ingat masa-masa itu.
***
Hari itu senior  menyuruh kami untuk saling mengenal sesama angkatan 2008. Semuanya sibuk menanyakan nama dan menyebutkan namanya, termasuk aku. Saat itu  mataku tertuju pada seorang pemuda berkaca mata, tingginya kira-kira 165 cm, berbadan subur dan botak (maklum, masih mahasiswa baru FP). Sepertinya pemuda ini sangat pendiam dan cerdas, aku jadi segan untuk menanyakan namanya. Karena tuntutan dari senior, terpaksa aku harus berani menanyakan namanya, kalau tidak bisa gawat nasibku. Bagaimana kalau senior tiba-tiba menanyakan padaku, “Dek, kau tau siapa namanya?” Tentu aku akan kena marah jika tidak tahu. Akhirnya kuberanikan untuk menanyakan namanya.
“Namanya siapa?”
“Allva”
Kayak nama cewek  (dalam hati). Tanpa ditanya lalu kusebutkan namaku.
“Yanti”
Sepertinya ia pemuda yang sangat serius, tak banyak bicara. Aku jadi semakin segan.

***
Di Laboratorium Mikrobiologi Umum
Aku dan Allva ada di grup yang sama, kalau tidak salah grup 4.  Yang paling kuingat, grup 4 ini punya buku tulis, buku quiz, dan buku gambar merah yang mengkilat. Ternyata selama ini aku sudah salah menduga. Allva tak sedikitpun pendiam, serius, ataupun menyeramkan. Benar kata pepatah yang mengatakan, “jangan melihat orang dari luarnya saja”.
Hari itu, masih di lab mikro. Ia dengan penuh semangatnya menceritakan kisah inagurasi. Yang ikut inagurasi ikut menambah-nambahi ceritanya dan yang tidak ikut hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Semuanya terungkap di sana, termasuk kondisinya yang tidak banyak mengikuti rangkaian acara inagurasi. Aku hanya mendengar ceritanya dan sesekali tertawa bersama mereka. Mungkin karena aku hanya diam, Allva pun menguak kasusku di inagurasi.

“Sri..sri..gimana yel-yelnya yg sama Joncer?” dengan nada mengejek.
Ia memanggilku “Sri”, walau di awal perkenalan aku mengenalkan namaku dengan “Yanti”.
“Haha.., parah ah..Udah lah…”
“Mana kualinya?”
“Haha…Nano-nano. Kalau mau ditampilin lagi, gak lengkap ni personilnya”

Hal yang paling membuatku malu di inagurasi adalah hal yang disebutkan Allva tadi. Memperagakan yel-yel naon-nano di hadapan senior bersama 8 orang teman yang lainnya. Aku saat itu berada di posisi depan, Joncer ada di sebelah megang kuali dan Meida megang sutil.

Di Ruang Kuliah       
Aku dan Shahila selalu mengambil tempat duduk terdepan setiap kuliah. Hari itu Allva ada di belakang kami. Sepuluh menit pertama, suasana masih tenang. Sepuluh menit kedua, sepertinya ada yang mencoba mengusik kami. Sepuluh menit ketiga, jangan ditanya lagi, aku sudah tidak bisa konsentrasi dengan penjelasan dosen di depan. Kenapa? Ada Allva yang asik melucu. Aku pun tertawa sambil mendengar penjelasan dosen di depan. Lama kelamaan semakin lucu. Aku takut, dosen yang di depan merasa tersinggung melihat tingkah anehku yang senyum-seyum sambil menahan tawa.
Akhirnya kuucapkan pada Allva, “Eh, nanti aja. Belajar dulu”. Dia malah membalas dengan hal yang lucu lagi. Aduuuh, aku nggak tahan ada di posisi ini. Kalau tertawa terus, kapan fokusnya sama mata kuliah di depan. Shahila akhirnya berkata, “Besok nggak mau di dekat Allva lagi lah…Asik melucu aja dia”

“ The Malingers”
Allva punya sebuah keluarga bernama The Malinger. Sekilas memang terasa aneh, kenapa harus Malingers? Kenapa tidak Curiers saja? Tapi apapun itu, tak jadi masalah jika mereka memantapkan kemalingannya, seperti maling ilmu. Kalau maling hati gimana ya? ^_^
Perjalanan eksisnya The malingers hanya beberapa saat, tak sempat setahun. Sebab, salah satu dari personil Malingers ada yang hijrah ke pulau seberang. Tapi sepertinya Allva tak hanya berekspresi sampai di situ, ia pun membuat sebuah keluarga baru bernama AllDod (Allva-Dody). Alldod masih eksis sampai sekarang.

 Allva Arindya
Sekilas memang seperti nama perempuan, kan? (Hayyo, jujur aja ^_^). Suatu hari pernah kutanyakan, “Allva itu artinya apa?” Allva dengan bangganya mengatakan, “Allva itu singkatan dari Allium Sativa”. Hmmm, ternyata orang tuanya orang Pertanian juga, simpulku dalam hati.

Hari ini
Allva tetaplah Allva, yang mengekspesikan diri dengan kulucuannya. Tapi jangan coba-coba mendekatinya di saat sakit, karena kamu akan menemukan Allva yang lain dalam dirinya. Allva itu partner in crimenya Cai, sohib kentalku. Kalau mereka udah ngumpul, bisa-bisa perut kamu sakit akibat tawa yang berkepanjangan. Kalau ditambah Dody dan Sri Ketaren (tetangga sebelah kamar), hmmm…aku tak tahu apakah masih bisa tertawa atau menangis saking lucunya. Waspadalah jika Allva, Dody, Cai dan Sri bergabung ^_^
ITP-ku terasa indah berada di antara mereka…

14 comments:

R_zhalyana said...

indahnya ikhuwahh..
lucu,,
geli kakk bacanyaa...
seeppp deh

Sri Efriyanti az Zahra Harahap said...

Hehe..
Mereka membuat Yanti ingin berlama-lama di kampus, kak.
Sekarang ada 5 sekawan
Aldod plus Triple S

Tika Indriyani Az-zahra said...

baru baca story ini,...:))
awal persahabatan yg unique,..;-D

Sri Efriyanti az-Zahra Harahap said...

Makasih Tika, udah singgah di rumah maya saya :)
Iya, itulah kisahnya..
Agak2 aneh gitu emanng :P

Tika Indriyani Az-zahra said...

haha,..ceritanya menghibur,..lucu,..lucu,..
i like it,..:D

Sri Efriyanti az-Zahra Harahap said...

Sebenarnya sih Allva-nya yg lucu TIk..
Ya, hasilnya begini lah kalo diceritain :D

Tika Indriyani Az-zahra said...

hehe,..
si Allva nya tau gag yanti?

Sri Efriyanti az-Zahra Harahap said...

Udah lama Tik :)
Gak berapa lama setelah tulisan ini diposting, udah disebarin di facebook..
Katanya Yanti ngefans banget sama dia
:D
Ada2 aja tuh Allva :P

Tika Indriyani Az-zahra said...

haha,..kocak bgt si allva,..:-D
beruntung ya yanti pny temen kyk allva,..walau terkadang sedikit bikin kesal,..;))

Sri Efriyanti az-Zahra Harahap said...

Iya Tik, alhamdulillah bisa bertemu dengan Allva. Walau begitu, dia sangat menginspirasi loh Tik :D

Anonymous said...

hwakakakakakakak . . . . . .

semua fans saia berkumpul, begitu senangnya rasa hati ini, andaikan saia presiden sudah saia angkat kamu menjadi juru tulis saia wahai sri/yanti/zahra,ibu kos, hehe . . . .

kamu sangat menginspirasi wahai anak muda . . . . .

Sri Efriyanti az-Zahra Harahap said...

Wew..
Presiden apa nih Va?
Presiden nge-geje?
Haha...
#Peace ^_^
Yup, jangan lupakan saya ya kalo udah jadi presiden:)

Autis Menawan (Ayu M) said...

Yan, allva ini kalo gak salah temen smanya prie anugrah fisip lah..

Sri Efriyanti Az-zahra Harahap said...

Iya Yuk, temennya Prie ^_^
Satu SMA, SMA 1 Tebing Tinggi